Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Bebas dari Inkubator


__ADS_3

Hari berganti.


Divine masih di ruang ICU. Kondisi sadar.


“Sayang, apa yang masih kau takutkan, hingga jantung mu berdebar begitu cepat?” Gara menggengam tangan Divine.


Apalagi kalau bukan khawatir. Ia sangat khawatir bahkan dia tidak meninggalkan Divine selama di ruang ICU.


Divine mengangkat bahunya. Dia tidak tahu.


“Tidak perlu khawatir sayang, aku akan sembuh, sebaiknya kau temui anak mu?”


“Tidak, dia penyebab semua ini.”


Debar jantung Divine semakin cepat terlihat di layar monitor. Divine terkejut dengan ucapan suaminya itu.


“Divi...Divi...” Gara berdiri dari tempat duduknya.


“Tidak.. tidak.. emm aku hanya bercanda sayang, kau segera sehat dan aku akan membawa anak kita kesini bermain bersamanya.” cepat Gara berbicara namun tak memperbaiki kondisi Divine.


Dengan sigap dokter dan perawat sudah masuk ke dalam ruangan memberi pertolongan pertama. Menambah dosis obat.


“Tuan Kondisi pasien tidak baik, tolong jangan menambah pikirannya, membuat debaran jantung secara sadar.”


Karena debaran jantung yang terjadi pada Divine sesuatu yang terjadi dari dalam diri. Entah berupa guncangan yang membuat tubuhnya shock atau entahlah hanya tuhan yang tahu. Kondisinya sempat normal beberapa jam pasca persalinan. Namun tiba-tiba saja memburuk.


Pagi dan siang berganti Gara menyuapi Divine makanannya. “Maafkan aku sayang.” ucap Gara saat membersihkan bibir Divine usai makan siang.


Gara masih tidak meninggalkan Divine sendiri hingga sore hari.


“Aku akan membawanya kesini, kata Ben ia tumbuh sangat cepat berat badannya kini sudah 2.4kg.”


Divine berbinar mendengar cerita suaminya. Rasanya sangat senang walau ia cukup menderita namun anaknya sehat dan tumbuh dengan cepat.


Divine tersenyum dan menepuk bantal yang ia pakai. Gara naik ke ranjang Divine sesuai permintaan Divine. Bawah mata Gara terlihat hitam dan terasa sudah sangat berat. Sudah 2 hari 1 Malam ia tidak tidur.


“Tidurlah dulu, debar jantung ku juga sudah mulai turun, pasti ia kini sedang tidur, jangan menggangunya.” cakap Divine.


Gara memeluk istrinya dan mengendus pipi Divine. Lalu merapatkan hidungnya di pipi Divine. Menempel. Belum lama Gara sudah tertidur.


Sementara itu Ben sedang berada di ruang VVIP anggrek bersama box inkubator di sebelahnya dan meja kerja di depannya.


Menjaga anak dan menjaga keadaan perusahaan sekaligus. Tak ada yang mereka takutkan. Tak ada yang mampu bersaing dengan Andava grup. Mereka hanya menjaga kestabilan itu saja.


“Hai bocah kecil, kau sangat kuat sama seperti ayah dan ibu mu, tapi ternyata ayah mu cengeng sama seperti mu yang sekarang suka menangis.”


Pipi Ben gembung menahan tawanya. Rasanya senang sekali bisa menghujat Gara di depan juniornya.


“Kau harus sehat, ibu mu berjuang keras demi kehidupan mu.”

__ADS_1


“ E'k...” Suara kecil keluar dari bayi yang sedang tertidur itu dengan sedikit menggerakkan tangannya.


Mata Ben bersinar seakan bayi itu sedang menjawabnya.


“Ini om Ben, paman, uncle atau kakak juga boleh deh.” ucap Ben tersenyum bahagia.


“Oh ya 1, kau tidak boleh memiliki gengsi terlalu tinggi, itu sangat menyebalkan. ingat kata kakak ya.” Ben tertawa menutup mulutnya karena ucapan terakhirnya.


“Kau tidur lah lagi, aku akan kembali ke meja kerja ku. Liat meja kerja ku ada di samping mu, kau tidak perlu takut ya adek ku tersayang.” Puas Ben berbicara sesuka hatinya karena tidak ada Gara bersamanya.


Ia berbicara pada bayi yang tidur.


Pagi Hari Divine telah di bawa kembali ke ruangannya. Pemantauan selama 12 jam sudah berlalu sejak denyut jantungnya normal di malam hari saat jam 7 malam kini ia bisa kembali ke kamar dan bertemu buah hatinya.


Dr. Stella dan dr. Nicolas seorang dr. anak sudah menunggunya di kamar itu.


