
Gara dan Ben telah kembali dari Bandara. Divine sudah pergi ke Singapura bersama 4 orang pengawal, tadinya Gara hanya mengatakan 2 orang saja, namun banyak dugaan-dugaan yang masuk ke pikirannya,
Bagaimana kalau seorang pengawal sedang ke toilet dan satunya lagi mengangkat telpon Divine bisa dalam bahaya, begitulah dugaan-dugaan yang masuk ke pikirannya hingga akhirnya ia menambah lagi pengawal yang ikut bersama Divine.
Divine pergi dengan senyuman manis di wajahnya karena ucapan Gara yang mengatakan cepatlah pulang saat Gara memeluknya.
Juga Ben yang mengatakan dirinya akan merindukannya, jadi ga boleh lama-lama ya Div, begitu ucapan Ben.
Gara dan Ben sudah tiba di Kantor, mereka memasuki kantor tanpa ada Divine yang terlihat, pegawai wanita yang bertemu pun berkesempatan memandangi 2 orang tertampan di Andava grup ini. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi karena selama ini Divine selalu bersama mereka bagai bidadari yang di kelilingi pria-pria tampan.
Gara dan Ben pun langsung memasuki lift khusus presdir dan memutus semua pandangan yang mengarah pada mereka.
"Berapa lama Divi di Singapura, aku tidak melihat adanya tiket pulang?" tanya Ben pada suami Divine.
"Ya itu kemauannya, aku pun tidak tau berapa lama dia di sana."
Ben mengangguk-angguk mendengar jawaban Gara.
"Selamat pagi Tuan Gara, pagi Tuan Ben." sapa Syasa saat Gara dan Ben melewatinya.
__ADS_1
Gara hanya sedikit mengangguk dan Ben menjawab sapaan Syasa. "Ya pagi Sa."
Hari sudah tidak pagi lagi, jam sudah menunjukkan pukul 10. Gara mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, sejak penggabungan perusahaannya, Andava semakin tak terlampaui, segala bidang ada pada Andava grup.
Tak lama kemudian Ben masuk ke ruangan Gara.
"Divi sudah sampai Gar?" tanya Ben.
"Oh astaga bagaimana aku bisa melupakannya?" jawab Gara seraya mencari ponselnya namun tidak melihatnya.
"Ini sudah jam berapa Ben, seharusnya ia sudah sampai dan kenapa ia tidak mengabari ku?" sambung Gara yang terus mencari ponselnya. Ia membuka tutup laci meja, meraba spemua saku dan melihat ke seluruh bagian permukaan meja kerjanya namun tetap tidak melihat ponselnya.
"Ben kenapa diam saja, bantu aku menemukan ponselku!" jawab Gara yang rasanya ingin memukul meja karena tidak menemukan ponselnya
"Itu di atas laptop mu apa?" jawab Ben sambil melipat tangannya melihat kebodohan Bossnya itu.
"Hah, bagaimana bisa aku tidak melihatnya?" Gara terkejut melihat ponselnya benar-benar berada di atas laptop di depan matanya namun tadi ia tidak melihatnya.
Seketika Gara menekan panggilan di ponselnya.
__ADS_1
"Kalian sudah sampai, kenapa tidak ada yang menelpon ku?" tanya Gara kesal, ia menelpon pengawal yg bersama Divine. Tadinya ia ingin menelpon Divine, namun Gara mengurungkan niatnya, ia ingin Divine yang menelponnya terlebih dahulu.
"Ya sudah Tuan, maaf kami baru selesai makan, Nona mengajak kami makan bersama." jawab pengawal di balik telpon.
"Baiklah, pastikan istriku selalu dalam keadaan baik." ucap Gara dan mematikan sambungan telpon sesaat setelah pengawal itu berkata ya pada Gara. Pada pengawal pun kau sangat baik sekali Divi, bagaimana dengan Vely nanti. Gara bergumam di dalam hatinya.
Ben membuka pintu saat Gara berhenti bicara Di telpon. Ternyata Vely sudah menunggu di luar. Vely pun masuk ke dalam ruangan yang tadinya milik Divine.
"Ada apa Gara, kenapa memaksaku?" Vely melontarkan pertanyaan sesaat ia telah masuk ke dalam ruangan yang masih bernuansa pink ini.
"Aku berhutang pada mu?" jawab Gara. Ben hanya berdiri jauh di belakang Vely.
"Kalau begitu kita impas, kau sudah menolong ku, merawat ku, membiayai hidup ku beberapa pekan ini, kenapa masih ingin aku terus berada di dekat mu?"
"Selama kau masih hidup aku akan menjaga mu." jawab Gara tak memperdulikan apa yang Vely katakan.
"Kamu Egois Gara!" ucap Vely lalu keluar dari ruangan ini dan di ikuti oleh Ben.
"Jika kamu berpikir ingin kabur, sebaiknya kau urungkan niat mu itu, karena Gara sekarang adalah Presdir Andava, semua hal yang ia ingin dapatkan jadi sangat mudah, setidaknya tawarannya ini masih bisa membuat mu menjalani hidup seperti biasa, jika kau di tangkap dari pelarian mu, mungkin nasib mu tidak akan sebaik ini." ucap Ben menjelaskan pada Vely yang sangat nampak tidak ingin hidup di antara Gara lagi.
__ADS_1
Bersambung...