
Wajah Divine memerah karena bertatapan dengan Gara.
"katakan,kalau kamu tidak cemburu!"
"cemburu, apa itu?" tanya Divine.
Sebenarnya Divine tidak tahu apa arti yang di ucapkan Gara tadi. Dari buku-buku yang dia baca hanya mengungkapkan perasaan tidak senang jika seseorang yang kita sukai dekat dengan orang lain.
Gara menggaruk tengkuknya, karena ia hanya asal bicara tadi, mengikuti kata temannya Eza yang pernah bercerita kekasihnya cemburu karena ada wanita lain di dekatnya.
"Pokoknya begitu, kamu tidak suka lihat Shena dekat-dekat aku kan?" jawab Gara sekenanya.
"Aduh-aduh aku sudah gak tahan lagi." Divine berdiri dengan gaya kebelet mau buang air kecil seperti seorang wanita pada umumnya, untuk menghindar dari pertanyaan Gara.
"kau alasan saja." ucap Gara dengan nada kesal dan langsung menggendong Divine di depan dadanya.
"Hei, kenapa senang sekali menggendongku tiba-tiba sih?"
Cup, Gara mencium bibir Divine yang terus saja berbicara dari tadi.
"Sudah diam." ucap Gara dengan tatapan seolah berbicara aku akan mencium mu lagi jika kau terus berbicara.
Divine pun menurut lagi, diam dan tenang dalam gendongan Gara.
Sampailah mereka di depan toilet barulah Gara menurunkan Divine dari gendongannya.
__ADS_1
Divine masuk toilet dan ingin menutup pintu toilet tersebut, namun Gara menghentikannya.
"Ada apa lagi?" ucap Divine kesal.
"Aku disini, kau tidak perlu menutup pintu nya."
"Apa!" dengan cepat Divine menutup pintu toilet dan mengunci dari dalam.
"Semakin hari semakin aneh saja."
Divine sambil menggerutu di dalam toilet sedangkan Gara yang menunggu di depan toilet tersenyum senang karena berhasil mengerjai Divine terus-terusan.
Sesaat kemudian Divine keluar dari toilet, ia sudah memikirkan, bagaimana cara menghadapi Gara jika kembali bertanya tentang rasa tidak senang tadi.
"Aku lapar." ucap Divine.
"Ayo, Shena pasti sudah masak." seraya berjalan menjauh dari toilet.
Namun Divine diam saja tidak ikut berjalan. Gara menoleh ke belakang dan mengerutkan alisnya.
"Ayo! kenapa masih diam di sana?" ucap Gara.
"kamu gak gendong aku?" jawab Divine.
Gara mengangkat tangannya menutupi wajah, tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. entah kenapa sifat manja Divine tiba-tiba muncul setelah keluar dari toilet.
__ADS_1
Gara pun menghampiri Divine dan menggendong Divine untuk kembali ke ruang tamu.
"sekalian mau di cium gak?" tanya Gara pada Divine yang berada dalam gendongannya. Divine diam dan menyembunyikan wajahnya semakin dalam di dada Gara.
terus seperti itu hingga sampai di ruang tamu.
"Ada apa dengan Divine, kenapa di gendong?" tanya Ben khawatir melihat Divine dalam gendongan Gara.
"Tidak apa, dia hanya terpeleset." jawab Gara berbohong pada semua orang di ruang tamu, entah apa yang ia pikirkan sekarang.
Saat Divine ingin mengatakan kebenarannya, Gara mengeratkan gendongannya semakin rapat ke dalam dadanya hingga Divine tidak dapat berbicara.
"Cepat, bawa dia ke kamar!" ucap Nenek Yan.
"Shena tunjukkan kamar nya!" sambung Nenek Yan.
Shena pun mengantar mereka menuju kamar tamu, lalu Gara menurunkan Divine dengan pelan di tempat tidur yang tersedia di sana.
Ben, Nenek dan Shena memperhatikan Divine, namun tak terlihat sedang kesakitan.
"Nak, apa dia baik-baik saja?" tanya Nenek Yan pada Gara. Ben dan Shena pun memperhatikan menunggu jawaban Gara.
"Tunggu sebentar akan ku pastikan Nek, Nenek dan yang lain makan saja dulu, ini sudah waktunya makan kan nek." jawab Gara.
akhirnya Nenek, Ben dan Shena beranjak dari kamar tamu meninggalkan Divine bersama Gara.
__ADS_1