“Selamat pagi Tuan dan Nona.” ucap dr. Stella dan di ikuti oleh dr. Nicolas.


Gara membantu Divine untuk duduk pelan-pelan dengan raut wajah Divine yang tidak bisa berbohong, ia merasakan sakit.


Divine tersenyum sebelum mengucapkan apa yang sudah sejak tadi ia lirik.


“Apa aku bisa menggendongnya?”


“Tentu Nona, dia sudah bisa keluar dari inkubator hari ini dan dia sehat.” jawab dr. Nicolas.


Dr. Nicolas mengajarkan Divine cara menggendong seorang bayi dengan membantu meletakkan tangan Divine di tempat ya tepat.


Ben melirik Tuan Bos, ia mengulum bibirnya. Ia tahu, Gara pasti sangat kesal melihat dr. Nicolas sedang menyentuh tangan istrinya.


Namun Gara menampilkan wajah datar saja seolah ia baik-baik saja.


Bayi kecil itupun kini dalam gendongan Divine seketika bayi itu membuka mata dan langsung menatap ibunya.


Ohhh hati Divine terenyuh melihat anaknya kini sedang melihatnya. Walau mungkin sang bayi belum melihatnya jelas.


Semua mata pun ikut berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Haru bahagia.


Air mata haru mengalir di sudut mata sang ibu.


“Anak mama.” ucapnya penuh rasa kasih dan sayang.


Sementara Ben membubarkan dokter yang ada di ruangan serta meminta untuk membawa box inkubator itu keluar.


“Gara lihat dia lucu sekali?” panggil Divine.


Gara yang sedang menarik tisu basah melangkah mendekati Divine lalu membersihkan tangan Divine yang di sentuh dr. Nicolas dengan tisu basah di tangannya.


“Ada apa sayang, apa ada yang kotor?” tanya Divine bingung melihat Gara membersihkan tangannya.

__ADS_1


Ben hanya memperhatikan kedua orang tua baru itu seraya membuka botol air mineral, ia merasa haus.


“Kau harus membersihkan tangan mu, saat hendak menggendong bayi.”


Seketika Ben memuncratkan air yang sedang ia minum mendengar ucapan Gara. Ia tahu benar Gara sedang membersihkan jejak tangan dr. Nicolas.


“Egh ada apa Ben?” tanya Divine melihat Ben yang tersedak.


“Tidak apa Nona, benar kata Tuan bos, tangan harus bersih dari segala noda saat hendak menggendong bayi.”


Termasuk noda tangan suami mu juga kalau perlu. Tambah Ben dalam hatinya.


“Oh yaa, aku tahu itu, Terimakasih sayang.” Divine beralih pada suami di depannya.


Divine meraba seluruh wajah bayi kecil itu dengan 1 jarinya. Hidung mancung sudah sangat jelas di wajah bayi mungil itu.


“Apa dia perempuan? wajahnya terlihat cantik.


Gara dan Divine tidak memperdulikan jenis kelamin anaknya. Apa pun itu dia tetaplah anak yang sangat mereka tunggu.


Gara menoleh ke arah Ben. Gara pun belum sempat menanyakan perihal kelamin pada dokter begitu pun pada Ben.


“Oh kalian belum tahu, Dia lelaki tampan sama seperti ku.” ucap Ben dengan sombongnya berada sedikit jauh dari Gara dan Divine.


“Ohh kau lelaki ya, ayah mu pasti akan cemburu dengan mu kelak.” ucap Divine menyentuh dagu halus nan mungil.


“Mana mungkin, dia anak ku. Aku tidak akan cemburu.” sanggah Gara.


“Oh dia kenapa? kenapa dia seakan bergeleng-geleng?” Divine melihat bayinya terus meliak-liukkan kepalanya.


Ben mendekat dan melihat adiknya menurut Ben.


“Oh itu biasanya perawat akan memberinya susu.” jawab Ben sependek yang ia tau.


Dengan cepat Divine langsung membuka bagian atas baju yang ia kenakan dan mengeluarkan payudaranya.


Di saat bersamaan Gara menyuruh Ben untuk menutup matanya lalu segera keluar.


Dengan pintar bayi itu sudah pandai menghisap susu dari payudara ibunya.


Gara melihat raut wajah Divine yang tidak biasa.


“Apa kau terangsang sayang?”


Divine menggigit bibirnya menahan tawa karena ucapan suaminya itu.


Gara semakin berpikir Divine terangsang karena kini Divine menggigit bibirnya. Divine sedang menahan suara desahnya. Begitu pikir Gara.


Maklum, selama ini saat Gara menyesap payudara istrinya, Divine auto mendesah dan suka menggigit bibir bawah biar desahannya tidak keluar. :-D

__ADS_1


__ADS_2