Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Gagal Lagi


__ADS_3

Pagi hari.


Divine baru saja tertidur. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini bahkan terus saja terbangun. Sementara Gio sudah terbangun namun hanya berdiam mengangkat kedua kakinya ke atas yang ia pegang dengan tangannya. Disaat bersamaan Gara keluar dari ruang pakaian telah rapi siap untuk berangkat kerja.


“Kamu sudah bangun?” ucap Gara melihat baby Gio bermain dengan kakinya. Sementara terlihat Divine masih tertidur lelap.


“Ayah akan bekerja, kau bermain dengan ibu saja.” Tambah Gara lagi.


Baby Gio melirik kearah ibunya. Mungkin maksud Gio adalah ibunya masih tidur.


“Bukan ibu mu, tapi ibu ku.” Gara mendekat pada baby Gio hendak menggendongnya. Tapi baby Gio menolak dengan berguling menjauhi Gara.


“Kau tidak mau aku menggendong mu, apa kau bisa berjalan sendiri.” tutur Gara. Putranya semankin menjadi saja.


Baby Gio pun melihat kearah ecobag yang berada diatas nakas. Ecobag yang kemarin ayahnya bawa untuk membeli pembalut dan coklat.


Gara mengeraskan rahangnya. Namun ia menuruti permintaan putranya itu. Untuk membawanya dengan ecobag. Setelah memposisikan ecobag di atas tempat tidur. Gara mengangkat baby gio dengan kedua tangannya lalu ia masukkan ke dalam ecobag yang ukurannya tidak terlalu besar hingga bisa menopang tubuh baby Gio.


“Kalau ibu mu, melihat ini. Pasti akan menunduh ayah yang telah menganiaya mu.” tutur Gara pada baby Gio yang ia jinjing keluar kamar.


Di meja makan sudah duduk ayah Brav dan ibu Sora.  Mereka berdiri melihat Gara berjalan kearah mereka. Gara meletakkan baby Gio ke dalam box ayun terlebih dulu sebelum duduk di meja makan.


Semnetara Ayah dan ibu Gara tercengang. Tangan ibu soraya menutup meulutnya saat menyadari yang Gara letakkan adalah Gio sang cucu.


“Apa yang kau lakukan Gara? dia itu anak mu.” cakap ibu Soraya dengan wajah cemas. Rupanya hubungan ayah dan anak ini tidak baik. Soraya tersenyum dengan satu ujung bibirnya yang terangkat ke atas.


Sedangkan ayah Brav sedang memperhatikan gerak gerik sang istri. Mungkin ayah Brav tahu apa yang sedang istrinya itu pikirkan.


“Oh sayang cucu Oma, papa menaruh mu di dalam ecobag ya?” Soraya menghampiri Gio di dalam box ayun dan langsung mengangkat ke depan wajahnya.


“Kau sarapan saja, ibu akan bermain dengan Gio.” ucap ibu Soraya  lagi ke pada Gara dan mengangguk kepada  ayah Brav suaminya yang berarti meminta suaminya itu untuk sarapan bersama Gara tidak perlu menunggunya.


Ibu Soraya mengajak baby Gio berjalan-jalan dengan menggendongnya. Padahal ia merasa pegal karena berat


tubuh Gio yang lumayan di banding bayi-bayi seusianya.


 


Tak lama. Divine pun tiba karena terkejut saat terbangun Gio tidak ada di sisinya.


“Pagi ayah.” ucap Divine menyapa ayah mertua. Ayah Brav hanya tersenyum pada Divine yang terlihat sangat cantik di pagi hari bahkan walau ia belum mandi.


“Gara, Gio dimana? aku sudah mengngecek


kamarnya.” tanya Divine dengan suara pelan dan senyum manis kepada Gara. Rasanya senang sudah melihat 1 lelaki kesayangannya itu di hari ini. Divine sempat berpikir mungkin Gara membawa Gio ke kamarnya lagi namun ternyata tidak ada.


“Dia sedang bersama ibu, duduk sarapan bersama ku!” ajak Gara.


Ayah Brav mengamati perbincangan pasangan suami istri di depannya yang terlihat harmonis dan Gara yang perhatian kepada istrinya.


“Oh tidak, aku akan menemui Gio terlebih dulu dan mandi.” Divine pamit undur diri meninggalkan Gara dan ayah


Brav.


“Yah, kau lihat sendiri kan. Apa ayah juga seperti ini dulu?”


“Tentu saja.” Jawab ayah Brav yang beranggapan maksud Gara adalah harmonis dan memperhatikan istrinya.


