
Pagi hari pun tiba, Divine masih bermanja dengan suaminya, rasanya tak ingin berpisah namun keadaan Viona juga penting bagi Divine.
"Cepatlah pulang." ucap Gara yang juga merasa berat ingin berpisah dengan Divine.
Divine semakin berat ingin beranjak dari tempat tidurnya yang masih memeluk erat Gara.
"Bangunlah, kalau tidak aku akan menggendong mu." ucap Gara.
Divine tetap tidak bangun ia masih saja memeluk suaminya itu.
Gara pun bangun dan menggendong Divine membawanya ke kamar mandi dan mereka pun mandi bersama lagi.
Ben sudah menanti Gara dan Divine di meja makan namun tak kunjung tiba.
sudah sedari tadi ia datang, ia ingin memberitahukan perihal Vely ingin keluar dari apartemennya dan kembali menjalani hidupnya.
Seperti biasa Gara keluar terlebih dahulu dari kamar mandi dan kini sudah rapi dengan pakaian formalnya sedang memakai sepatunya dan duduk di sofa.
Ponsel Gara berdering, Gara pun mengambil ponselnya yang masih terletak di meja samping tempat tidur, terlihat Ibu Gara yang sedang menelpon.
"Halo ibu, bagaimana kabarmu?" ucap Gara sesaat setelah mengangkat telponnya.
"Sekarang baru kamu tanya kabar ibu?" suara seorang wanita di balik telpon.
"Maaf bu, aku yakin ibu pasti baik-baik saja?"
"Ya, bagaimana dengan mu, apa ada berita bahagia yang ingin kamu beritahu ibu?"
"Hmm tidak bu, semuanya baik-baik saja dan tidak ada yg istimewa?"
"Apa menantuku belum hamil?"
"Sepertinya belum bu, lagi dia masih sangat muda?"
__ADS_1
"Karena itu ibu bertanya, biasanya masih muda itu akan lebih cepat hamil, apa ada masalah hingga dia belum hamil?"
"Oh begitu bu, tapi tidak mengapa, dia masih sangat muda, jika ia melahirkan, ia akan merasakan sakit yang luar biasa."
"Semua wanita akan mengalaminya dan semua bisa melaluinya." ucap ibu Gara dengan meyakinkan Gara agar dirinya tidak takut.
"Ya ibu, nanti kita bicara lagi, aku sudah sangat lapar, ingin menyantap sarapan ku."
"Baiklah, sampai jumpa." ucap Ibu Gara, sambungan telpon pun terputus.
"Ibu menelpon?" tanya Divine.
"Sayang kau disini?" tanya Gara terkejut melihat Divine berdiri di dekatnya.
"Ya, turunlah dulu, aku akan menyusul." ucap Divine dan berlalu menuju ruang pakaian di kamarnya.
Divine mendengar semua percakapan suami dan mertuanya di telpon, dari jawaban Gara Divine bisa mengetahui apa yang ibu Gara
katakan.
"Ya aku menunggumu,"
"Ada apa? ada masalah?" tanya Gara lagi.
"Vely ingin keluar dari apartemen, ia ingin kembali ke kehidupannya?"
Gara melihat sekeliling dan tangga, ia ingin memastikan Divine tak ada di sekitarnya.
"Oh kenapa, apa dia tidak ingin hidup di antara kita?, dia belum memaafkan ku? tapi aku ingin dia disini dan memastikan hidupnya baik-bail saja."
"Dia tidak memberi alasan." jawab Ben.
"Pekerjakan saja dia buat kontrak, jika ia tidak mau, minta dia membayar biaya hidup selama tinggal di apartemen,biaya rumah sakit, kartu yang dia gunakan, semuanya?" ucap Gara.
__ADS_1
"Dia sudah mengatakannya, dia akan mencicil pada mu." jawab Ben.
"Katakan padanya, aku tidak mau dicicil, jalannya hanya 1 yaitu bekerja di Andava grup."
"Baiklah, aku akan mencarikan posisi untuknya." jawab Ben.
"Jadikan dia sekertaris mu."
"Hah aku tidak butuh." jawab Ben menolak.
Gara menyipitkan matanya menatap Ben.
Akhirnya Ben hanya bisa menurut.
Gara sudah memulai sarapan, ia sudah sangat lapar karena semalam ia tidak makan.
Divine pun tiba di meja makan.
"Sayang ayo sarapan, aku sudah tidak tahan jadi tidak menunggu mu." ucap Gara pada Divine.
"Tidak mengapa." jawab Divine singkat, ada banyak pikiran di kepalanya.
"Pagi Div, aku disini lagi," ucap Ben sambil tertawa kecil.
"Pagi Ben, Aku tidak pernah menyuruh mu pergi, kamu sendiri." ucap Divine
Ben memonyongkan mulutnya ke arah Gara. seolah berkata tuh yang suruh dengan kesal.
"Cepat habiskan sarapan kalian." ucap Gara.
Mereka pun sarapan tanpa suara terdengar lagi, setelah sarapan Gara dan Ben bergegas mengantar Divine ke Bandara.
Di perjalanan Divine lebih banyak diam.
__ADS_1
"Kalau nggak mau pergi, ya jangan pergi." ucap Gara.
Namun Divine diam saja hingga sampai di bandara.