Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 43


__ADS_3

Kini mereka sudah meninggalkan rumah sakit. Di perjalanan Divine hanya diam saja begitu juga dengan Gara sedangkan Ben kaku berasa seluruh tubuhnya dipenuhi es semakin membuat dirinya tidak bisa bergerak bahkan udara terasa menjadi sangat sedikit.


Akhirnya sampai juga begitu yang terlintas di pikiran Ben. Gara dan Ben turun namun Divine hanya diam tetap berada di dalam mobil. Gara yang melihat Divine tidak keluar dari mobil segera menghampiri Divine membuka pintu mobil di sebelah Divine.


"Hey istriku, apa kau tidak mau melihat kantor ku, ini kali pertama kau kesini?" Gara dengan santainya berbicara pada Divine, padahal Divine sedang tidak baik-baik saja. Divine hanya diam tidak menanggapi Gara.


"Hey, ada apa?" tanya Gara lagi melihat Divine hanya diam. "Apa mau aku gendong baru mau turun?" sambung Gara.


Mendengar kalimat Gara, Divine pun turun karena tak ingin jika Gara benar-benar menggendongnya.


Kini mereka semua masuk ke gedung kantor Gara. Ben berjalan di depan Gara dan Divine.


Aku berjalan dengan baik di sampingnya, tapi tidak ada bedanya dengan seorang teman.


Gara dan Divine jalan bersampingan namun Gara tidak memegang tangan Divine ataupun menggandeng Divine. Semua mata yang melihat tidak akan menemukan sesuatu yang spesial di antara mereka.


"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pria tampan, bertubuh atletis dan tinggi seperti Gara berdiri di depan lift lantai ruangan Gara.


"Eza ! sejak kapan kau disini ?" Gara menepuk pundak Eza.


Eza adalah sahabat Gara dan juga Ben, namun Eza memperluas bisnisnya di luar indonesia. Eza juga termasuk salah satu pilihan tiga pria yang dipilihkan oleh Tuan Amo untuk menjadi suami Divine.


"Sejak tadi pagi, aku berkeliling disini gak ada gadis cantik." ucap Eza sambil berjalan bersama Ben,Divine dan Gara. pemandangan luar biasa indah tiga pria tampan berjalan bersama dengan satu orang wanita super cantik.


"Heh, aku mempekerjakan orang yang berkualitas bukan berdasarkan penampilan." Gara mendorong pundak Eza.


"Tapi Gara di sebelah mu ini boleh juga." Eza menaik turunkan alisnya. Sudah sedari tadi Eza memperhatikan Divine yang hanya diam seperti hanya seorang sekertaris yang berjalan di samping bosnya.


Ben tertawa kecil mendengar kalimat Eza.


"Kenapa kau tertawa Ben?" tanya Eza.


"Ayo kita masuk dulu!" Ajak Gara memasuki ruangannya yang sekaligus menghentikan Ben untuk menjawab pertanyaan Eza.


Kini mereka sudah memasuki ruangan Gara.


Divine mengitari ruang presdir ini dengan pandangannya, bernuansa coklat tidak jauh berbeda dengan ruangan ayah dulu begitu pikirnya.


"Ben beritahu Luna buatkan kopi untuk Eza!" ucap Gara.

__ADS_1


"Kau minum apa?" tanya Gara pada Divine yang masih berdiri saja.


"Apa saja." jawab Divine.


"Aku pikir dia sekertaris mu." ucap Eza yang sudah duduk di sofa.


"Buatkan jus avocado untuknya." Gara kembali berbicara pada Ben, mengabaikan kalimat Eza.


ehh, darimana dia tau aku suka jus avocado.


Gara mengingat minuman yang di pesan Divine saat makan bersama Jerry di restoran yang tak sengaja bertemu dengannya, saat itu Gara memang sangat cuek terhadap Divine, ternyata Gara sudah sangat memperhatikan hal kecil tentang Divine.


Ben pun mengintruksikan pada Luna sekertaris Gara. Lalu ben menyiapkan segala sesuatu untuk membuat siaran langsung kepada seluruh karyawan.


"Oke Bos sudah siap." ucap Ben.


Eza menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memperhatikan dua orang temannya itu yang sedang sibuk.