“Ayah baik-baik saja, ayah tidak merasa terganggu?” timpal Gara. Yang ia maksud adalah Divine hanya peduli pada


baby Gio. Sementara dia merasa terabaikan.


“Kenapa harus terganggu, karena memang harusnya seperti itu.” Jawab ayah Brav. Rasanya anak ini bukan pemalu, kenapa harus malu-malu.  Batin ayah Brav.


Gara kelu. Ia tidak tau harus mengucapkan apalagi.


Sementara Divine dan ibu Soraya sedang berjalan di halaman depan.


“Ibu, Gio pasti berbau asam, berikan padaku bu, aku akan memandikkanya terlebih dulu.” pinta Divine.


 


Ibu Soraya pun dengan cepat memberikannya kepada Divine, sudah sejak tadi ia menanti ucapan itu keluar dari mulut menantunya.


Kaget.  Dengan cukup keras dan tiba-tiba Divine menerima baby Gio di pelukannya. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Namun percuma belum saja ia melihat kearah mertuanya. Ibu Soraya sudah terlebih dulu meninggalkannya.


Divine hanya bisa menatap punggung wanita yang merupakan orang tua dari suaminya menjauh dari hadapnnya.


 


“Ah itu ayah.” tutur Divine melihat Gara keluar dari pintu berjalan ke arahnya. Terlihat ayah Brav berjalan di belakang Gara.


"Aku akan makan tepat waktu." ucap Gara kepada Divine. Padahal yang mau ia katakan adalah “Jangan lupakan makan dan tetap istirahat.” mendaratkan kecupan di kening Divine. Ia ingin menahan namun tidak bisa,akhirnya Ia berpikir untuk mencium  pipi Gio.  Tapi Gio meletakkan tangannya di pipi yang akan di cium oleh Gara. Hingga hanya mencium punggung tangan Baby Gio.


 


“Anak ini!” greget Gara. Sementara Divine tersipu melihat ulah Baby Gio. Yang mungkin tidak di sengaja


olehnya. Atau memang ia sengaja melakukan itu. Hanya baby Gio yang mengetahuinya.

__ADS_1


“Oh ya 1 lagi, jangan mandi bersama!” dikte Gara dengan menggerak-gerakan jari telunjuknya ke depan baby Gio.


 


Gio memajukan bibir bawahnya. Mencibir. Mengejek sang ayah.


“Hati-hati di jalan ayah.” ucap Divine dengan memegang tangan baby Gio bersama melambaikan tangan ke arah Gara.


“Apa ayah?” sela ibu Soraya yang kembali ke halaman mengikuti langkah ayah Brav.


Gara yang baru saja hendak masuk ke dalam mobil kembali berbalik pada Divine dan ibu


Soraya.


“Ada apa bu?” tanya Gara penasaran ada apa dengan kata ayah. Otaknya mulai berpikir jauh. Mengira mungkin dia bukan ayah baby Gio.


“Apa tidak ada panggilan lain, itu terdengar sama dengan kami.” jelas ibu Soraya.


Gara menghela napas. Pikirannya sudah melompat terlalu jauh.


“Apa ibu ada rekomendasi, Divi tidak cukup tau.” Divine meminta pendapat Ibu mertuanya. Kalau tentang menghargai orang lain Divine pakarnya.


“Bagaimana dengan Papa dan Mama?” tutur ibu Soraya melihat ke semua orang yang berada di sana dengan senyum lebar tanpa terlihat gigi sedikit mengangguk samar.


“Wah itu terdengar sangat bagus, bagaimana menurut mu sayang?” Divine beralih bertanya pada suaminya.


Gara mengganguk-mengangguk menunjukkan ia setuju. “ Ya bagus.”


“Kalau begitu kita ulang, cepat pulang Papa.” ucap Divine kembali melambaikan tangan kearah Gara.


Gara dan ayah Brav pun pergi ke Andava grup. Ibu Soraya meminta Gara untuk mengajak ayah Brav ikut dengannya.


Ibu Soraya dan Mama Divine kembali ke dalam rumah.


“Ibu, Divi pamit mandikan Gio dulu.” ucap Divine sebelum meninggalkan ibu mertua.


 


“Ya.” Jawab ibu Soraya singkat. Divine Pun berlalu.


Matahari sudah hampir berada tepat di atas kepala.


“Ya itu, dia sudah tidak berguna.” terdengar suara ibu Soraya berbicara di dalam telpon saat Divine menghampirinya untuk mengajak makan siang bersama.


