Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Derita Gara


__ADS_3

Mobil Ben memasuki halaman rumah Divine. Dengan cepat Ben membuka pintu untuk pasangan suami istri yang tengah bahagia itu.


Gara membantu Divine keluar dari mobil dengan memegang tangan kirinya.


Mata Divine mengelilingi halaman rumah yang tadinya hijau kini di penuhi dengan karangan bunga berwarna-warni hingga saling menutupi satu sama lain.


Ia teringat pemandangan beberapa tahun lalu saat ayah dan ibunya pergi untuk selamanya. Rumah ini juga di penuhi karangan bunga.


Divine masuk ke dalam rumah seluruh pelayan berbaris rapi di depan pintu menyambut kedatangannya.


Divine tersenyum ramah melihat semua orang menyambutnya.


Gara berhenti sejenak menunggu Ben. Sedangkan Divine terus berjalan masuk menggendong baby Gio menuju kamar tidurnya.


Entah apalagi yang kini Gara perintahkan pada Ben. Ia sedang berbisik di telinga Ben. Setelah mendapatkan anggukan dari Ben barulah Gara menyusul langkah istrinya.


Sesampainya di kamar Divine langsung merebahkan baby Gio di tengah tempat tidurnya. Ia tidur sangat lelap.


Gara masuk dan langsung melihat pemandangan indah. Divine berdiri di depan cermin mengangkat kedua tangan mengikat rambutnya. Mengikat tinggi. Kuncir kuda.


Tidak pakai lama, Gara langsung melajukan langkahnya. Mendekat pada Divine melingkarkan tangan di pinggang Divine. Memeluk.


Cup...cup...cup... kecupan mendarat di tengkuk Divine dan sekeliling lehernya.


“Rasanya sudah sangat lama kita meninggalkan kamar ini.” Gara masih menempel di tubuh Divine meletakkan wajahnya di pundak istrinya itu sehingga pipi mereka saling bersentuhan. Melihat bayangan mereka di dalam cermin.


“Ya sayang. Sebenarnya aku merasa sangat lelah, pasti sangat nyaman kalau aku berendam sekarang.” ucap Divine memegang tangan Gara di perutnya.


“Tidak bisa sayang, luka mu belum sembuh. Kau tidak bisa berendam bahkan mandi di bawah shower pun harus menjaganya agar tidak terkena air.” Gara melepas pelukannya berpindah tempat hingga berada di depan Divine.


“Ahh jadi aku harus mandi seperti di rumah sakit lagi?” tanya Divine.


Mandi di rumah sakit. Gara membasuh kain handuk dan membersihkan seluruh bagian tubuh Divine, tanpa terkecuali. Divine tidak suka, ia merasa seperti tidak mandi.


Tapi Gara menyukainya setiap pagi dan sore ia bisa memberikan nutrisi pada matanya.


“Iya sayang, lagian kan menyenangkan, suami mu ini menyentuh seluruh tubuh mu setiap pagi dan sore hari, dan sekarang bisa di tambah lagi di malam hari.”


Divine bergidik ngeri. Suaminya sangat bersemangat.


“Aaahhh.... ” Divine mendesah pendek. Kaget. Gara tiba-tiba menyentuh bukit kirinya. Ia langsung menjauhkan tangan Gara dan mengecup bibir Gara. Menghentikan suaminya agar tidak bertindak lebih jauh.


Divine merapikan bantal di sekitar baby Gio sementara Gara masih bersandar di meja rias Divine.


Setelah memberi baby Gio banyak ciuman. Divi menarik tangan Gara menuju kamar mandi. Ia siap untuk mandi di bantu oleh Gara.

__ADS_1


Senyum senang terpampang di wajah Gara. Ia bisa menyusuri seluruh tubuh istrinya lagi.


“Gunakan lebih banyak air sayang.” titah Divine hampir tidak merasakan air di badannya.


Rasanya lebih banyak ciuman Gara daripada air mengalir di tubuhnya.


Gara diam saja ia asik membasuh seluruh tubuh Divine menikmati lekuk-lekuk indah tubuh Divine yang sedikit berisi dari sebelumnya.


Belum selesai. Divine keluar meninggalkan Gara sendiri. Ia mendengar suara tangis baby Gio. Hanya mengunakan piyama handuk berjalan ke tempat tidurnya.


“Sayang ini ibu, kamu haus ya?” Divine merebahkan tubuhnya menyusui baby Gio.


Gara pun keluar dari kamar mandi menghampiri Divine yang tengah menyusui baby Gio. Duduk di belakang istrinya setelah memberi bantal mengganjal belakang Divine.


“Ahh terasa lebih nyaman, terimakasih.” ucap Divi dengan senyum terindahnya.


Tanpa sengaja tangan mungil baby Gio naik menyentuh buah dada yang lain ibunya.


“Oh apa itu? kau mau berbagi dengan ku. Yah itu baru benar, jangan mengakuisisi semua milikku.” Gara ikut menyesap payuda** Divine.


