Istri Pajangan

Istri Pajangan
GIODAVA


__ADS_3

Sesuai permintaan beberapa pembaca yang ingin kelanjutan cerita ini. Jadi author terusin ya. Mohon doanya agar author diberi haluan yang lancar agar bisa menyelipkan banyak komedi yang bisa bikin temen-temen pembaca terpingkal-pingkal. Soalnya author juga suka hal-hal yang menggelitik.


#############################


 


 


Alkisah. Gara yang tidak pernah berubah semakin hari semakin menempel pada sang istri. Masih sebagai pemegang saham di Andava grup sebagai pemisah kekuasaan anak-anak mereka dengan jumlah saham yang di bagi rata. Divine tidak ingin anak-anaknya merebutkan kekuasaan hingga menindas satu sama lain.


Giodava yang lebih tua dari saudaranya yang lain saat ini menjabat sebagai Ceo di Andava. Dia juga berpikir sama dengan ayah dan ibunya. Tidak menginginkan adanya perebutan kekuasaan atau membuat yang lain merasa di anak tirikan. Mereka semua memiliki hak yang sama dan fasilitas yang sama.


 


Tapi semua berbeda jika menyangkut perihal rumah tangga. Gara adalah satu-satunya orang di rumah itu yang hanya boleh di layani oleh ibu dari anak-anak mereka. Selebihnya Gara lah yang melayani anak-anaknya.


 


Sekarang Giodava telah menikah dengan wanita pilihan ayahnya. Awalnya Divine menolak dengan keputusan yang Gara ambil untuk anaknya. Namun Gara berhasil meyakinkannya. Dengan setujunya sang ibu. Giodava yang sangat menyayangi ibunya pun ikut dalam keputusan sang ayah.


Wanita biasa yang bukan dari kalangan yang sama dengannya. Pikir Gara tidak akan ada wanita kaya seperti Divine. Ia memang menyukai wanita biasa sejak dulu. Hingga ia pun memilih gadis biasa untuk anaknya. Pastinya Gara pun menyembunyikan keadaan anaknya yang tidak terlihat memiliki kekurangan. Giodava sangat sempurna di mata manusia.


 


Namun suatu hal terjadi hari ini. Pernikahan yang sudah di gelar secara diam-diam atas permintaan Gio kini sudah selesai. Wajah wanita yang kini jadi istrinya pun belum ia lihat. Ia yakin ayahnya tidak akan memilih wanita yang buruk untuknya. Gio sangat berbesar hati untuk pernikahannya. Ia tahu ayah dan ibunya juga hasil perjodohan.


Gio membuka kain tipis penutup wajah istrinya karena Divine memintanya.


Gara tersentak. Ia terkejut melihat wajah mempelai wanita yang ia lihat sekarang bukanlah orang yang sama. Gara yakin walau wajah wanita itu kini tengah di make-up.


Gara berpikir keras selama perjalanan pulang ke rumah. Ia diam di sepanjang jalan.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? cemburu dengan mereka?" tanya Divine yang menyadari perubahan sikap suaminya.


Gara tersenyum. "Tidak akan istriku, aku hanya bisa cemburu dengan hal-hal mengenaimu."


Divine memajukan bibir bawahnya. Rasanya ia sudah kenyang dengan kata-kata gombalan yang terus terlontar dari bibir Gara selama puluhan tahun yang sudah berlalu ini.


"Gio, sayang kau antarlah menantumu itu masuk, aku ada urusan sebentar." ucap Gara setelah sampai dan ia pun berlalu di temani supir.


Gio jalan terlebih dulu. Gio tidak banyak bicara setelah kehadiran wanita ini di tengah mereka. Inah. Entah bagaimana Gio menghadapi istrinya, bahkan dari namanya saja Gio tak menyukainya.


Inah berjalan dengan lemah lembut terlihat sangat lamban. Bahkan pelayan rumah merapatkan gigi mereka saat melihat cara berjalan Inah masuk ke dalam rumah besar itu.


 


Seperti ada ketakutan besar di wajah Inah saat melihat rumah baru yang akan menjadi rumahnya. Dia memegang wajahnya beberapa kali seperti memastikan riasanya masih menempel dengan baik di wajahnya.


