
Maaf - kelabilan author.. đź¤
Hari-hari berlalu Divine tidak mengalami flek lagi. Hingga gerakan pertama dari janin itu menggetarkan dunia ayah dan ibunya.
Saat kandungan Divine berusia 18 Minggu Gara tengah mengelus lembut perut Divine yang terasa nyeri di kanan atas.
Maksud hati agar Divine merasa lebih nyaman. Namun jantung Gara malah di buat berdebar oleh anaknya sendiri lewat tendangan lembut yang mengagetkannya.
“Sayang..” ucap calon orang tua itu bersamaan, mereka merasakan tendangan.
Mereka diam sejenak menunggu gerakan itu lagi dan mereka mendapatkannya. Gara dan Divine berpelukan air mata wanita muda itu sudah tak dapat di bendung hingga mengalir.
Begitupun pria tampan sang raja gengsi ia menitikkan air matanya yang dengan cepat ia hapus.
“Nak lihat itu, ayah mu akhirnya memenuhi keinginan mama.” Divine melihat Gara menangis.
“Ini sesuatu yang sangat luar biasa sayang. Janin kecil yang tengah bergerak di dalam perut mungil mu ini.” Gara masih dengan mengelus perut Divine.
Hingga tiba waktunya untuk melakukan pemeriksaan lagi.
Dr. Stella, Gara dan Divine sudah duduk di sofa mengutarakan semua yang terjadi selama 2 Minggu ini di dalam ruang USG di rumah.
Janin bergerak. Tangan kaki Divine terlihat bengkak. Pusing dan lemas. Mual muntah. Beberapa hari sempat demam.
Gara memperhatikan raut wajah dr. Stella yang seketika berubah, namun dr. Stella dengan cepat menyetel raut wajahnya kembali.
“Kita lakukan sepeti biasa ya.” kata dr. Stella sesaat akan mengukur tekanan darah Divine di lanjut dengan memantau berat badannya. Ternyata berat badan Divine melonjak 4kilo. Bagaimana tidak tangan kakinya bahkan membengkak, pikir Divine.
Gara terus memperhatikan dr. Stella, karena beberapa kali tertangkap oleh mata Gara mengeluarkan gerak-gerik aneh.
Dr. Stella Lalu menyeka keringat di dahinya saat sudah selesai mengukur tekanan darah dan berat badan Divine.
Mereka melanjutkan pemeriksaan. Kali ini usia kehamilan Divine berusia 22 Minggu. Dr. Stella meminta urine Divine untuk melakukan pemeriksaan lab. Ia meragukan sesuatu.
Setelah semua pemeriksaan selesai. Gara mengantar Divine kembali ke kamar lalu ia pamit untuk berbincang dengan dr. Stella sebentar.
Saat Gara kembali masuk ke ruang USG dimana masih ada dr. Stella disana yang memang sudah Gara minta untuk menunggunya.
Dr. Stella meremas tangannya. Bibir bergetar serta keringat terus keluar walau di ruang yang dingin ini.
“Kau bisa jelaskan padaku.” Gara duduk di depan dr. Stella.
__ADS_1
“Maaf Tuan, ini masih dugaan, saya butuh pemeriksaan lagi.” Menunjukkan urine Divine di dalam wadah kecil.
“Kapan kau bisa memberitahu ku?”
“Besok, saya akan memberitahu Tuan.” dr. Stella menyeka keringatnya lagi. Tekanan Gara membuat kulitnya kaku.
“Temui aku di kantor, jam berapa pun saat hasilnya sudah jelas.” Gara berdiri meninggalkan dr. Stella.
Gara kembali ke kamar melihat Divine, dengan ketakutan yang membuncah di kepalanya. Namun dengan wajah yang sangat tenang.
Gara duduk di sebelah Divine yang sudah tertidur. Ia pandangi wajah istrinya itu yang kini terlihat tembem dan mencoba merasakan lelah Divine yang akhir-akhir ini terus istrinya itu keluhkan.
Gara membaringkan tubuhnya, masih menatap lekat istrinya itu. Ia sentuh wajahnya, berpikir kabar apa yang menunggunya esok hari.
Meraih pipi Divine dan mengelus lembut dengan ibu jarinya, 4 jari lain hanya menempel pada pipi Divine.
