Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 95


__ADS_3

Divine, Gara dan Ben pun tiba di kantor.


Ben melajukan mobil yang ia kemudi dengan kecepatan tinggi, udara di dalam mobil membuat Ben merasa sesak bahkan hampir mati membuatnya ingin cepat-cepat keluar dari mobil yang membawa kedua penumpang itu, dengan santainya Gara memangku Divine lalu menyandarkan kepala Divine di dadanya sembari membelai rambut Divine dengan kata-kata manis yang terus keluar dari mulut Gara yang membuat Ben merasa benar-benar tidak terlihat.


Kedatangan Gara bersama Divine sungguh mengejutkan Shena dan Vely yang sedang berdiri di depan meja Sasya.


Ketiga wanita itu mengucapkan selamat pagi pada Gara dan Divine tentunya dengan senyum palsu dari Vely dan Shena.


Bertemunya Vely dan Shena membuat Vely salah dalam melangkah.


Seharusnya Vely sudah tidak perlu bermasalah dengan istri dari Bos dan juga seorang kakak yang menganggap dia adalah seorang penyelamat hidupnya.


Karena Shena mungkin Gara dan Divine sudah tidak bersimpati lagi padanya.


"Nona Divine selalu terlihat sangat cantik ya saat melihatnya?" ucap Sasya tulus kepada Shena dan Vely setelah beberapa waktu setelah Gara dan Divine melewati mereka.


"Cantik, hasil operasi plastik." ucap Shena dengan nada mengejek.


"Hah apa iya?" tanya Vely terkejut mempercayai ucapan Shena.


"Ah apa iya? setau ku bahkan Nona tidak pernah mengunjugi dokter estetik." jawab Sasya meragukan ucapan Shena.


Shena pun terdiam tak tau mau menjawab apalagi, karena dia saja baru di lingkungan Andava.


"Sedang apa kalian berkumpul saja, kembali!" ucap Ben saat ia keluar dari ruangannya karena jam kerja sudah di mulai 30 detik yang lalu.


Vely pun masuk ke ruangan Ben, sementara Shena duduk di samping Sasya, ia benar-benar hanya menumpang di sini, tidak memiliki posisi apa pun. Ben hanya menyuruhnya membantu Sasya agar terlihat memiliki pekerjaan.


Di ruang Presdir 2 orang yang sedang merasakan, seperti baru saja bertemu setelah sekian lama sungguh tidak terpisah, Gara memangku Divine duduk di kursinya sembari mengetik di laptop dengan Divine berada di depannya, sedikit pun Gara tidak merasa kesulitan.


"Sayang, aku ingin keluar sebentar?" ucap Divine setelah mengecup lembut bibir Gara yang tengah mengetik itu.


Gara menghentikan jari-jemarinya yang sedang bermain di atas keyboard, wajahnya cemberut melihat ke arah Divine.


"Mau kemana, ga boleh lama-lama ya?" ucap Gara manja.


Divine tersenyum mendengar ucapan Gara, lalu berdiri meninggalkan Gara di ruangannya dengan melambaikan tangan pada Gara sebelum ia keluar.


Divine berjalan menuju meja Sasya.

__ADS_1


"Sya, tolong jus alpukat sama coffelatte ke ruangan Jerry ya." ucap Divine ramah pada Sasya sambil tersenyum pada Shena yang juga melihatnya.


"Baik Nona." jawab Sasya.


Divine pun berlalu dan menuju ke ruangan Jerry. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah suara Jerry terdengar untuk mempersilahkan masuk, baru lah Divine membuka pintu dan masuk ke ruangan Jerry.


"Ah kau Div," ucap Jerry saat melihat Divine yang masuk ke dalam ruangannya itu.


Divine tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Kau juga di sini Ben?" tanya Divine karena melihat Ben juga berada di ruangan Jerry.


"Biasanya, aku selalu bersama Gara, tapi semenjak ada dirimu, aku jadi terabaikan." ucap Ben dan membuat wajahnya tampak menyedihkan.


Divine dan Jerry hanya tersenyum mendengar ucapan mengada-ngada dari Ben yang sebenarnya juga benar.


"Kalau begitu, aku keluar dulu, sepertinya di sini pun aku tidak di harapkan." sambung Ben dengan menambah ucapan yang menyedihkan untuk dirinya sendiri.


Ben telah berdiri dari tempat duduknya.