 


Ibu Soraya berdri dan mematikan telponnya.  Berjalan kearah Divine. “Oh tidak mengapa, ibu hanya sedang mengobrol dengan teman ibu.” Soraya menutup pintu kamarnya dari luar.


“Ayo makan siang bu, Ayah dan Gara tidak makan siang di rumah,  ada meeting yang sekalian makan siang  bersama.” Divine berjalan pelan sembari menjelaskan kepada ibu mertuanya.


“Oh benarkah? Jadi ayah Brav juga ikut meeting.”  seketika mata Soraya berbinar mendengar ucapan Divine. Tak ku sangka bisa secepat ini.  Bisiknya dalam hati.


Divine tak menanggapi lagi, ia tidak tahu lebih jelasnya. Jika ku katakan tidak, apa ibu akan kecewa. Batin Divine yang menyadari ibu mertuanya sangat senang mendengar ucapannya tadi. Menurut Divine ayah mertuanya pasti tidak ikut. Ia tidak memiliki sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan Gara.


Sepanjang hari Soraya terlihat sangat Bahagia. Bahkan ia mengajak Divine karaoke bersama di ruang keluarga 1. Namun divine menolak karena ia ingin bermain dengan baby Gio yang sekarang hanya 2 kali tidur saat siang hari. Akhirnya Soraya pun karaoke sendiri tanpa segan.


 Rona senja sudah hampir tidak terlihat. Mobil hitam mengkilap baru saja berhenti di halaman.


“Selamat sore tuan.” ucap pak Ann menyambut kedatangan Gara Bersama Ben dan juga ayah Brav.


Gara menggangguk. Ben dengan ramah menjawab ucapan pak Ann "Sore Pak."


“Divine dimana Pak Ann?” kata tanya yang selalu terdengar saat Gara tiba di rumah sejak istrinya tidak ikut ke kantor lagi.


“Ada Tuan di kamarnya.” jawaban yang paling sering Gara dengar. Pernah suatu ketika Gara kembali dan pak Ann menjawab Divine sedang keluar Bersama Nona Viona. Gara bukannya masuk ia malah kembali keluar dengan merogoh kantong jasnya tak lama terlihat ponselnya sudah menempel di telinga sebelum masuk ke dalam mobil. 15 menit kemudian pun Gara dan Divine sudah berada di rumah lagi.


Gara masuk ke dalam kamar. Divine baru saja hendak mengeringkan rambut.


“Kau pasti sangat merindukan ku.” Gara memeluk Divine yang sedang duduk di meja riasnya.


Rasanya Divine ingin terbahak-terbahak mendengar kalimat Gara. Namun ia menahannya.


Mungkin Itu termasuk typo bicara. Harusnya kata yang di depan adalah aku dan kata terakhir adalah kamu.


 


“Ya kamu sangat merindukan ku.” sahut Divine menempelkan wajah di tangan Gara yang melingkar di lehernya.


Gara tak sadar dengan ucapan Divine. Ibu satu anak ini mengalihkan fokus Gara dengan gerakannya.


 


“Kenapa tidak menelpon jika sangat merindukan ku?” Gara meraih hairdryer Divine. Membantu Divine mengeringkan rambutnya.


“Ahh itu, ponsel ku tak tahu dimana tadi Gio melemparnya saat kau menelpon.” ujar Divine mengingat kejadian sore tadi saat Gara menelpon untuk ke-empat kalinya.


“Hah anak itu, selalu merepotkan, haruskah dia di berikan


ponsel sendiri sayang?” timpal Gara sambil terus mengeringkan rambut Divine. Seketika Gio yang sedang tidur  menimbulkan suara “Aaaommm.”

__ADS_1


mungkin ini sama seperti berdehem orang dewasa saat mereka sedang di bicarakan.


Kedua orang tua Gio pun langsung menoleh secara bersamaan ke sumber suara mengira Baby Gio terbangun. Namun tenyata tidak.


“Sejak kapan anak itu tidur?”


“Oh baru saja, siang tadi ia terus bermain tidak mau tidur.”


“Benarkah, itu artinya dia akan tidur lebih lama.” Gara melepas hairdryer di tangannya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sepertinya ia sedang memikirkan untuk mengganti sprei lebih cepat dari


jadwalnya. Dimana pergantian sprei di lakukan 2 hari sekali.


Divine melihat suaminya yang tiba-tiba bergegas mandi sudah tahu kemana akhirnya nanti. Ia pun mengharapkannya. Sudah sangat lama rasanya mereka tidak bersatu. Ada saja yang terus menghalangi mereka.


