Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2- Curahan hati Gara


__ADS_3

Soraya yang menyadari kecemburuan Gara pada Gio memanfaatkan dengan baik hal itu. Gara yang tadinya hanya terlihat lucu ketika sedang cemburu menjadi sangat meresahkan. Hanya karena mendengar cerita ibu yang di lebih-lebihkan dan lebih di dramatisir.


___


 


Malam hari dimana Dora sedang menunggu lelaki yang ia anggap sebagai suaminya. Memakai pakaian paling terbuka miliknya.  Duduk dengan anggun di sofa hingga berbaring dengan gaya menggoda. Terus bergantian silih berganti. Berulang kali melakukannya karena bosan menunggu. Namun Gara tidak juga memperlihatkan batang hidungnya sejak siang hingga malam seperti ini.


 


 


"Dimana dia? Apa dia menipu ku kembali?" Gumam Dora menghentakkan tangan yang menggenggam erat ponselnya.


 


 


"Walau dia menipu ku, dia tidak bisa lari dari kenyataan bahwa dia sudah merenggeut kemurnian ku." berbicara dengan mulut hampir tidak terbuka. Terlintas bercak darah yang ia lihat di tempat tidur pada pagi hari itu dalam ingatannya.


 


 


"Kau tidak bisa lari dari ku, calon janin akan tumbuh disini." mengelus perutnya yang rata.


 


 


Sementara di kamar Soraya. Dia tengah menangis tanpa seorang pun memperdulikannya. Meratapi nasibnya yang sangat buruk. Tiba-tiba tertawa mengingat kegilaan yang pernah ia lakukan hingga berakhir dengan kondisi seperti ini. Menyesali apa yang terjadi. Namun nasi sudah jadi bubur. Semuanya sudah terlanjur. Ditambah ia semakin merusaknya saat berada disini.


 


 


Pikiran untuk mati pun terbesit dalam benaknya. Tidak ada lagi yang ia harapkan kecuali bertemu dengan Divine untuk memohon maaf padanya. Telah menjadi orang tua yang sangat buruk untuk anak dan menantunya.


 


 


Di sisi lain, sebuah keluarga di rumah sederhana sedang merasa sangat bahagia karena dapat berkumpul bersama lagi walau hanya duduk dan berbaring di lantai beralas karpet sedikit tebal sambil menonton televisi setelah makan malam.


 


 


"Kenapa panas sekali?" hanya tinggal kemeja putih polos yang melekat pada tubuh Gara tetap membuatnya merasa panas. Tangannya memegang kerah baju yang ia gerakkan naik turun menciptakan angin buatan di lehernya.


 


 


"Papa buka saja baju dan celana panjang yang papa pakai." celetuk Gio yang sedang berbaring di kaki sang ibu menikmati siaran televisi.


 


 


"Jika tidak tahan, kau bisa meninggalkan kami dan masuk ke kamar, sepertinya akan turun hujan hingga hawanya jadi panas seperti ini." tutur Divine.


 


 


Kamar Gio dan Divine terpasang pendingin ruangan namun tidak untuk ruang tamu dan ruang keluarga.


 


 

__ADS_1


Gara diam terpaku pada ucapan Gio. Kapan lagi ia bisa menggoda Divi tanpa harus terlihat sengaja melakukannya. Sudah lama juga badan ini tidak ada yang memandangi. Begitu yang Gara pikirkan.


 


 


Seperti apa badannya sekarang, sudah 5 tahun berlalu. Divi pun penasaran seperti apa tubuh kuat yang selalu membuatnya kelelahan selama ini setelah sekian lama tidak melihatnya.


 


 


"Apa kau sering tidak memakai pakaian saat berada di luar kamar Gio?" tanya Gara. Tangannya meraih kancing baju membukanya satu per satu.


 


 


"Tidak, Mama selalu menggoda Gio jika Gio tidak memakai pakaian?" sahut Gio pelan tanpa merubah arah pandangannya.