"Hei Ben, kita bisa bicara bersama." ucap Divine dengan menggerakkan tangannya seakan meminta Ben kembali.


Namun Ben bukan bersungguh-sungguh merasa tidak di harapkan, ia tau Divine dan Jerry adalah 2 orang sahabat yang mungkin ingin bicara berdua saja.


Divine pun bertanya pada Jerry, perihal email yang ia kirim pada Gara, lalu Jerry menceritakan semua yang ia tau pada Divine.


"Bagaimana bisa kau diam saja tidak memberitahu ku sejak awal, untunglah aku hanya minum tidak bunuh diri karena merasa sangat depresi seorang diri." ucap Divine protes pada sahabatnya itu.


"Aku tidak menyangka kau melakukan itu Div, untunglah Gara menaruh pengawal untuk mengikuti mu, jangan lakukan hal buruk lagi, ayah mu akan memenggal kepala ku saat bertemu di surga nanti." ucap Jerry.


"Jika kau takut, mari bekerja sama, jangan buat aku salah paham lagi pada suami ku yang aneh itu." jawab Divine.


"Ya, Dia memang aneh." jawab Jerry lalu menceritakan kejadian di kantor saat Divine berada di rumah sakit.


Gara masuk ke dalam ruangannya dan menghempas daun pintu dengan sangat kuat hingga semua orang di lantai itu terkejut mendengarnya, namun saat Vely dan Shena menghampirinya, Gara sedang duduk di kursinya mengetik di keyboard laptop dengan wajah yang sangat tenang. Shena bertanya apa semua baik, Gara hanya menjawab ia belum minum kopi, lalu meminta tolong untuk membuatkannya.


Divine mendengar cerita dari Jerry sangat tidak percaya, karena suaminya itu sangatlah cengeng di depan Divine.


Tunggu, aku tidak melihat air matanya di kejadian beberapa hari lalu.

__ADS_1


Divine mulai memikirkan apa saja yang Gara lakukan sebelum menemaninya di rumah sakit, ia memandang wajah Jerry seolah akan mendapatkan jawaban di wajah Jerry.


Di ruangan Gara.


"Hmmm dimana dia, belum kembali juga?" Gara sudah gelisah karena merasakan istrinya itu sudah sangat lama meninggalkannya sendiri di ruangan ini. Jari-jari Gara sudah menulusuri menu lain di laptopnya, ia membuka CCTV dan Mencari istrinya itu lewat CCTV, Gara pun melihat istrinya itu berada di ruangan Jerry, hanya sedang diam menatap Jerry.


Divine sedang berpikir tentang suaminya dan Gara berpikir apa yang istrinya itu lakukan menatap Jerry begitu lama.


"Aku akan menjemputnya." ucap Gara berdiri dan meninggalkan kursinya.


Namun setelah sampai di depan pintu ia kembali duduk di kursinya.


Hanya karena egonya tak ingin Divine tau bahwa ia sudah sangat merindukannya.


Di saat bersamaan, Jerry memberikan amplop coklat pada Divine sehingga tidak di lihat oleh Gara di layar laptopnya.


Suara ketukan pintu pun terdengar, seketika wajah Divine muncul dari balik pintu.


"Aku kembali." ucap Divine.


"Ah, apa yang kau lakukan dengan waktu sesingkat itu, atau kau sudah merindukan ku, hingga kembali begitu cepat?" tanya Gara seolah ia tak merasakan bahwa istrinya itu cukup lama di luar, padahal dialah yang sebenarnya yang sudah merindukan istrinya itu.


"Hmmm, ada banyak hal, salah satunya pertanyaan-pertanyaan yang akan aku tanyakan ini?" ucap Divine tidak sabar dengan pertanyaannya.


Gara mengangguk, ia setuju untuk mendengar pertanyaan Divine.


"Apa yang kau lakukan saat kau kembali ke sini, setelah membawa ku ke rumah sakit?" tanya Divine.


"Hmmm, tidak ada yang spesial, aku kembali bekerja." jawab Gara.


Namun Gara teringat setelah Vely dan Shena keluar, ia masuk ke ruangan di belakang kursinya dan menangis sejadi-jadinya.


...Bersambung......


Author mengucapkan Terimakasih untuk yang sudah vote, like dan coment karya ini.


dan juga mohon maaf atas kekurangannya🙏🙏


Mampir ke karya Author Suami Khayalan.

__ADS_1


Author butuh saran dan kritiknya.


Terimakasih.


__ADS_2