Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 86


__ADS_3

Gara menelpon Ben saat menunggu gulali yang ia pesan, namun tidak tersambung.


Gara hanya bisa berdamai dengan dirinya, meyakinkan dirinya bahwa Divine benar-benar sedang tidak mengandung hingga ia bisa dengan tenang mengikuti kemauan wanita yang sangat ia sayangi itu.


Gara mulai melangkah setelah mendapatkan gulalinya. Setiap langkahnya berisi khayalan seorang bayi mungil di pikirannya serta rasa kerinduan pada adiknya yang telah tiada saat masih berusia 1hari muncul kembali.


Semakin kuat ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Divine sedang tidak mengandung anaknya semakin kuat juga bayi-bayi itu melintas di pikirannya.


“Cepat sayang, aku akan berteriak melepaskan kegundahan ku saat di atas nanti.” ucap Divine yang sudah tidak sabaran.


“Kau bisa berteriak di pantai atau di tempat lain yang kau inginkan, tapi tidak di roller coaster ini.” ucap Gara yang masih berusaha menghentikan kemauan istrinya itu.


Gara mulai mengumpat kesal, karena Ben tidak dapat ia hubungi.


“Kau bisa tunggu disini, jika kau tak mau menemaniku.” Divine kesal, berharap ucapannya akan membuat Gara mengikuti keinginannya.


Gara tidak bisa menghentikan Divine, ingatan foto USG rahim yang kosong membawa Gara untuk percaya, Divine tidak akan membuatnya kecewa.


Gara benar-benar mengikuti keinginan Divine, walau sangat berat untuk menyetujuinya, akhirnya ia pun setuju dan menemani Divine.


Gara dan Divine pun menaiki roller coaster ntah darimana datangnya pengunjung lain seketika roller coaster itu ramai dan langsung bergerak.


Roller coaster itu mulai bergerak dan melaju kencang dan tidak ada suara yang di keluarkan oleh Divine.


“Kenapa kau diam saja?” ucap Gara berteriak agar Divine mendengarnya.


Namun Divine tetap diam saja, air mata mengalir di pipinya. Mungkin ia menangis karena terpaan angin yang sangat kuat hingga air matanya keluar begitu pikir Gara. Hingga roller coaster itu berhenti Divine tetap diam saja dan keluar dari tempat duduknya.


“Oh Tuan, apa dirinya sedang hamil?” tanya seorang petugas kepada Gara yang membantu Divine keluar dari tempat duduknya.


Terlihat darah segar mengalir di kaki Divine. Gara sangat terkejut hingga tidak dapat berkata-kata. Divine pun mulai kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan yang di tangkap oleh Gara.


Petugas roller coaster pun langsung memangil mobil siaga taman bermain. Seketika Divine pun di larikan ke rumah sakit.


Fisik yang baru saja mengalami perubahan membutuhkan istirahat agar mampu menahan dan membawa sesuatu yang baru saja hadir.


Joging yang baru saja Divine lakukan sudah cukup menguras tenaganya, namun Divine malah membawa tubuhnya untuk melakukan hal ekstrem yang mengguncang jiwa dan raganya hanya karena ingin menghilangkan rasa mual yang sedang ia derita.


Gara masih terdiam, perasaan membara di kepalanya tak mampu ia ungkapkan.


Jangan sampai hal buruk terulang lagi, mungkin aku tak akan bisa menerimanya, berulang kali aku mencoba menghentikan mu namun diri mu begitu keras kepala yang tak mau mendengarkan dan mengerti perasaanku, begitulah yang Gara pikirkan.


Setelah beberapa waktu, seorang Dokter keluar dari ruang IGD, Gara pun segera menghampiri Dokter itu.


“Dokter apa yang terjadi?” tanya Gara seolah ia tidak tahu apa pun.


“Pasien mengalami keguguran.” dengan lembut dokter itu memberi tahu Gara.

__ADS_1


“Tapi bagaimana bisa, sedangkan dia sedang tidak hamil?” Gara mengucapkan hal yang tidak sejalan dengan hatinya.


“Sabar Tuan.” Dokter itu menepuk pundak Gara lalu pergi meninggalkan Gara sendiri.


Terlihat kesedihan begitu dalam di mata Gara, seolah tak ada kata yang berani Dokter itu ucapkan dan memilih sedikit berbicara untuk menghindari amukan yang mungkin saja terjadi.


Tak setetes pun air mata Gara jatuh membasahi pipinya. Ia pergi meninggalkan Divine tanpa melihat dan mengucapkan 1 kata pun kepada Divine.


Divine baru saja tersadar dan melihat sekeliling dengan cepat ia tahu bahwa ia sedang berada di ruang rawat rumah sakit.


“Nona Divine?” ucap suster yang sedang merawat Divine.


“Ya, dimana suamiku?”


“Saya baru saja ingin bertanya itu pada mu?”


“Apa maksud mu, suamiku tidak disini?”


