
Pyuuhh....
Divine menghembuskan napas. Beberapa saat lalu ia baru saja memecah teka-teka merakit tempat tidur bersama Gio. Tertawa bersama saat mereka menyadari mereka terbalik memasangnya dan harus melepasnya lagi dan merakit ulang.
"Jus alpukat kesukaan Mama?" Gio menyodorkan jus alpukat saat tiba di kamarnya menemui ibunya yang sedang menatap sekeliling kamarnya. Cat putih dengan seprei biru gelap. Lemari hitam. Meja dan kursi untuk Gio belajar yang sudah tertata rapi.
"Terimakasih Gio, Mama merasa sudah memiliki anak yang berumur 15 tahun sekarang." Divine mengambil gelas dari tangan Gio dan langsung menyesapnya. Sementara Gio hanya menegak air puti.
"Kamarnya bagus ya Ma." ucap Gio lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Iya sayang bagus, tidak percuma kerja keras mu." timpal Divine walau ia menyadari kamar ini tidak ada apa-apanya di bandingkan kamar Gio di rumah lamanya yang sudah ada sejak ia berumur 1 minggu di lengkapi kamar mandi dalam, balkon, pintu penghubung ke kamar ayah dan ibunya.
Mungkin seharusnya aku tidak membawa Gio bersama ku, tapi bagaimana bisa, ibu selalu membuatku bertengkar dengan Gara dan melibatkan Gio. Di tambah ia selalu membuat ku merasa bersalah. Walau kenyataannya memang benar aku bersalah. Divine menangis melihat semua yang telah terjadi muncul di ingatannya.
Untunglah Gio tertidur hingga tidak melihat ibunya menangis dalam lamunannya. Divine menatap wajah tak bersalah Gio namun ia ikut merasakan penderitaan di persembunyiannya. Tidak punya teman, tidak berani keluar untuk berlibur. Benar-benar seakan berada di dalam sangkar dengan sangkar yang tidak terlihat.
Divine teringat suatu malam saat Divine sedang menenangkan Gio yang baru saja mendapatkan vaksin dengan suntikan di pahanya hingga Gio sangat rewel bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya. Tiba-tiba Gara mengambil Gio dan membawa Gio ke kamarnya meletakkan Gio begitu saja di tempat tidurnya. Cukup aneh bagi Divine. Kali itu Gara sangat berlebihan hingga menyulut emosi Divine. Merasa Gara tidak mengerti keadaanya dan terus-terusan cemburu pada Gio.
Divine tersadar. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya saat mengingat kembali kejadian malam itu.
Apa yang membuat Gara sangat berlebihan malam itu? biasanya setiap kali ia cemburu ia tetap sabar dan menunggu gilirannya.
Divine kembali mengingat saat orang tua yang harusnya menyayangi mereka dan mengajarkan pengalaman hidup pada putra-putrinya malah melantunkan kalimat tidak masuk akal.
Bagaimana dengan berbagi suami.... bagaimana dengan berbagi suami.... bagaimana dengan berbagi suami. kalimat yang terus terngiang-ngiang setiap malam saat Divine menutup mata selama 1 bulan lamanya kalimat yang datang dari ibu mertuanya. Rasa bersalah yang mendarah daging kembali, di tambah hubungannya yang kerap bertengkar dengan Gara.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang ibu inginkan? Divine kembali tersadar mencoba menelaah semua kalimat yang pernah soraya ucapkan pada Divine. "Apakah ibu hanya memprovokasi ku? tapi sikap Gara pun nampak menginginkannya." Divine menopang jidatnya dengan tangan yang bertumpu di atas meja.
"Harusnya aku mengatakannya malam itu." ucap Divine lalu menghela napas mengingat Gio yang tiba-tiba mengisi aroma ruangan dengan aroma tidak sedap. Pup.
"Ternyata ia berdosa pada ku, menggagalkan ku mengeluarkan semua unek-unek di kepala ku malam itu, karena itu dia ikut menderita disini bersama ku." Divine tergelak merasa lucu dengan jalan ceritanya melihat ke arah Gio yang sedang terlelap dalam lelahnya.
"Apa yang membuat mu tertawa Ma?" suara Gio jelas. Melihat ibunya tertawa dengan malu-malu. Tersipu.
"Eh sudah bangun, ibu hanya mengingat mu saat kau masih kecil." sahut Divine melihat kearah putranya yang masih berbaring di tempat tidur.
Di sisi lain.
