Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 57


__ADS_3

Ben pun keluar dari ruang Gara, Tak lama masuklah Eza dengan mata yang di tutup kain yang di ikat di kepalanya di tuntun oleh Syasa.


Setelah menuntun Eza masuk Syasa kembali ke tempatnya dan menutup pintu ruang presdirnya itu dengan sangat pelan.


"Gara, untuk apa seperti ini, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Divine, malam itu,"


Eza yang tidak melihat Gara terus celamitan menjelaskan apa yang terjadi namun belum selesai Eza berbicara Gara sudah memotong kalimat Eza.


"Sebaiknya kau duduk dulu dan aku akan memeriksa mu tanpa ada satu bagian pun yang terlewat." Ucap Gara sambil menarik Eza duduk di depan mejanya.


Mata Divine melebar seolah berkata ada aku disini dan kau tetap ingin memeriksanya.


"Gara bisakah kau cari tau dengan cara lain,tanpa harus memeriksanya?" ucap Divine seraya berjalan mendekat pada Eza.


"Divi kau tahu kan, bagaimana sebenarnya?" Eza meraba-raba kursi dan tanpa sengaja menyentuh tangan Divine.


Gara yang melihat Eza menyentuh tangan Divine langsung menarik Divine dengan kuat.


"Auw." Divine berteriak karena merasa sakit, Gara terlalu kasar menariknya.


Eza pun berdiri dan menurunkan penutup matanya. Eza melihat lengan Divine yang memerah, karena putihnya kulit Divine sangat jelas terlihat jika ada bagian tubuhnya yang memerah atau baru saja tergigit nyamuk.


"Apa yang kau lakukan Gara?" ucap Eza dengan rasa kecewa seraya ingin meraih Divine. Namun Gara menepis tangan Eza.


"Aku suaminya, aku berhak atas apa yang akan aku lakukan padanya." suara Gara keras, rasa cemburu Gara membuat emosinya naik.


Mungkin aku lebih baik diam saja, baru sedikit aku berbicara, malah menambah masalah. ucap Divine di dalam hati.


Eza pun terdiam mendengar ucapan Gara, ia tak ingin menimpali ucapan Gara agar tidak semakin memperkeruh keadaan.


Suasana menjadi hening setelah beberapa lama tidak ada suara, tidak ada yang berbicara, Gara pun menjadi lebih tenang.


"Malam itu aku sedang berada di pesta seorang teman ku di hotel Blue, sepertinya aku terlalu banyak minum hingga tidak sadar aku sudah berada di dalam kamar hotel, saat Divine ada di kamar itu pun aku tidak mengenalinya, entah apa saja yang sudah aku lakukan padanya." cerita Eza menjelaskan pada Gara.


"Maafkan aku Divine, aku harap kau baik-baik saja." Eza beralih pada Divine yang berada di belakang Gara.


Divine diam saja tak ingin berbicara, ia tak ingin membuat Gara salah paham lagi dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Ya dia baik-baik saja aku sudah memeriksa semuanya." ucap Gara dengan raut wajah sombong.


"Jadi kau tidak perlu cemburu-cemburu lagi."


"Bagaimana bisa, coba jelaskan bagaimana kalian bisa bersama di dalam bathtub?" Gara sangat malas mengucapkannya sama saja dia seperti melihat kejadian itu lagi.


"Entah Divine tiba-tiba masuk ke dalam bathtub itu." jawab Eza dengan santainya karena memang dia tidak tau saat itu matanya terpejam.


Oh ternyata Eza bodoh juga, bisa-bisanya menjawab seperti itu, sekarang kan jadi seolah aku yang dengan sadar masuk ke bathtub itu. ucap Divine dalam hati.


Dengan terpaksa Divine harus mengeluarkan suara sebelum salah paham Gara bertambah lagi.


Tok tok tok.. suara ketukan pintu dan masuklah Ben entah dari mana. Divine pun gagal menjelaskan bagian dirinya.


"Bos ini penting, kebetulan Eza ada disini." ucap Ben seraya mendekat ke meja Gara.


Gara mengangguk yang berarti mempersilahkan Ben untuk melanjutkan berita apa yang ia Bawa.


