Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps.66


__ADS_3

Hari berlalu, Gara setiap hari keluar dari rumah hanya untuk bekerja dan pulang sedikit larut ia berada lebih lama di kantor bersama Ben.


Sejak perginya Divine, Eza juga tak pernah muncul di Andava lagi. Ben sempat berkata pada Gara "Sejak Divine ke Singapura,Eza tidak pernah ke sini lagi." namun Gara tidak menghiraukannya.


Vely yang awalnya selalu menolak jika di ajak kemanapun oleh Gara dan Ben kini tidak lagi menolak, tak jarang Vely membawa sarapannya ke kantor untuk di makan bersama Gara dan Ben.


Gara dan Vely kini nampak semakin akrab, kedekatan mereka sudah kembali lagi, tidak dengan Ben ia selalu menjaga jarak pada Vely.


Tujuh hari telah berlalu, pagi hari di Andava grup.


Vely melihat Gara dan Ben baru saja sampai dan masuk ke ruang presdir, ia pun segera menghampiri Gara dan Ben.


"Pagi semuanya." ucap Vely sesaat setelah masuk ke ruang presdir.


"Pagi Vel," jawab Gara yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi mulia miliknya itu. Ia melihat ke arah kursi kosong di dekat meja rias. Gara sangat merindukannya kehadiran Divine rasanya sudah sangat lama ia tidak memeluk istri kesayangannya itu.


"Ada apa? pagi-pagi sudah kesini?" ucap Ben.


walau Vely adalah sekertarisnya ia lebih senang meminta tolong pada Syasa. Vely hanya sering Ben minta untuk membuat kopi atau membersihkan ruangannya. selama ini Ben membersihkan ruangannya sendiri ia tak suka ada orang lain yang masuk ke ruangannya.

__ADS_1


"Seperti biasa, ayo sarapan." Vely sudah meletakkan dan membuka kotak makannya di meja Gara.


"Kamu nggak bosan ya? setiap hari membawa sarapan ke sini, padahal kita hanya mencicipi saja, kita sudah sarapan di rumah Divi." ucap Ben yang bernada santai membuat Vely tersadar.


Vely mengingat-ingat beberapa hari terakhir dan benar saja mereka hanya menyicip saja tidak pernah benar-benar ikut makan bersama makanan yang Vely bawa.


Gara melihat raut wajah Vely yang sangat jelas berubah menjadi sedih, seketika Gara mengambil sarapan yang Vely bawa.


"Kentangnya enak Vel, boleh ga nih aku habisin?" ucap Gara, ia berniat untuk memperbaiki suasana hati Vely.


"Egh kamu suka Gara? makanlah!" ucap Vely.


Vely tak setegar Divine, wajahnya sering terlihat sedih seperti sedang ingin di perhatikan, begitu pandangan Ben pada Vely.


"Pagi Jerry, apa aku mengganggu mu?" sapa Ben.


"Tidak, ada apa?" jawab Jerry lalu menyantap kopi yang terlihat masih berasap.


"Boss cantikmu belum ada niat mau pulang?"

__ADS_1


"Entah Divi belum ada bilang akan pulang."


"Hmm..." Ben terdiam.


Tak lama Syasa datang membawa kopi untuk Ben.


"Terimakasih Sya," ucap Ben, padahal ia tak meminta kopi namun Syasa datang membawakan kopi untuknya.


Setelah mengangguk Syasa langsung ke luar dari ruangan Jerry.


"Terimakasih ya Jer." ucap Ben sambil mengangkat kopinya.


"Apa? aku tidak ada meminta Syasa membuatkan kamu kopi, kalau kamu mau kopi kan bisa buat sendiri atau minta sekertaris mu." jawab Jerry.


"Wah benarkah?" Ben memikirkan sesuatu di kepalanya.


Jerry mengukir senyuman terpaksa di bibirnya yang berarti menyatakan ya itu benar.


"Jangan mengambilnya juga." suara Jerry pelan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2