Tak lama Luna pun masuk membawa tiga gelas kopi dan satu gelas jus dan meletakkan di meja sofa lalu kembali.


"Sayang sini, duduk di kursi ku!" Gara memanggil Divine. Divine menurut saja, sedangkan Eza kembali duduk tegak dengan mata terbelalak terkejut mendengar Gara memanggil sayang pada Divine.


Siaran langsung pun di mulai, Divine memperkenalkan dirinya. "Halo, selamat siang, perkenalkan saya Divine."


Divine pun terdiam tidak tau mau melanjutkan apalagi. Sedangkan Eza yang sedang minum langsung menyemburkan kopinya terkejut mendengar nama Divine. Gara menanti Divine menyebutkan ia adalah istrinya walau tanpa di sebutkan pun semua orang sudah tau saat mendengar nama Divine. Karena semua karyawan tahu, bahwa bos mereka menikah dengan pewaris Andava Grup.


Saat Divine lahir dan di beri nama, Ayah Divine mengumumkan tentang nama Divine yang tidak boleh ada yang menyamai di dalam Asia selama 20 tahun ke depan, sampai saat ini nama Divine hanya ada satu di Asia yaitu putri pemilik Andava grup orang nomor 1 di Asia.


Setelah menunggu, Divine tetap saja diam dengan senyum ramah terlihat sangat cantik darimanapun termasuk di dalam layar siaran langsung yang sedang di tonton oleh seluruh karyawan.


Gara pun masuk ke dalam siaran langsung.


"Dia istriku, oke itu saja selamat siang." siaran langsung pun selesai. Entah apa yang di pikirkan Gara, mungkinkah dia ingin seluruh karyawannya tahu bahwa dia memiliki istri yang sangat cantik atau agar tidak ada yang berani menggoda istrinya itu.


Eza segera menghampiri Divine, ia mengulurkan tangan dan berkenalan pada Divine, di sambut dengan ramah oleh Divine mereka pun berjabat tangan.


"Sudah ga perlu lama-lama jabat tangannya." Gara melepaskan jabat tangan antara Divine dan Eza.


Lagi-lagi Ben tertawa kecil.

__ADS_1


"Pantas saja kau tertawa tadi, ternyata aku sedang menggoda seorang istri di depan suaminya." ucap Eza.


"Hahaha." mereka bertiga tertawa bersama.


"Kamu cantik sekali Divine, dan juga dari keluarga terhormat, benar-benar sempurna." ucap Eza.


"Ya terimakasih." jawab divine.


"Sekarang pun kamu punya suami yang luar biasa, walau dia tidak sehebat aku." sambung Eza dengan narsis.


"Kalau begitu aku mau dengan mu saja." jawab Divine menimpali kenarsisan Eza.


Dia bisa bertingkah manis pada Vely, aku juga bisa.


"Hahaha, Bos kamu harus hati-hati." timpal Ben.


Untung saja ada Eza hari ini, kalau tidak mungkin aku bisa membeku hari ini. Entah apa yang di lakukan Gara di rumah sakit tadi bisa membuat Divine sedingin tadi hingga aku merasa ikut beku di dekatnya.


"Coba saja kalau bisa, dia sudah milikku sepenuhnya, sudah bongkar pabrik." jawab Gara sambil tertawa kecil.


"Wow wow aku tertarik dengan kalimat akhir mu." ucap Eza.


"Hah, kau pasti lebih tau, kau kan playboy." jawab Ben.


"Hahaha, aku sudah sadar, aku mau serius sekarang." ucap Eza.


"Rasanya ucapan ini tak asing ya Ben?" jawab Gara.


"hahaha." mereka kembali tertawa bersama.


Divine hanya diam menikmati jusnya dan mendengarkan obrolan tiga sekawan itu.


"Divine kalau ada apa-apa telpon saja aku, ini kartu nama ku." Eza memberikan kartu namanya pada Divine, Divine pun mengambilnya dan memasukkan ke dalam tasnya.


"Wah benar-benar seorang playboy, gerak cepat." decak Ben.


"Suaminya sendiri yang menantang tadi." jawab Eza.


Suamiku ini bagaimana sih, terkadang aku seperti sangat berarti,sekarang malah membiarkan temannya mendekati ku, belum lagi Vely ah aku mau teriak.

__ADS_1


__ADS_2