Ben pun memperlihatkan 2 foto lelaki dan beberapa foto yang penuh darah.


Gara hanya diam memperhatikan.


"Kau mengenalnya?" tanya Ben.


"Tidak, namun aku melihatnya kemaren berada disana."


Ben pun menceritakan rentetan kejadian kemaren malam.


Dua orang di dalam foto sudah mati kemarin malam, beberapa jam setelah Divine di bawa pulang dari hotel. Dua orang itu memilih mati daripada harus mengaku siapa orang di balik kejadian kemarin malam, namun ada 1 nama yang muncul tapi tidak bisa mereka temukan keberadaannya, mereka menebak orang itu bukan orang Asia. Kecelakaan Viona tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian Divine dan Eza, dan menurut Ben, Divine adalah wanita yang tidak sengaja menjadi korban penculikan. Sangat kebetulan Divine sedang sendirian dan sedang ada 2 orang yang ingin mencari wanita untuk Eza, mereka pun menduga-duga karena ada banyak wartawan dalangnya ingin merusak nama baik Eza.


"Darimana kau dapat ini semua?" tanya Gara.


Ben menyunggingkan bibirnya ke arah Divine.


"Maksud mu?" tanya Eza yang tidak mengerti.


"Teman Divi, orang kepercayaannya, siapa lagi kalau bukan Jerry." jawab Ben.

__ADS_1


"Dia memang sangat bisa di andalkan, cukup berbahaya." ucap Gara.


"Berbahaya apa maksud mu Gar?" tanya Eza.


Sudah sedari tadi Divine menenangkan dirinya. Ia terkejut saat mendengar nama Viona, namun Divine tetap membiarkan Ben menyelesaikan ceritanya, ia sudah tidak fokus mendengarkan apa yang di katakan Ben, pikirannya teralih dengan Viona, mengingat semalam tidak ada telpon atau pesan pun dari Viona.


"Ben, apa yang kau maksud adalah teman ku Viona?" ucap Divine pelan menyela percakapan Gara,Eza dan Ben ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Apa Gara tidak mengatakannya?" jawab Ben.


Divine menggelengkan kepalanya, Gara menarik pelan istrinya itu kedalam pelukannya.


"Viona tidak datang, karena ia mengalami kecelakaan semalam, sekarang dia ada di rumah sakit."


"Apa lukanya berat." Divine menatap mata suaminya dengan penuh harap suaminya akan berkata tidak.


"Maaf aku tidak melihatnya untuk mu sayang, aku sangat khawatir pada mu, karena si brengsek ini." Gara yang tadinya berkata lembut pada Divine tiba-tiba beralih pada Eza dan menonjol kepala Eza, Gara merasa sangat kesal.


"Apa aku bisa ke rumah sakit sekarang? jika kau masih ada urusan aku bisa pergi sendiri, tapi tolong jangan tambah luka hati ku dengan memeriksa Eza." ucap Divine.


Gara mengetek Dahi Divine, Karena istrinya itu belum paham juga.


"Aku sudah memeriksa Eza tadi, di depan mu dan dia sudah menceritakannya, itu namanya memeriksa."


"Tapi kau memeriksa ku,"


"Sudah jangan di bahas lagi, jangan biarkan 2 orang jomblo ini jadi merasa terzolimi." ucap Gara yang dengan cepat memotong ucapan Divine.


"Baiklah aku pergi dulu." Divine menjauh dari Gara.


"Tunggu, aku akan menemani mu." Gara meraih tangan Divine pelan dari siku bergerak lembut dan terpaut di telapak tangan Divine membuat 4 mata orang yang berada di dalam ruangan ini sedang menonton adegan India.


Divine dan Gara pun meninggalkan ruangan mereka, berjalan bergandengan menuju lift. Saat menunggu pintu lift terbuka Gara membisikkan sesuatu di telinga Divine.


"Ingat kau punya utang penjelasan soal bathtub bersama Eza, dan aku mau penjelasan itu sambil kita peragakan langsung di bathtub kamar mandi kita." dengan sengaja Gara berbisik dan bernapas di telinga Divine.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2