Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps.83


__ADS_3

Ben mengemudikan mobil menuju rumah. Gara pun setuju, ia hanya diam melihat Ben mengarah ke jalan pulang.


“Ben aku tak ingin pulang, aku ikut ke kantor.” ucap Divine.


“Sebaiknya kau di rumah saja sayang, kau harus istirahat.” sahut Gara saat mendengar ucapan Divine.


“Istirahat untuk apa, aku baik-baik saja,” suara Divine meninggi.


Ia sedang menahan tangisnya, ia tak ingin menangis di depan suaminya untuk hal ini.


“Hmm baiklah terserah padamu,” Gara mengiyakan, ia tak ingin berdebat dengan Divine dan juga melepaskan pelukannya di tubuh Divine.


Ben pun kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


Tak ada suara di dalam mobil itu, seperti kembali pada masa yang tak mengenakkan itu.


Divine merasakan perasaan tidak enak pada perutnya, namun ia bertahan dengan diam tanpa mengatakan apapun pada Gara.


Sesampainya di Andava, Divine langsung berlari dengan cepat masuk ke dalam toilet karyawan di lantai bawah.

__ADS_1


Kini rasa itu sudah sampai di tenggorokannya, Divine tak mampu lagi untuk menahannya.


Divine pun muntah di wastafel toilet karyawan, saat itu toilet dalam keadaan kosong, sehingga tidak ada yang melihat Divine di sana. Gara tak melihat Divine berlari ke toilet, Gara mengira Divine masuk ke dalam lift terlebih dahulu dan tidak menunggunya.


Saat Gara dan Ben tiba di lantai teratas ia tak melihat keberadaan Divine bahkan mereka melihat seorang wanita yang nampak tak asing sedang duduk di sofa nampak sedang menunggu seseorang namun mereka mengabaikannya.


Tak lama kemudian Divine keluar dari lift dan wanita yang sedang duduk di sofa itu melihat Divine, ia pun langsung menghampiri Divine.


“Hay Div, kau masih ingat aku,” tanya wanita yang sedang ada di depan Divine.


Divine pun merasa tak asing dengan wajah wanita itu, namun ia tak ingin menebak terlalu banyak orang yang pernah ia temui, ia memilih diam daripada harus salah menebak.


Divine terkejut, ia langsung melihat sekelilingnya, terlihat sebuah koper di sekitar Sofa di dekat wanita itu tadi duduk.


“Oh ya Shena, aku hampir lupa dengan wajah mu,” jawab Divine dengan senyum terpaksa yang harus ia sunggingkan kepada Shena, bagaimanapun Divine sangat ingat bagaimana sikap Shena kepada Gara.


“Dimana Kak Gara, aku mau bertemu dengannya?” Shena berkata sambil berlari di tempat menunjukkan ia sangat tidak sabar.


“Baiklah, ayo ikut aku," ucap Divine.

__ADS_1


Shena segera mengambil kopernya yang berada di dekat sofa, ia berjalan mengikuti Divine yang menuju ke ruangan Gara.


“Sya, tolong antar Nona ini bertemu Tuan Gara, terimakasih.” ucap Divine kepada Syasa yang sedang berdiri dari tempat duduknya.


Karena merasa tak senang Divine memilih untuk meminta Syasa yang mengantar Shena dan ia pergi ke ruangan Ben yang di sana ada Vely yang nampak semakin cantik.


“Hai Vely, cepat sekali perubahan mu, kau semakin cantik selama berada di Andava,” ucap Divine.


“Oh Nona Divine, sebenarnya Nona memuji ku atau sedang memuji perusahaan Nona,” jawab Vely.


“Wah apa aku tampak seperti itu?” ucap Divine yang mengartikan, apa dirinya sedang memuji dirinya sendiri.


“Hai-hai apa kalian menganggap aku udara, tidak menyapaku dan juga tidak mengajakku berbicara?”


“Ah Ben, di ruangan Gara ada Shena, kau pikir apa yang sedang ia lakukan di sini?”


“Benarkah aku tidak tahu soal itu, kau bisa tanya saja pada Gara, kenapa kau ada disini tidak bersama Gaara?” ucap Ben.


Divine hanya diam, ia duduk di depan Vely dan memangku wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Duduk termenung dengan rasa kesal, dan lapar yang juga sedang ia rasakan.


__ADS_2