Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Keadaan Soraya


__ADS_3

Divine dan Gio membereskan gudang rumah mereka yang tidak begitu banyak barang di dalamnya. Hanya berupa box pakaian Gio yang sudah tidak bisa ia kenakan dan mainan.


"Ma.." panggil Gio saat Ibunya sedang duduk melihat ke bawah rak penyimpanan. Divine pun menoleh kearah Gio. Dengan cepat Gio memasangkan masker di wajah sang ibu. Divine hanya bisa merekah kan bibirnya di balik masker namun dapat terlihat dari matanya bahwa ia sedang tersenyum menerima perlakuan putranya itu.


"Terimakasih Nak." Divine menggenggam tangan Gio, lalu meraih masker yang ada di tangan Gio untuk ia pasangkan di wajah sang anak.


Gio mengelak, ingin memakai masker itu sendiri. Divine memajukan bibir bawahnya memasang wajah imut tidak sukanya yang membuat Gio tidak bisa melawan dan mengembalikan masker yang tadi sempat ia rebut kepada Divine.  Divine pun memakaikan masker kepada Gio.


"Tunggu disini." ucap Divine lalu meninggalkan Gio sendiri. Gio mendorong tiga box besar keluar dari gudang.


Setelah beberapa saat Divine datang membawa vacuum cleaner. Mereka pun membersihkan gudang dengan Gio memvacuum ruangan terlebih dulu, Divine menyapu. Gio mengepel. Gio menyeka keringatnya yang bercucuran seraya meneguk es teh madu buatan Divine.


"Ma, pergilah mandi dan istirahat." titah Gio melihat ibunya sedang bersandar di kursi.


Divine berdiri untuk menunjukkan ia baik-baik saja. "Mama tidak apa-apa sayang."


Gio menarik ibunya keluar membawanya ke depan kamar mandi. "Mandi dan istirahat, Mama harus dengar kata-kata Gio, Gio ini kepala rumah tangga." tutur Gio. Membuat Divine membatu dan hanya bisa menuruti perintah anaknya itu. Divine pun membersihkan diri dan masuk ke kamarnya meraih gawainya sejenak lalu tertidur.


Gio tetap melanjutkan pekerjaannya. Bocah yang seharusnya bermain dengan teman-teman sebayanya ini hanya menghabiskan waktu bersama sang ibu dan menjadi layaknya seorang pria dewasa yang selalu menyayangi dan melindungi wanitanya.


Tiga puluh menit kemudian Divine terbangun dari tidurnya. " Oh astaga aku sungguh tertidur." Langsung berdiri mengingat anaknya sedang bekerja sendiri.


Gio yang sedang mengecat putih kamarnya langsung merasakan kehadiran sang ibu seketika ia menoleh saat Ibunya tiba. "Mama sudah bangun?" tanya Gio, ia sempat mengecek ibunya saat ibunya tertidur tadi memastikan ibunya benar-benar istirahat.

__ADS_1


"Berikan pada ibu." Divine meminta roller cat di tangan Gio dengan memegang roller cat itu dengan 1 tangannya.


Gio menariknya kembali, melepaskan tangan sang ibu dari roller cat. "Biar Gio saja Ma." tegas agar ibunya tidak memaksanya. Divine menatap mata Gio. "Jika kau sakit, kau tahu akan seperti apa mama mu ini."


"Baiklah kalau begitu, Mama dan aku beristirahat bersama-sama." Gio memutuskan jalan tengah perdebatan diantara mereka.


Gio sungguh mengcopy seluruh yang ada pada ayahnya. Jika Gara disini ia pasti juga akan melakukan hal yang sama dengan Gio. Suamiku apa kau masih mencintaiku?" Buyar lamunan Divine saat kata terakhir keluar dari dalam hatinya.


Teringat ketika Gio dan Divine pergi berjalan-jalan di taman dekat rumah besarnya. Dimana saat itu Divine sedang tertekan karena ibu mertuanya yang terus menciptakan jurang antara Divine dan Gara. Hingga terus-terusan membuat Gara menjadi tak memahami dirinya sendirinya apa yang ia rasakan dan apa yang ia inginkan. Namun ia tetap mencari keberadaan anak dan istrinya saat ia tiba dan tidak menemukan Divine dan Gio berada di rumah.


"Apapun yang terjadi kau tidak boleh pergi dari rumah." Gara mencengkram tangan Divine dan meraih stroller baby Gio dari tangan Divine membawa mereka masuk ke dalam mobil kembali ke rumah.