 


 


Gara seketika melempar pandangannya pada wajah Divi mencari jawaban dari ucapan Gio.


 


 


Ah Gio ini, kata-kata mu membuat mama mu ini terlihat jadi seorang ibu yang mesum pada anaknya sendiri. Melirik Gara yang sudah menunjukkan wajah seakan sedang melihat seorang pendosa yang berani berkhianat pada suaminya dan menggoda anaknya sendiri.


 


 


"Gio bisa kau jelaskan mama menggoda mu seperti apa?" tanya Divine agar ia tidak perlu menjelaskan apapun pada Gara.


 


 


 


 


Gara semakin merapatkan wajahnya ke depan wajah Divine seakan berkata kau sungguh melakukannya.


 


 


"Ya, itu Mama lagi menggelitik Gio biar Gio pakai baju kan." cepat Divine mempertegas kalimat  Gio agar suaminya itu tidak semakin menduga yang tidak-tidak.


Hening... hening...


Tidak ada jawaban dari Gio.


 


"Gio...Gio..." panggil Divine dan melihat ke depan wajah Gio. Matanya tertutup.


 


"Astaga dia tertidur." ujar Divine sembari melihat ke arah Gara yang sudah melepas pakaian sesuai intruksi putranya.


 


Gara beringsut mendekati Gio. Menyelipkan tangannya di bawah leher Gio dan satu tangan lainnya ia selipkan di bawah lutut Gio. Berdiri menggendong Gio membawanya masuk ke kamar Divine.


 

__ADS_1


Terenyuh. Divine seketika merasa tersentuh dengan prilaku Gara. Ia benar-benar dibuat jatuh cinta kembali.


Dia benar-benar seorang ayah. Bahkan ketika Gio tertidur dia tidak mengabaikan ucapannya siang tadi pada putranya. Batin Divine membuat senyum terukir di wajahnya. Senang rasanya.


Divine bangun setelah menanti Gara kembali namun ia tak juga muncul. Mematikan televisi lalu beranjak ke kamarnya. Terperangah. Divine berdiri di ambang pintu matanya tertuju pada pemandangan di atas tempat tidurnya. Gara dengan mata terpejam melingkarkan tangannya di atas tubuh Gio yang sedang tidur terlentang. Seorang ayah sedang memeluk anaknya.


Divine melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar duduk di tepi ranjang. Gara membuka matanya.


"Entah kapan terakhir kali aku melihatnya tertidur seperti ini?" lirih Gara mengingat dirinya setiap malam sebelum tertidur selalu memastikan Gio masih bernapas dengan memperhatikan gerakan napas di perut Gio.


"Ada berapa banyak malam yang telah ku lewatkan tanpa melihatnya sebelum aku tertidur, apakah ibunya merawatnya dengan baik? apakah ibunya memastikan anaknya masih bernapas saat tidur? apakah ibunya sehat ? bisakah mengurus anaknya sendiri?" air mata Gara berlinang di pipinya.


Divine pun tak dapat membendung air matanya. Mengalir lebih deras setiap mendengar Gara mengucapkan pertanyaan-pertanyaanya.


"Kau tahu Divi, anak manager keuangan meninggal dunia saat usianya baru 4 bulan di saat bayi itu tertidur di malam hari dan mereka baru menyadarinya saat pagi hari, menemukan anaknya sudah tidak bernapas." ucap Gara. Dia tidak pernah memberitahu Divine ada hal seperti ini yang terjadi. Ia akan membuat Divine kepikiran jika Divine mengetahuinya.


Terkejut. Divine menutup mulutnya. Matanya membulat. Kali pertama Divine mendengar ada hal seperti itu.


"Saat itu Gio berusia 5 bulan. Aku mulai mencari tahu hal seperti itu di internet, saat mengetahui fakta bayi tiba-tiba meninggal saat tertidur itu sangat sering terjadi terutama pada bayi di bawah 1 tahun. Aku selalu memeriksa Gio saat sebelum aku tidur dan terbangun di tengah malam atau di saat subuh aku selalu mengeceknya dengan melihat gerakan pada perut Gio." Gara meraba perut Gio merasakan gerakan turun naik pada perut Gio.