Gara pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Sedangkan Divine sudah berbaring menyamping membelakangi Gara. Hingga Divine tidak melihatnya.


Gara bersiap menerkam Divine. Ia pun mengendap-ngendap melangkahkan kakinya matanya tertuju pada leher Divine yang terlihat jelas.


Ssst.. Bibir Gara mendarat di leher Divine dengan mata tertutup.


“Sayang Gio, melihatnya.” Suara Divine pelan. Gara membuka mata tanpa melepas bibirnya dari leher Divine dan mata baby Gio tepat berada di depan matanya sedang menyu** dengan Divine. Mata Gio membulat sempurna mengamati apa yang sedang ayahnya itu lakukan.


 


Menyadari itu Gara langsung menjauh.


“Mengapa dia sudah bangun?” heran Gara.


“Mungkin lapar, karena itu dia langsung syenen."


Frustasi Gara mendengarnya. Lagi-lagi Gio menghalanginya. Mengacak-ngacak rambutnya.


“Bagaimana dengan mematikan lampu sayang?” Gara mulai mencari akal mengelabui baby Gio.


 


“Gio sedang menyu*u, tunggu sebentar lalu titip Gio pada Ben, Eh Ben ada gak?”


Gara mengangguk ia membaringkan tubuhnya di samping Divine. "Kau juga ingin ya?" bisik pelan Gara di telinga Divine. Mengejek. Menunggu baby Gio melepas sumber makanannya.


Waktu berlalu, Gio sudah kenyang dan langsung tengkurap memandangi wajah ibunya lagi. Tak pernah bosan menatap wajah ibunya.


 


“Sayang,  Gio sudah bangun tuh.” Divine memberi tahu Gara yang sedang bermain Game untuk membunuh


kantuknya. Terakhir kali ia sempat gagal karena kesalahannya sendiri. Tertidur saat menunggu baby Gio tidur. Malah dia yang tertidur lebih dulu.


“Kau saja yang berikan pada Ben, dia tidak mau aku menggendongnya.” Intruksi Gara masih sambil bermain game.


Sementara Divine mengerutkan alisnya mendengar ucapan Gara yang terdengar mengada-ngada.


“Darimana kau tahu? Dia tidak mau di gendong oleh mu?” selidik Divine.


 


 


Gara hendak membuka mulutnya, namun ia tidak berani. Takut Divine berbalik marah padanya.


“Tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan ini.” jawab Gara tangannya masih terpaku pada layar ponselnya. Kalau sudah main game susah sekali berhentinya kecuali Divine menggodanya. Dengan cepat gawainya akan terpental ke sembarang arah.


“Maafin Mama dan Papa ya sayang, Papa mu butuh kasih sayang,


mama juga sih, tapi dikit aja ga sebanyak papa.”


Pandangan baby Gio seakan menjawab ucapan Divine “Tapi mama kalau sudah terpancing, gak mau berhenti kan.” begitu kira-kira yang terbaca dimata baby Gio. Atau sebenarnya itu yang mama Divi ungkapkan di dalam hati.


Divine tersipu malu melihat bayi kecilnya. Divine bangun dan menggendong baby Gio. Menoleh ke arah Gara yang ternyata tangannya masih berjibaku pada layar gadget.


Divine membuka pintu, tepat Ibu Soraya berdiri di depan kamar mereka.


“ibu.” Kaget Divine.


“Ayo makan malam bersama.” ajak ibu Soraya, ternyata sudah waktunya makan malam. “Dimana Gara, apa dia tertidur?” Soraya menyilik ke dalam kamar Divine.


“Oh tidak bu, sebentar kami akan turun, terimakasih sudah memanggil kami.” Divine menundukkan kepalanya kepada ibu Soraya dengan tersenyum. Soraya pun berlalu meninggalkan Divine.


 


 


“Dah selesai, ayo Gi…”ucapan Gara terhenti. Celingukan melihat tempat tidur yang hanya ada dirinya.


“Gio disini.” ucap Divine yang baru saja berbalik.


“Oh kemari Gio, Papa antar ke om Ben sebentar ya.” Gara mendekat hendak mengambil Gio dari tangan Divine.


“Ibu sudah memanggil sayang, sebaiknya pakai baju mu dan makan malam  bersama.” Divine keluar meninggalkan Gara yang matanya masih membulat dengan mulut sedikit terbuka. Seakan tidak terima dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


__ADS_2