Merasakan itu, Divine masuk ke dalam dada Gara. Membenamkan wajah. Menghirup aroma khas tubuh Gara.
“Tidurlah sayang.” Gara meraba rumah anaknya yang sangat lembut. Perut Divine.
Bayi mungil itu menendang tepat dimana posisi tangan ayahnya berada.
“Hei, bocah kecil diamlah sebentar biarkan mama istirahat.” Gara mengetuk-ngetuk pelan asal tendangan itu.
“Egh, kau bandel ya.” ingin sekali Gara memasang wajahnya di perut Divine. Namun Divine masih membenamkan wajahnya tak mungkin ia bangunkan.
Gara hanya berbicara pelan dan mengetuk pelan asal tendangan.
Divine yang menyadari suaminya itu tengah berbicara dengan janin yang ia bawa kemana-mana itu langsung membalikkan tubuhnya menjadi terlentang namun tidak menunjukkan bahwa ia sudah bangun.
Gara pun bergerak membawa wajahnya menuju perut Divine.
“Ya begitu jadilah anak penurut." Gara mengelus perut Divine dan berbisik saat dia tidak merasakan ada tendangan cinta lagi dari dalam. Namun Ia kembali merasakan tendangan beberapa saat.
“Bocah, ayah tebak kau pasti wanita, keras kepala seperti mama mu.” pelan suara Gara membalas tendangan lucu janin itu dengan ketukan lembut 2 kali.
Bayi nakal itu kembali memamerkan gerakkannya.
“Iya, ayah tahu kau cantik. Nanti kau pasti akan suka dengan ayah mu yang tampan ini.” Gara terus meladeni gerakan juniornya.
Divine merasa hangat dengan percakapan ayah dan anak yang baru saja menunjukkan keberadaanya.
__ADS_1
Hingga Gara tertidur di dekat perut Divine. Ia menemani anaknya itu bermain sampai anaknya tertidur lebih dulu darinya, dan ia tertidur karena menunggu balasan dari dalam perut Divine.
Pagi Hari, Gara terbangun sudah dengan posisi yang benar, ia lihat Divine masih membungkus dirinya di dalam selimut yang sama dengannya.
“Sayang." Gara mengecup bibir Divine.
“Emb, pergilah aku masih ingin tidur.” Divine membelakangi Gara.
“Sebentar sayang.” Gara masuk ke dalam selimut membawa wajahnya ke depan area terlarang Istrinya itu.
“Hmm sayang, apa yang kamu inginkan?” Divine mengubah posisinya menjadi terlentang hingga kaki Divine terbuka di depan Gara di bawah selimut.
“Bentar, aku mau mengecek saja." Gara menyingkap sedikit kain penutup hutan gundul Divine. Ia menelan salivanya. sebelum membuka seluruhnya.
“Sayang.. aku lelah, mau tidur.” suara Divine memelas tanpa membuka mata, ia hanya merasakan apa yang suaminya itu lakukan.
Tadinya Gara hanya ingin melihat, apakah benar istrinya itu sudah tidak pernah mengekuarkan flek-flek darah lagi. Tapi siapa yang akan tahan jika sudah melihat tempat peraduan nikmat itu. Seketika alat ukur Gara menyala siap tempur. Namun ia harus meredamnya dengan mandi air dingin.**
Sore hari.
Dr. Stella masuk ke ruangan Gara di antar oleh Ben. Dengan tatapannya Ben tahu bahwa ia tidak di inginkan dan langsung kembali sesaat setelah mengantar dr. Stella.
Gara diam, ia hanya menunggu dr. Stella segera memberitahunya.
Jelas terlihat dr. Stella gemetaran. Ia ragu untuk menyampaikan berita yang ia bawa.
“Katakan apa pun itu!”
“Tuan, Nona Divine mengalami pre-eklampsia.” pelan tapi terdengar jelas.
Gara hanya diam, tapi tatapannya mengatakan untuk melanjutkan penjelasan dr. Stella.
Pre-eklampsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.
Pre-eklampsia harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin.
Dr. Stella sudah menjelaskan.
Mata Gara melebar mendengar kalimat terakhir dari dr. Stella.
Gara Menghela napas panjang.
__ADS_1
Apa pada akhirnya aku harus memilih?