
Siang hari di rumah sakit terbaik di kota ini. Tampak ramai. Namun tidak pada ruangan VVIP dimana Gara di rawat.
Kedatangan Dora bersama Ibu Soraya membuat keheningan terjadi di ruangan itu. Dora alias Vely orang yang sudah mendonorkan ginjalnya pada Gara 15 tahun lalu karena ayah dan ibu Gara sekalipun tidak cocok untuk menjadi pendonor ginjal untuk Gara. Artinya Dora pun telah hidup selama 15 tahun dengan 1 ginjalnya saja hanya untuk Gara pria yang ia cintai. Walau pada akhirnya, pengorbanannya tidak sempat terbalas tiba-tiba begitu saja Gara menikah dengan Divine yang juga bukan kehendak Gara.
Riset pun mengatakan orang yang telah mendonorkan ginjalnya cenderung lebih sehat di bandingkan penerima.
Gara yang memejamkan matanya berbaring di tempat tidur pasien. Soraya menatap Divine yang tampak tidak bersemangat. Mata bengkak di karenakan menangis setiap kali melihat Gio dan berbicara pada suaminya.
Apa bisa terbayang seperti apa rasanya. Seakan hidup hanya untuk menunggu melihat kepergian suami yang begitu di cintai. Melihat suami sakit demam saja rasanya selalu ingin memeluknya.
"Divi, Ibu minta maaf padamu. Ibulah penyebab semua ini. Kalian berpisah dan harus di pertemukan dengan keadaan seperti ini pun karena ibu. Ibu buta tidak melihat semua yang berjalan baik, ibu mengacaukannya." Soraya memegang tangan Divine bersimpuh di depan Divine yang tengah duudk di sofa.
"Sudahlah ibu semuanya sudah berlalu, besok Gara akan melakukan transplantasinya, Gio akan jadi pendonornya. Doakan saja semuanya berjalan lancar." berat rasanya saat Divine menyebut nama Gio sebagai pendonornya.
Seorang anak 7 tahun harus menjalani operasi untuk mengambil ginjal di tubuhnya.
"Apa maksudmu Gio pendonornya?"
"Gio menginginkannya, ia ingin hidup lebih lama dengan ayahnya." tumpah lagi air mata yang tak pernah membiarkan pipi Divine kering.
*Arrrggghhhh...*Soraya tak dapat membendung perasaannya lagi. Ia benar-benar merasa menjadi orang terbodoh di dunia. Keluarga bahagia harus berakhir seperti ini karena ulahnya.
Soraya meraih ponselnya. Mencari nomor pria yang telah menipunya. Gary. Menelpon ayah biologis Gara namun tidak tersambung. Berulang kali ia mencoba namun tetap tidak terhubung. Terpaksa ia kembali mengubur kebenaran itu. Tak ada gunanya walau ia memberi tahu Gara.
Sementara Dora menatap lekat pria yang sedang tidur di depannya. "Kau begitu tak pernah melihat kearah ku. Baiklah aku pun akan melupakan mu." dua kalimat Dora lontarkan pada Gara lalu berbalik membelakanginya.
"Divine, aku sudah tidak menginginkannya, kau nikmati saja hari-hari mu bersamanya." Dora tersenyum mengejek wanita yang telah membuat Gara jatuh cinta. "Hari-hari mu bersama Gara pun akan berakhir"
Divine meraih tangan Dora yang hendak meninggalkannya. "Terimakasih kau sudah memberiku kesempatan untuk mengenalnya, maaf karena akhirnya seperti ini." lirih suara Divine. Dora hanya memajukan bibir bawahnya pergi meninggalkan Divine dan Soraya. Divine menangis terisak-isak. Orang yang baru saja ada di ruangan ini beberapa detik lalu adalah orang yang bisa menolong suami dan putranya. Namun ia tidak bisa memohon pada Dora. Jika ia meminta sama saja sedang berkata. "Matilah kau Dora untuk suami ku." Tidak mungkin Divine melakukan itu.
__ADS_1
Aaarrgghhhh.... Divine teriak di dalam dirinya. Berharap tuhan akan menukar posisinya. Membiarkan dirinya saja yang terbaring di ranjang pasien itu. Soraya mematung dengan pandangan kosong.
Divine menertawakan hidupnya. Baru saja kemarin ia bersenang-bersenang karena pertemuannya namun tiba-tiba saja kesenangan itu berubah.
"Sayang, suamiku, papa Gio berjanjilah kau akan kembali sehat, putra kita telah bersiap." Divine naik ke ranjang Gara berbisik di telinga Gara dan memeluknya. Memeluk badan yang semakin terkikis. Kurus.
Divine mengetahui transplantasi bukan berarti semua akan baik-baik saja. Semua pembedahan memiliki risiko. Stroke, serangan jantung bahkan kematian pun merupakan risikonya.
"Anak itu keras kepala." suara Gara tanpa membuka matanya. Semakin hari semakin lelah tidak memiliki tenaga.
