Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Ben Ternistakan


__ADS_3

Divine masuk ke dalam kamar baby Gio setelah makan malam bersama suaminya.


“Ben, pergilah makan.” ucap Divine setelah sampai di depan tempat tidur baby Gio.


Ben yang duduk di sofa dengan posisi ponsel landscape di tangannya sudah bisa di tebak oleh Divine bahwa Ben sedang bermain Game.


Tidak ada jawaban dari Ben. Sepertinya Ben tidak mendengar ucapan Divine dan tidak menyadari keberadaan Divine.


Beberapa saat kemudian. Ben berdiri dan menengok ke tempat tidur baby Gio.


“Eh, dimana tuh bayi?” ucap Ben dengan sedikit terkejut. Melihat ranjang baby Gio kosong tak berpenghuni.


Ben berlari keluar. Melewati kamar Divine dan terhenti karena pintu kamar Divine terbuka.


“Div, baby Gio di...?” belum selesai kalimat Ben, matanya sudah tertuju pada baby Gio yang sedang tidur di atas tempat tidur.


“Hmm, anak ku bisa hilang kalau baby siternya sepertimu?” decak Divine.


Ben menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa omongan Divine ada benarnya.


Bukan ada benarnya lagi, tapi benar banget Om Ben.


“Protes saja Div sebelum benar-benar di sahkan?” sahut Ben dari ambang pintu.


“Egh apa maksud mu?” dahi Divine mengkerut ia tak mengerti ucapan Ben.


“Tuh ayahnya takut anaknya di urus oleh orang lain, ia minta aku saja yang menjaganya?” Ben menunjuk baby Gio dengan bibirnya.


“Haha, begitu. Ya sudah sana kamu makan dulu.” Divine tertawa mengetahui ternyata Gara tak berani anaknya di pegang oleh orang lain. Parahnya kenapa harus Ben.


Setelah Ben pergi. Divine keluar dari kamarnya dan meletakkan 1 buah paper bag di dalam kamar baby Gio. Tersenyum smirk.


“Pak Ann, dimana Tuan Gara?” tanya Ben setelah sampai di meja makan dan tidak menemukan Gara disana.


“Oh Tuan Gara masuk ke ruang kerjanya setelah makan.” jawab Pak Ann yang berdiri di dekat meja makan.


Ben mengangguk.


“Yuk pak makan.” ajak Ben pada pak Ann.


Pak Ann hanya tersenyum dan mengangguk.


“Pak Ann punya anak?” tanya Ben berbasa-basi pada kepala pelayan rumah Divine. Padahal ia tahu pak Ann punya seorang putri yang baru saja mulai magang.


“Ia Tuan, seorang putri yang masih kecil.” jawab pak Ann.

__ADS_1


Mendengar ucapan Pak Ann, Ben menguyah lambat sempat terhenti dan menatap ke arah pak Ann.


“Oh, sepertinya tuan Ben berpikir saya sudah tua dan masih punya anak kecil jadi sedikit aneh ya?” Pak Ann malu menahan tawanya.


“Bukan begitu pak.” mendadak Ben ikut salah tingkah.


“Bagi orang tua, sebesar apapun anak, tetap saja mereka adalah anak kecil di mata orang tua.” ungkap pak Ann.


Ben mengangguk paham. Lalu terbesit Gara di dalam pikirannya.


Khusus Gara tidak berlaku. Ya benar begitu. baby Gio baru lahir saja sudah diperlakukannya seperti orang dewasa. Batin Ben.


“Benar pak, lalu bagaimana orang tua yang cemburu dengan anaknya sendiri?”


“Apa Tuan Ben sedang membicarakan Tuan Gara?” bisik Pak Ann.


Ben tersedak. Tak menyangka ternyata pak Ann juga mengetahuinya.


“Kalau begitu saya kembali dulu pak.” ucap Ben setelah menegak habis air minumnya dan menundukkan kepala sebelum pergi meninggalkan pak Ann.


Pak Ann tersenyum. Melihat tingkah Ben.


Jodohin dia sama anaknya pak. Jomblo karatan tuh.


“Sedang apa kau?” tanya Ben menghempaskan bokongnya di sofa.