“Ya Nona, saya sudah memanggil beberapa kali, namun tidak ada yang datang.”


Divine mengingat hal apa yang sudah terjadi hingga ia berada di rumah sakit ini.


“Suster, bisa kau beritahu apa yang terjadi padaku?” ucap Divine, kecantikannya mampu menyihir semua mata yang melihatnya.


“Ah Nona kau begitu cantik, tapi dirimu baru saja kehilangan bayi mu.”


“Bayi, apa maksud mu?”


Divine terdiam, bibirnya bergetar. Ia seakan bingung dengan dirinya sendiri, beribu pertanyaan muncul di benaknya.


Di sisi lain, Gara menghempaskan pintu ruangannya saat masuk ke dalam ruang Presdir itu dengan sangat kuat hingga semua orang yang berada di lantai ini bisa mendengarnya.


Ben, Vely, Shena dan juga Jerry seketika keluar dari ruangan mereka berada menghampiri Syasa.


“Suara apa itu?” Ben memastikan pada Syasa namun semua mata sudah melihat ke arah ruang Presdir.


“Ya Boss datang, aku tadi menyapanya, namun dia seperti tak mendengar apalagi melihat ku.” jawab Syasa dengan suara berbisik, tanpa menjelaskan suara apa itu, mereka semua sudah pasti tahu tanpa di jelaskan.


Mereka saling berpandangan tanpa berbicara apapun.


“Kenapa dia tiba-tiba datang, bukannya kata mu, dia akan menghabiskan waktu di rumah saja bersama istrinya?” suara Vely memecah hening di antara mereka bertanya pada Ben.


“Sudah di pastikan, pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan Divine, hanya Divi yang bisa membuatnya seperti itu.” ucap Ben.


Shena tersenyum tipis saat mendengar ucapan Ben. lalu kembali menyembunyikan senyumnya, wajahnya sangat cepat berubah.


“Kalau begitu kau harus cari tau Ben!” ucap Shena.

__ADS_1


“Siapa yang berani menghampiri Boss, saat ia keadaan seperti ini.” jawab Ben dan Jerry menganggukkan kepalanya.


“Kau saja Shen, kau kan adiknya,” ucap Syasa.


“Baiklah, aku akan menemuinya, bareng sama kamu ya Vel?” ucap Shena.


“Ya ya, kalian berdua sangat pas.” ucap Ben. Menurut Ben 2 orang ini adalah orang yang tak mungkin di tendang keluar oleh Boss Andava itu.


“Aku akan mencari tahu dari Divine.” ucap Jerry.


“Aku ikut dengan mu.” jawab Ben.


Mereka pun bubar. Jerry berjalan ke ruangannya.


“Kenapa kau malah kembali?” ucap Ben karena melihat Jerry kembali ke ruangannya”


“Ikut saja kalau mau tau.” jawab Jerry.


Ben pun mengalah dan ikut ke ruangan Jerry.


Terlihat Jerry mengambil sebuah laptop di lacinya, dan meminta Ben menelpon ke rumah Divine, untuk menanyakan kegiatan Boss mereka hari ini.


Setelah mendapatkan informasinya, Jerry mulai memainkan jari di atas laptop yang ia ambil di lacinya.


“Wah-wah kau ternyata juga bisa menjadi hacker?” ucap Ben.


“Sudahlah, ini bukan waktunya mengagumi ku!”


Mereka mulai mengamati cctv pintu masuk taman hiburan, dan mereka melihat Divine dan Gara benar ada di sana lalu mengikuti setiap pergerakan mereka dan melihat Divine pingsan lalu di bawa dengan mobil siaga.


“Ah itu penyebabnya.” jawab Ben.


“Bukan, jika memang itu, Gara pasti tidak akan meninggalkan Divine.”


“Kau benar Jerry, ayo.” ucap Ben.


Jerry dan Ben pergi untuk melihat keadaan Divine dan mencari tau apa yang terjadi.


Ben menyetir mobil ia tahu kemana mobil siaga itu membawa Divine. Sesampainya di rumah sakit, Ben dan Jerry langsung mencari ruangan Divine dan mendapatkan informasi terlebih dahulu dari perawat di sekitar ruangan Divine.


“Dia sudah melarang ku berkali-kali, dia sudah menghentikan ku,”


Divine terus mengucapkan kata itu berulang kali. hingga ia tidak sadar Jerry dan Ben masuk untuk melihat keadaannya. Keadaan Divine sangat tidak baik, rambutnya acak-acakan dan air mata yang terus membasahi pipinya.


“Ben, dia sudah melarang ku.” ucap Divine sambil menangis.


“Jerry, dia sudah menghentikan ku tapi aku,"

__ADS_1


seketika Jerry memeluk sahabatnya itu yang benar-benar dalam kondisi buruk. Tangis


Divine semakin menjadi saat Jerry memeluknya, ia benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi.


__ADS_2