"Ma...mama..?" suara Gio menyadarkan Divine dari ingatan masalalu mereka.


"Ahh iya Gio, ada apa?" ucap Divine tampak kebingungan. Merasa terlalu lama berada dalam lamunan.


"Mama ada beli apa? tuh sudah datang."  Gio menjelaskan yang sedikit terlambat karena Divine sudah melihatnya sendiri.


"Iya mama sudah lihat." jawab Divine ikut menyusul putranya ke depan rumah. "Tidak perlu seperti itu wajahnya." tambah Divine mengetahui anaknya itu sedang kesal karena melihat mamanya ini termenung lagi.


Gio hanya berdehem. Divine pun menerima barang-barang yang baru saja di turunkan.


"Dimana akan di letakkan Nyonya? Kami akan merakitnya." ucap petugas yang baru saja tiba. Ibu dan anak itupun saling berpandangan sadar bahwa kamarnya belum siap untuk di isi furniture.

__ADS_1


"Tinggal saja pak, nanti akan saya rakit sendiri." sahut Gio tegas. Membuat petugas itupun setuju berpikir mungkin ada ayahnya yang akan membantu mereka. Divine pun mengangguk menyetujui perkataan Gio. Hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini. Setelah memasukan ranjang, meja dan lemari ke dalam rumah petugas itu pun pergi.


"Mama kenapa repot-repot beli ini semua, Gio bisa tidur di lantai." ucap Gio setelah menutup pintu.


Divine yang mendengar ucapan putranya itu serasa teriris pisau di dalam hatinya. Menyesakkan dadanya. Miris sekali seorang Giodava cucu lelaki satu-satunya dari orang ternama tidur di lantai. Seperti orang tak punya.


"Gio, jangan berpikir mama tak punya cukup uang untuk mu." lemah lembut suara Divine menahan tangisnya.


Tok...tok..tok.. Suara ketukan pintu membuat mereka berpaling kembali kearah pintu. "Mama beli apa lagi?" tanya Gio. Namun Divine mengkerutkan alisnya pertanda dia sudah tidak ada memesan apa-apa lagi. Gio melangkah dan melihat dari jendela. Seutas senyum hadir di wajah Gio.


"Tante Vio." Sapa Gio setelah membuka pintu. Divine yang melihat orang yang berada di depan pintu adalah Viona sahabatnya yang identitasnya ia pakai selama ini terutama untuk perihal perbankan dengan cepat menariknya masuk dan memeluk sahabatnya itu.


"Bagaimana kabar mu? apa semua baik?" tanya Viona setelah melepas pelukannya pada Divine dan beralih pada Gio yang juga senang ada kedatangannya. Mencubit pelan pipi Gio. Setelah bertukar cerita tentang kabar mereka. Gio pergi meninggalkan 2 sahabat itu. Seakan mengerti mungkin saja mereka akan membicarakan suatu hal


yang penting yang tidak ingin di ketahui oleh siapa pun.


Benar saja begitu Gio meninggalkan mereka Viona langsung celingukan kesana-kemari memastikan Gio sudah menjauh dari mereka. "Kapan kau akan kembali, ini sudah cukup lama?" tanya Viona menggenggam tangan sahabat rasa saudaranya itu. Namun Divine seakan tidak tahu apa yang mau ia katakan.


"Kau tahu, Ibu mertua mu kini sudah seperti orang gila!" bisik Viona dengan wajah seriusnya. Divine yang mendengar ucapan Viona tercengang, matanya membesar, mulut terbukanya ia tutup dengan salah satu tangannya.


"Apa yang terjadi?" Mengingat terakhir kali Viona menceritakan padanya ibu soraya hanya diam selama ini.


Viona pun menceritakan ketika Gara meminta Viona untuk menjenguk ibunya, berharap belas kasih dari Viona untuk memberitahukan dimana keadaan Divine dan Gio. Viona melihat Ibu Soraya memanggil nama Divine dan nama Gio dengan begitu keras di selingi suara tertawa terbahak-bahak lalu tiba-tiba menangis.

__ADS_1


"Ma..Tante Vio." suara Gio menyapa dari kejauhan agar tidak mengagetkan kedua orang dewasa itu jika ia muncul tiba-tiba. "Ya Gio." sahut Viona.


"Aku mau kue itu lagi." menunjuk kue yang dibawa oleh Viona di atas meja dengan malu-malu. Divine tersenyum melihat tingkah anaknya yang ia ketahui putranya itu memang menyukai stollen cake yang tak lupa Viona bawa setiap kali berkunjung.


__ADS_2