“Dimana Istriku?” bukannya menjawab, Gara malah bertanya juga.


“Oh Divine di kamarnya.”


Mata Gara berbinar. Menepuk pundak Ben lalu keluar meninggalkan Ben yang baru saja tiba.


Ben hanya bisa melongo melihat Gara meninggalkannya dan ikut keluar setelah beberapa saat.


“Apa itu?” tanya Ben melihat Gara berdiri di depan pintu kamar yang tertutup dengan paper bag di tangannya.


“Ah bukan apa-apa.” jawab Gara.


Ben menaikkan pundaknya dan berlalu melewati Gara.


“Sayaaaaang.... sayang... buka pintunya.” panggil Gara di depan pintu. Rupanya Divine mengunci pintu kamarnya dan tidak mengijinkan Gara untuk masuk.


“Kamu lagi apa sama bocah itu?” tambah Gara lagi, sesuatu yang berbeda dari pikiran orang tua lain dalam pikirannya.


Namun tak ada sahutan dari dalam kamar.

__ADS_1


“Menjauh dari pintu aku akan mendobraknya.” pekik Gara. Lelah sudah ia meminta Divine untuk membuka pintu namun tidak perdulikan oleh istrinya.


“Ayah, kata ibu ayah tidur di kamar sebelah, ibu marah sama ayah karena menaruh ku di kamar sebelah siang tadi.” ucap Divine mengimutkan suaranya bak anak kecil.


Gara menepuk jidatnya. Ia salah mengira bahwa Divine tidak marah karena ulahnya siang tadi. Ternyata Divine memilik rencana untuk membalas.


“Sayang, itu bukan aku tapi Ben.” timpal Gara dari luar. Tak mau terlihat salah. Ia pun melemparkan ulahnya pada Ben.


“Apapun itu, ayah Gio tidur di kamar sebelah malam ini.” ucap Divine tegas.


Gara diam. Teringat ucapannya saat pertama kali masuk ke rumah ini. Tidak ingin satu kamar dengan Divine.


Keinginannya tercapai malam ini walau sudah di saat yang tidak ia inginkan.


Gara berjalan pelan ke kamar baby Gio. Tak bersemangat melangkahkan kaki. Berganti piyama di kamar baby Gio yang sudah Divine masukkan ke dalam paper bag tadi.


Gara memandangi Sofa. Selama ini ia tidak pernah tidur di sofa.


Sayang sekali rumah ini tidak pernah mati listrik lagi. Entah seperti apa tiba-tiba gelap dan dia sendirian.


Gara berjalan ke arah kamar Ben. Sembari memikirkan alasan untuk ia berikan pada Ben. Tidak ingin malu di depan Ben.


Gara membuka pintu kamar Ben. Senyum terukir di wajah Gara melihat Ben sudah tertidur.


Dengan hati-hati Gara naik ke tempat tidur masuk ke dalam selimut yang sama dengan Ben.


Ben mah kalau sudah tidur, tidur mati, ngapain ngendap-ngendap.


Gara menutup matanya dengan cepat berharap pagi akan segera datang.


“Sedang apa kau?” ucap Ben rupanya ia belum tidur.


Gara terperanjat hingga bangun terduduk di tempat tidur. Terkejut mendengar suara Ben.


“Emm anu, itu. Divine sepertinya ngidam lagi.” sangkal Gara, entah apa yang ia pikirkan.


“Hah, maksud kamu Divine hamil lagi, kamu sudah mencetaknya lagi.” Ben bingung. Pusing, tidak paham.


Alasan Gara yang sembarangan tanpa sadar mungkin bisa bikin Ben tidak bisa tidur malam ini.


Ben membayangkan kesibukannya mengurus ibu ngidam dan satu anak bersamaan.


Yang jadi suami siapa yang jadi ayah siapa. Tapi yang super sibuk adalah om jomblo.


“Ah pokoknya begitulah. Sebaiknya cepat tidur.” jawab Gara tak perduli apa yang Ben pikirkan. Selagi tidak membuat gengsinya turun. Mau Ben salto sambil tidur atau apalah Gara tidak perduli.

__ADS_1


__ADS_2