Soraya sedang berbaring diatas tempat tidurnya melihat ke langit-langit kamar seolah melihat gambaran semua perlakuannya pada Gara dan Divine. Ia tertawa keras lalu menangis. "Divine...Gio..." menangis terisak-isak. "Brav brengsek." raut wajah soraya berubah. Menggeretakan gigi. Lalu tertawa terbahak-bahak.
"Sayang, apa kamu tidak lelah bekerja?" Dora berdiri di samping Gara meraba lengan Gara.
Gara beringsut menjauh rasanya semua tubuhnya menjadi gatal saat berdekatan dengan wanita ini.
Gara melemparkan buku nikah ke atas meja. Seketika Dora melompat kegirangan akhirnya ia menjadi istri sah Gara. Orang yang sudah sangat lama ia idamkan untuk menjadi suaminya.
"Aku sudah memberi apa yang kau inginkan, jangan meminta apapun lagi dari ku dan cepat transfer saham mu ke akun ku dan mengembalikan posisi ku." kecam Gara pada wanita ulat bulu yang telah menambah kesulitan hidupnya.
"Itu sangat mudah sayang." Dora meraih ponselnya mengetikkan sesuatu disana.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian. Gara menghampiri Dora di dalam kamar setelah melihat saham yang dialihkan padanya bahkan tidak sampai setengah dari milik Dora.
"Mengapa kau membohongi ku?" bentak Gara saham yang harusnya menjadi miliknya harusnya 51% seluruh saham milik Dora. Namun yang ia terima hanya 20%. Mengcengkram lengan Dora yang tertutup oleh lengan baju panjang yang Dora kenakan namun bagian depannya menunjukkan setengah buah dadanya.
"Kau bertindak, seakan kau tidak membohongi ku." Dora dengan tenang menjawab kalimat yang Gara lontarkan padanya. Gara melepas kasar cengkramannya "Apa maksud mu?"
"Sudah beberapa hari berlalu, bahkan kau hanya menjadikan ku istri di dalam buku nikah!" timpal Dora dengan bibir tebalnya. Dora benar-benar sudah sangat ingin Gara menjamahnya. Namun bagaimana bisa berdekatan dengannya saja membuat Gara seakan tersengat ulat bulu Dan memilih tidur di sofa kamar ibunya.
Gara mengepalkan tangannya. mengeraskan rahang menahan diri untuk tidak memukul wanita di depannya ini. Ia keluar dari kamar utama dengan rasa marah.
Gara yang tadinya tidak bisa tidur di sofa kini pun telah terbiasa berada disana sepanjang malam. Raga yang terpisah namun jiwa mereka tetap bersama dalam penderitaan. Jika Gara tidak mau bertanggung jawab mengembalikan semuanya kembali ke tempatnya. Ia tidak perlu repot-repot melawan semua yang telah terjadi. Namun karena cintanya ia harus bertahan lebih kuat walau dengan hati yang sudah tercabik-cabik saat Divine mencampakkannya.
Bahkan semua ini terjadi karena ulah mu dan aku harus bekerja keras untuk ini. Kamu harus membayar semua ini setelah aku menemukan mu. Batin Gara sembari masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Gara melaju kencang membelah jalan yang tampak lengang menuju apartemen Ben. Pikirannya mengulang ucapan Dora yang menginginkan dirinya untuk berlaku layaknya suami. Memukul kuat kemudi menumpahkan kekesalannya yang menjadi tidak berdaya.
"Ben..." panggil Gara setelah masuk ke dalam apartemen dengan suara malas hingga tidak terdengar.
Pandangan Gara lurus ke depan, wajah datar dengan mulut sedikit terbuka. Menyaksikan bibir yang sedang beradu.
"Teruskan saja!" ucap Gara berlalu menuju kamar Ben. Kekasih Ben yang menyadari kedatangan Gara dengan segera melepaskan bibirnya. Namun Ben menariknya kembali. Karena sudah merasa tidak nyaman wanita itu tidak dapat menikmatinya lagi.
"Lupakan saja sayang, bahkan jauh sebelum ini dia lebih buruk dari ku." tutur Ben merasa wanitanya terganggu dengan keberadaan Gara.
Sementara di kamar Ben. Sprei yang baru saja Gara ganti telah basah karena air matanya. Mata dan hidung Gara merah. Menangis tanpa suara merasa rindu yang sangat mendalam. Mendekap foto Divine di dalam dadanya.
__ADS_1