
Pemakaman telah selesai, Gara telah kembali ke rumah dan baru saja tiba di halaman depan rumah.
Divine sudah menunggu di depan pintu sambil mengamati pintu mobil yang terbuka.
Gara dan Ben pun turun dari mobil, tampaknya hanya ada mereka, orang yang di khawatirkan Divine sepertinya tidak ada.
"Sayang kenapa di luar, cuaca di luar sangat dingin, ayo masuk?” ucap Gara seraya menggandeng mesra istrinya itu.
Ben pun langsung pamit kembali ke apartemennya, Gara mengiyakan, Ben pun pulang.
“Aku menunggumu,” jawab Divine.
“Oia aku melihat kau seperti mencari orang lain.” Gara bisa melihat tingkah Divine yang nampak mencari keberadaan orang lain dan seketika merasa lega saat ia tak melihatnnya.
“Ya, dan itu suamiku ini." ucap Divine menjawab pertanyaan Gara dan langsung memeluk tangan Gara yang sedang menggandengnya.
Divine dan Gara terus berjalan menuju kamar mereka, menaiki tangga tanpa melepas lengan Gara dari pelukan Divine dan masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
Divine melepaskan pakaian Gara satu per satu.
"Hei-hei sayang, sabar sebentar biarkan aku mandi terlebih dahulu,” ucap Gara melihat Divine seperti ingin memakannya.
Ada rasa yang berbeda pada tubuh Divine hari ini, hasratnya seperti jauh lebih bergejolak dari hari biasanya. Ia ingin menciumi seluruh tubuh Gara, aroma tubuh Gara yang tercium saat Divine membuka pakaian Gara membuat Divine semakin ingin cepat-cepat melepaskan hasrat yang sedang menggebu di dirinya.
Divine tak menghiraukan ucapan Gara, ia langsung mendaratkan bibirnya di bibir pria tinggi nan tampan itu, dengan posisi berdiri dan berjinjit mengalungkan tangannya di leher pria yang sedikit membungkuk karena tarikan dari tangan yang melingkar di lehernya.
Ciuman penuh gairah pun terjadi, suara terengah-engah dari Divine semakin membuat hasrat Gara ikut menggebu.
Gara pun menggendong Divine ke tempat tidur dan merebahkan Divine disana.
(aarghhh.... sensor aja lah ga usah di terusin wkwkwk)
______________________
______
__ADS_1
Setelah lelah, Divine dan Gara masih berbaring di tempat tidur.
Divine seketika berlari dengan menadahkan tangan di mulutnya, ia merasakan mual dan sangat tidak bisa ia tahan, hingga ia pun lari ke kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Huek...huek... terdengar suara Divine muntah di dalam kamar mandi.
Gara yang baru saja memakai celana dalamnya pun mendekat pada Divine yang tengah menunduk di depan wastafel.
“Kau sih tidak mau menunggu aku mandi terlebih dahulu, sekarang kau muntah karena bau keringat dariku,” ucap Gara yang mengira istrinya mual karena tak tahan mencium aroma tak sedap keringat dari tubuhnya.
Divine berdiri tegak melihat wajahnya di dalam cermin. Nampak wajahnya sedikit pucat, namun Divine berpikir itu akibat dari ia muntah barusan.
“Tidak sayang, aroma tubuhmu dan keringat mu sama sekali tidak, tidak enak, bahkan aku sangat menyukainya,” ucap Divine menyatakan yang ia rasakan, bahwa ia sangat senang dengan aroma tubuh suaminya itu.
“Lalu dirimu kenapa sayang?” ucap Gara dan mendekat memeluk Divine dari belakang yang sedang tidak mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya.
“Mungkin aku terlalu bersemangat, hingga membuat perutku terlalu terguncang,” jawab Divine sekenanya.
“Apa bisa seperti itu? padahal aku sangat menikmati aksi mu tadi,” ucap Gara nakal membuat wajahnya sendiri memerah.
__ADS_1
Gara menarik Divine menuju bathtub dan mengisi bathtub dengan air panas dan dingin hingga terisi penuh dan airnya terasa hangat.
“Masuklah sayang,” Gara meminta Divine masuk dan ia memberi esseential oil di bathtub agar Divine merasa rileks, Gara pun ikut masuk ke dalam bathtub dan duduk di belakang Divine, Divine bersandar di tubuh Gara, terasa sangat nyaman. Mereka pun menikmati berendam air hangat bersama dan tetap saja tangan Gara berada di tempat kesukaannya untuk bermain-main sesuka hatinya.