Gio sedang makan siang bersama Ben dan Jerry. Setelah itu sudah tidak boleh makan lagi. Berpuasa persiapan operasi yang akan di laksanakan pada pagi hari esok.
_____
Tiba hari pelaksanaan Operasi. Divine duduk termangu. Mata terbuka namun terlihat tidak sedang melihat apapun. Gara sudah di bawa ke ruang operasi. Ia pun tidak bertemu Gio pagi ini. Gio tidak ingin bertemu ibunya. Ia tahu hanya akan melihat air mata mengalir di pipi ibunya.
Divine dan Ben pun beranjak menuju ruang operasi. Tak ada satu pun orang yang menunggu di sana. Kursi tunggu tampak kosong seakan mewakili kesunyian di hati Divine saat ini.
Langkah Divine terhenti. Matanya tak berkedip memandang ujung lorong rumah sakit berlawanan arah dengannya seakan melihat Gio sedang berjalan bersama Jerry. Mengucek matanya. Takut ia sedang berhalusinasi, memikirkan terjadi sesuatu pada Gio di dalam ruang operasi. Air mata dengan mudahnya kembali tumpah begitu saja.
"B-Ben, apa kau melihat Gio di depan sana?" tanya Divine terisak-isak. Roboh. Pandangannya berangsur menjadi gelap.
Brukk. Pingsan.
Jerry berlari melihat Divine terkulai di lantai. "Kau tunggu mereka disini, aku akan membawanya ke IGD." Jerry menggendong Divine berlari menuju IGD sembari memanggil nama Divine berulang-ulang.
Jerry menunggu Divine yang sedang dalam penanganan. Dokter tiba. Sebelum di tanya Jerry menjelaskan siapa dirinya dan apa hubungannya dengan pasien dimana keluarga pasien agar Dokter itu langsung memberitahu keadaan Divine.
"Sekarang kondisinya baik-baik saja, sepertinya ia kelelahan."
__ADS_1
Jerry bernapas lega mendengar ucapan dokter yang berada di depannya. Dokter itupun pamit pergi seorang suster menghampiri Jerry, sudah tahu apa yang akan suster itu katakan. Jerry pun meminta membawa Divine ke ruangan pasien atas nama Gara pasien yang sedang operasi saat ini mungkin sudah selesai. Begitu kalimat yang Jerry ucapkan.
Divine tersadar saat ia di bawa menuju ruang rawat dan berpapasan dengan 1 ranjang pasien yang seluruh tubuhnya di tutup. Jenazah.
Divine meraih tangan Jerry yang berjalan di samping ranjangnya. Jerry langsung menggelengkan kepalanya seakan ia yakin itu bukanlah Gara atau Gio.
Divine pun di dorong masuk ke dalam ruang VVIP berbeda dengan ruangan Gara sebelumnya. Melihat Gio sedang berdiri melihat kearahnya. Berjalan mendekat ke arah Divine.
"Mama, Mama baik-baik saja?" ucap Gio. Tangan Divine meraba seluruh tubuh Gio yang dapat ia raih. Tampak sehat tidak menunjukkan baru saja menjalani operasi.
Divine mengangguk-angguk. Ia tidak tahu harus berkata apa. Melempar pandangannya pada Gara yang masih terbaring di tempat tidur tepat di sebelah ranjangnya dengan pakaian khas operasi.
"Ma, ada surat untuk mu." Gio memberikan amplop berwarna pink pada ibunya. Divine langsung membuka dan membaca surat yang Gio katakan untuknya.
Aku tak menyangka akan berakhir seperti ini. Lupakan ucapan ku sebelumnya. Percayalah suamimu tak pernah melakukan apapun pada ku, aku tahu itu. Aku menyadarinya sejak awal. Namun aku memaksa diriku percaya sesuatu terjadi di antara kami.
Aku memberikan semua yang ia inginkan, masih berharap Gara berkata sejujurnya. Tapi lagi-lagi ia menunjukkan kesetiaannya pada mu. Ia hanya melihat dirimu Divi.
Saat dirimu membaca surat ini. Aku sudah pergi jauh. maafkan aku sudah mengganggu kehidupan mu dan Gara selama ini.
Divi Jangan lagi ada rasa bersalah karena telah mengambil Gara dari ku, dia tidak pernah mencintai ku. terimakasih telah mencintainya sama sepertiku mencintainya. Lewat dirimu dan Gara aku sadar akan adanya takdir
dan aku bahagia diriku berada di takdir kalian. Aku terlahir untuk menolongnya dan memberikan seluruh hidup ku untuknya agar bisa hidup bahagia bersamamu.
Kumohon teruslah mencintainya jangan pernah melepaskannya.
Yang menyayangimu - Velisa Dora
Divine menangis memeluk surat di tangannya. Turun dari ranjang berjalan kearah Gara yang baru saja membuka mata. Memeluk Gara dan Gio bersama dengan air mata masih mengalir deras.
__ADS_1