"Gio bawa istrimu untuk istirahat." titah Divine sembari melepas rangkulan tangannya di lengan Inah menantunya.


Tapi Inah masih terus menggenggam tangan Divine. Hanya Divine yang bisa ia harapkan saat ini. Aura Divine saat berada di dekatnya sangat jauh berbeda dengan aura Gara terlebih Gio suaminya.


Divine kembali tersenyum dan mengangguk. "Gio kau bisa pergi terlebih dulu, sepertinya Inah masih ingin disini."


"Iya Ma." sahut Gio dan berlalu meninggalkan istri dan ibunya.


*Lama pun tidak apa Ma*, Gio tidak menginginkan istri. Gumam Gio sembari berjalan menuju kamarnya.


"Ada apa sayang?" tanya Divine setelah menengok kearah pintu utama. Rasanya dia juga merindukan suaminya. Padahal baru berapa saat tidak berada di sampingnya.


"Emm, a-aku." Inah terus terbata ia tidak bisa berbicara tangannya gemetar dan langsung mengusap kuat pipinya hingga menghilangkan bedak yang menutupi area pipi Inah dan menunjukkan warna kulit aslinya.


Kulit yang sedikit gelap di sertai bekas jerawat. Matanya merah dan air bening menggenang di bola matanya.

__ADS_1


Divine yang merasakan ketidakpercayaan diri Inah langsung membawa Inah masuk ke dalam kamarnya. Divine sangat terkejut namun dia mampu untuk tidak menunjukkannya. Bergumam di dalam hatinya. Bagaimana bisa Gara memilih wanita yang belum ia kenal bahkan wajahnya pun tidak menarik untuk menjadi istrinya. Divine berharap ada karakter menarik dari menantunya itu. Agar Gio tidak menyesal telah menikahinya.


"Tidak apa sayang, kau tidak perlu merasa buruk karena parasmu." Divine memberikan sabun cuci muka pada Inah meminta inah untuk membasuh wajahnya.


Inah yang percaya pada Divine langsung menuruti perintah Divine. Ternyata bukan hanya di bagian pipi Inah yang memiliki masalah kulit. Bahkan di dahinya ada calon jerawat yang akan tumbuh. Divine mencoba tenang.  Wajah  Inah benar-benar butuh pertolongan.


"Ini akan menjadi besar." tutur Inah pelan menunjuk bagian dahinya.


"Sudahlah, kau duduk disana." Divine meminta Inah untuk duduk ia tidak ingin Gio mengetahui rupa aslinya wanita yang kini telah menjadi istrinya. Divine memberikan baju baru untuk mengganti gaun pernikahan yang melekat di tubuh Inah.


Divine mulai bermain dengan peralatan rias wajahnya hingga menghasilkan Inah dengan wajah korean look.


"Ah rambutmu," celetuk Divine ia mengambil gunting dengan sangat yakin akan memotong rambut menantunya itu walau ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya.


"Rambutmu bagus, tapi tidak terawat, sepertinya ibu atau ayahmu memiliki rambut yang bagus." Rambut Inah ikal dengan bulatan besar, tebal namun karena terlalu panjang dan diikat sembarangan membuat gelombang yang tidak enak di pandang mata.


Inah hanya diam. Dia tidak terbiasa mengeluarkan banyak kalimat.


"Sekarang rambutmu lurus semua yang ikal sudah habis terpotong." tutur Divine.


"Nanti akan kembali keriting." jelas Inah.


"Ini bukan keriting tapi ikal, banyak orang yang membuat rambut seperti itu di salon, sedangkan kau di anugragi sejak lahir. Karena itu ikal di ujung rambutmu akan kembali seiring rambutmu memanjang."


"Sekarang ayo ke kamarmu." tambah Divine.


Inah kembali ketakutan. Ia kembali memegang wajahnya lalu menggenggam jarinya kuat.


"Tidak perlu takut, semuanya bisa berjalan dengan baik seiring berjalannya waktu." Divine menyakinkan Inah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2