"Lalu kau tiba-tiba meninggalkan ku?"


Betapa takutnya Gara jika hal yang sama menimpa Gio. Terlebih akan seperti apa keadaan Divine jika itu terjadi. Cukup 1 kali dan jangan pernah ada lagi penderitaan yang menimpa istri dan anaknya. Hanya itu yang Gara inginkan. Lalu tiba-tiba ia di tinggalkan saat menanggung banyak ketakutan pada anak istrinya di dalam pikirannya. Seketika semuanya terbengkalai.


"Maafkan aku Gara, maafkan aku." lemah suara Divine menggenggam tangan suaminya.


"Aku tidak pernah berharap untuk mendapatkan istri sempurna seperti mu, aku hanya ingin hidup bahagia tidak perlu bergelimang harta. Yang ku inginkan hanya kebahagiaan di dalam rumah. Karena itu aku selalu mengucapkan apa pun yang terjadi tetaplah di rumah."


"A-aku a-aku..." bergetar bibir Divine mendengar curahan hati Gara. Namun Gara menghentikannya dengan meletakkan jarinya di bibir Divine "Sssssttt..."


Gara tak ingin mendengarnya malam ini. Ia ingin meluapkan semua perasaanya.


"Dirimu tidak bersalah Divi, akulah yang membuat semuanya rumit. Aku terlalu menjadikan dirimu hanyalah milikku hingga tidak bisa mengontrol kecemburuan ku pada anak ku sendiri."  Gara tersenyum menertawakan dirinya sendiri.


Divine menggelengkan kepalanya.


"Lalu sejak kepergianmu, apa kau pikir aku hidup tenang seperti tidak ada yang terjadi, Kau tahu aku bahkan melimpahkan semuanya pada Brav. Sebelumnya ini pernah terjadi saat dirimu koma di rumah sakit, namun saat itu berbeda aku bisa melihat mu, aku bisa mengandalkan Ben dan Jerry di kantor, dan aku menjaga mu, tapi kali ini aku bahkan tidak melihat wujud mu di tambah kau bersama anak berusia 2 tahun, aku butuh Ben untuk membantuku tetap waras dengan segala ocehannya yang bikin aku kadang-kadang mendidih dan ingin dengan cepat menemukan mu."


"Lima tahun Divi... Lima tahun." Gara menekan ucapannya.


Divine hanya bisa menatap wajah Gara yang terlihat sebuah kekecewaan.


"Aku miskin, aku tidak bisa membayar lebih banyak orang untuk menemukan mu. Ben dengan keterbatasannya bekerja keras secara suka rela. Tapi aku jadi mengerti, Mengapa aku harus tetap kaya?  jika istri ku hilang lagi, aku bisa dengan mudah menemukannya." ungkap Gara.


"Akhirnya kau benar-benar meninggalkan ku." tambahnya.


"Aku sudah bersama mu, kenapa bicara seperti itu?" Divine bingung dengan ucapan Gara.


Gara tersenyum teringat saat ia memukuli dirinya sendiri saat tidak menemukan Divine di rumah. Mengira Divine meninggalkannya padahal Divine hanya bertemu Jerry.


Tidak mendapatkan jawaban Gara. Divine menatapnya dalam. "Maafkan aku, aku bahkan tidak tahu bahwa kau dulu sangat menghawatirkan Gio?" Divine mengangkat tangan Gara ke depan dadanya.


"Aku tidak bisa memberitahu mu, aku tidak ingin membebani mu." Gara mendekat pada Divine dan memeluknya.


Begitulah seorang ayah, kadang tidak tahu mengungkapkan perasaanya, terkadang memilih memendamnya sendiri daripada membuat orang yang dia cintai ikut terbebani. Bahkan ada suami yang tidak bisa mengatakan cintanya kepada istrinya.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2