“Aaarhhh..” Divine menjerit kecil perutnya terasa lebih sakit.


Gara seketika menyudahi apa yang ia lakukan. “Kenapa? apa aku membuat mu merasa sakit?”


“Kenapa begitu, sejak kemaren kau bahkan menyusuinya?”


H**ah Tuan Gara ini, beda lah.


“Sudah ku katakan bukan, setidaknya kau harus menahan diri selama 40 hari.” sahut Divine.


Mata Gara membesar lalu meninggalkan Divine menuju ruang pakaian dan keluar dari kamar setelah selesai.


Divine yang menyusui baby Gio pun ikut tertidur bersama anaknya dengan payudara yang masih berada di luar area.


Bisa di bayangkan bukan seperti apa. Gak perlu visual kan.


Gara yang baru saja kembali ke dalam kamarnya tercengang karena apa yang dia lihat. Ia langsung mendekat pada Divine memegang bukit indah istrinya untuk ia kembalikan ke dalam tempatnya.


“Ceroboh, bagaimana kalau ada yang melihatnya.” gumam Gara kesal yang beriringan dengan antena bawah yang seketika aktif. Ia mendengus.


Sepertinya Divine sangat lelah, hingga tidak merasa Gara memegang salah satu bukit kembarnya.


Baru saja Gara ingin merebahkan tubuhnya di belakang Divine. Baby Gio bersuara kecil hendak menangis.


“Hey, kenapa?” dengan cepat Gara berpindah ke sebelah baby Gio menepuk-nepuk pelan paha mungil baby Gio.

__ADS_1


Baby Gio malah terlihat ingin menangis kencang.


Dengan cepat Gara mengambil baby Gio dan menggendongnya melihat raut wajah baby Gio yang sudah sangat merah bak tomat.


“Biarkan ibumu istirahat sebentar ya.” Gara berkata pelan pada baby Gio sambil menepuk pelan bokong baby Gio yang dibedong namun dengan 1 tangannya keluar dari kain bedong di dalam gendongannya.


“Terimakasih sudah kuat dan mau hadir di tengah kami. Ayah menyayangimu.” Gara melayangkan ciumannya pada baby Gio. Berbicara dengan sangat pelan sembari berjalan-jalan di dalam kamar.


“Jangan salah paham! Aku lebih menyayangi istriku daripada dirimu.” intimidasi Gara pada baby Gio yang sudah kembali tertidur.


Baby Gio malah tidak sengaja menggerakkan tangan dan meletakkan di pipinya dengan 2 jari terbuka membentuk 'piece'.


“Hah kau mengajak berdamai, ayah akan berdamai kalau kau tidak mengambil Diviku!” sahut Gara masih dengan suara pelan tak ingin membuat istrinya terbangun.


Baby Gio seakan membalas ucapan Gara. Ia mengerucutkan bibirnya versi lucu bayi baru lahir.


Gara membuka kecil pintu ke arah balkon untuk merasakan anginnya terlebih dulu. Setelah ia rasa angin tidak kencang. Gara pun keluar melempar pandangannya pada halaman rumah yang sudah kembali bersih dan hijau. Masih menggendong baby Gio ia kembali dan menutup pintu balkon.


Gara melihat Divine masih terlelap dan melihat baby Gio yang juga terlelap dalam gendongannya.


Gara ingin meletakkan baby Gio. Tapi Ia tidak bisa, tangannya pasti akan tertinggal lagi. Ia masih tidak tahu melepas tangannya saat meletakkan bayi.


Sebelum kembali ke kamarnya tadi, Gara menyempatkan melihat kamar baby Gio dan berlatih menggedong baby dengan alat peraga boneka Doraemon yang berada di kamar baby Gio. Ia sadar untuk membantu Divine setidaknya ia harus pandai menggendong bayinya.


Gara pun keluar untuk memanggil Ben. Pastinya untuk meminta Ben mengambil Gio dan meletakkan Gio ke dalam kamarnya.


Setelah ini akan ada drama sang ibu kehilangan bayinya.


begitulah ibu ketika baru terbangun dari tidur dan tidak melihat bayi mereka di sampingnya.


“Tuanbos, kamu yakin aku?” tanya Ben setelah menghampiri Gara.


“Tentu.”


“Tapi tidak perlu memakai seragam seperti pelayan lainnya kan.”


“Tidak, kau hanya bertugas saat aku ada di rumah.”


Entah apalagi yang Gara tugaskan pada Ben. Ben baru saja keluar dari kamarnya. Ia kembali tinggal di rumah besar ini.


“Ini tugas pertama mu.” Gara menggerakkan tangannya yang sedang menggendong baby Gio.


Ben mengambil baby Gio dari gendongan Gara dan membawa baby malang itu ke dalam kamarnya. Ia benar-benar malang sekecil itu sudah tidur di kamar sendiri.


Entah apa kata Divine nanti. Semoga saja dia tidak terkena amuk Divine yang mengakibatkan dirinya sendiri yang tidur terpisah dengan Divine.

__ADS_1


__ADS_2