
Gara dan Divine pun kembali ke kantor setelah memperkenalkan Gara pada Bibi Wen, sebelumnya Gara memprotes Divine karena sejak awal datang tadi Divine tidak memperkenalkan dia sebagai suaminya pada Bibi Wen. Divine pun tak lupa mengejek Gara dulu dengan mengatakan jika terjadi sesuatu padanya, Bibi Wen tidak akan kebingungan dan tahu harus lapor kemana ya, seketika Gara menoyor pelan kepala Divine dan berkata sembarangan.
Makan siang Gara dan Divine kali ini sangat berkualitas, ada banyak hal yang Gara baru ketahui tentang Divine dan juga menambah keakraban pasangan suami istri ini.
Mereka pun sampai di kantor dan kini sudah berada di depan Syasa, sejak tadi Syasa sudah berdiri saat melihat kehadiran 2 orang Bossnya itu dengan raut wajah bahagia yang terpancar dari keduanya. Gara meminta Syasa segera memberikan tiket ke Singapura untuk Divine.
Ben keluar dari ruangan Jerry yang di susul oleh Eza.
"Boss!" Panggil Ben.
Gara dan Divine pun berbalik, Ben melihat aura bahagia di wajah sepasang suami istri ini, Ben segera menghampiri Gara begitupun dengan Eza yang selalu tersenyum melihat Divine, Ia sangat suka dengan paras cantik Divine, tidak ada satu pun yang membuat Eza merasa bosan saat melihatnya, rasanya jika bisa ia akan memandang wajah Divine 24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa ada kata berhenti.
"Eza! kalau kau seperti itu terus, aku tidak akan mengijinkan mu untuk datang kesini." ucap Gara yang sadar melihat Eza terus-terusan menatap Divine.
"Yaelah Gar, aku cuma lihat aja, lagian kenapa paras istri mu seperti ini?" jawab Eza.
"Namanya juga istri ku, sudah pasti yang terbaik,tercantik dan semuanya lebih baik dari wanita manapun."
__ADS_1
"Heh sudahlah, sepertinya Viona baik-baik saja?" Ben menghela perdebatan 2 orang yang sama-sama menyukai 1 orang wanita ini dan ia mengira Viona baik-baik saja saat melihat raut bahagia di wajah Gara dan Divine.
"Kami belum bertemu, Viona dibawa ke Singapura." jawab Gara.
"Lalu darimana kalian,mengapa wajah kalian tampak sangat bahagia?" tanya Ben lagi sambil menaik turunkan alisnya.
"Kami," jawab Divine, namun belum selesai ia berbicara Gara langsung menyela ucapannya.
"Woh, kamu harus coba nanti." jawab Gara yang menyela ucapan Divine.
"Dasar mesum, memang apa yang kau pikirkan?" Eza menoyor kepala Ben.
Ben pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa cengengesan.
"Dasar jomblo!" ucap Gara. "Maksud ku adalah steak daging domba yang baru saja kami makan." sambung Gara lagi.
"Maaf Tuan, apa maksud Tuan steak daging domba yang di pinggir kota ini?" tanya Syasa yang sedari tadi berada diantara mereka.
__ADS_1
"Iya, apa kau sudah mencobanya?" tanya Gara, Divine hanya diam menyimak obrolan mereka, sambil mendengarkan apa tanggapan Syasa soal menu restonya itu.
"Bukan hanya mencoba Tuan, saya selalu mampir jika melewatinya, dan sering sekali jika ingin makan steak, saya pasti rela jauh-jauh datang ke sana." jawab Syasa.
"Apa kau dengar itu Ben," ucap Gara sambil berpaling ke arah Ben dan Eza.
Dan ternyata Ben dan Eza sudah tidak ada di tempatnya. Gara terdiam melihat mereka sudah tidak ada begitupun kedua wanita ini yang tidak menyadari kapan Ben dan Eza bergerak dari tempat berdirinya.
Gara sudah memasang telpon di telinganya.
"Kembali sekarang!" sepertinya Ben dalam panggilan itu.
"Kenapa tidak mengijinkannya?" tanya Divine.
"Kan bisa nanti,saat jam kantor berakhir, karena aku juga mau ikut." jawab Gara sambil menahan tawa diakhir ucapannya.
Divine pun tertawa pelan dan menutup mulutnya. Aku akan merindukan hal-hal seperti saat aku di Singapura, mungkin aku akan lama berada di sana.
__ADS_1