Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 13


__ADS_3

Divine ikut melihat kearah pandangan Gio. Namun dia tidak melihat siapa pun atau sesuatu yang mungkin membuat Gio tertarik hingga terus melempar pandangannya kesana.


“Gio kamu lihat apa, Mama lagi ngomong sama kamu loh.” tutur Divine lagi.


“Tuhkan Ma, bahkan dia bisa melamun sekarang, melihatnya diam untuk berpikir sebentar saja tidak pernah sebelumnya.” tambah Bian mengadu.


“Apaan sih, udah sana pulang, aku tidak akan menelponmu sampai hari berganti.” Gio berdiri dan mengusir Bian untuk pulang. Melambaikan tangan pada ibunya, tersenyum sebelum pergi.


Bian dan Divine saling berpandangan. Merasa benar-benar ada yang tidak beres pada Gio. Sama-sama memiringkan kepalanya ke kanan saling menyampaikan apa yang mereka rasakan.


“Ya Bian, kau sedang apa!” suara Gara mengejutkan Bian dan juga Divine istrinya. Bian menarik bibirnya rapat melihat Divine dan berbicara lewat matanya.


“Pfft, yaudah sana pulang, Inah juga mungkin sedang menyiapkan malam, atau mau makan dulu?” cakap Divine pada Bian.

__ADS_1


Bian juga sudah sangat mengenal Gara. Dia tidak perlu menjawab apa yang Gara katakan padanya tadi. Itu hanya bentuk kecemburuan ayah Gio pada istrinya yang sedang bersama pria lain. Bahkan angin pun tahu seperti apa ayah bosnya ini. Jangankan Bian yang memang wajar untuk di waspadai anaknya sendiri saja ia perlakukan sama.


“Tidak usah Ma, Bian mau pulang saja, dan Bian libur besok jangan kangen ya Ma.” ucap Bian sebelum berpamitan untuk pulang. Dia hanya menunduk sembari tersenyum pada Gara yang  sedang melotot padanya, baru saja sampai dan berdiri di samping Divine.


Dari lantai atas ternyata ada seseorang yang masih meninjau keadaan di lantai bawah. Gio memperhatikan Asistennya itu sampai benar-benar pergi dari tempatnya tadi.


 “Sedang apa sayang?” tanya soraya, Nenek Gio yang sudah berdiri di sampingnya ikut melihat kebawah.


“Tidak nenek, Ini Gio sudah ingin kembali ke kamar, Nenek kenapa tidak istirahat?” Gio berbalik membelakangi pagar dan berjalan pelan yang diikuti Nenek Soraya.


Gio tersenyum. Apa yang neneknya ucapkan sangat benar. Itu semua permintaan ayahnya. Dia ingin kamar itu tetap begitu sampai akhirnya benar-benar harus di ganti.


Soraya mengangguk-ngangguk, paham dengan apa yang Giodava ceritakan. “Oia sayang, ayo ceritakan tentang istrimu, Nenek mu ini sungguh tidak tahu apapun.” begitu antusias bertanya pada cucunya.

__ADS_1


 “Nenek sudah lihat tadi kani, seperti itu lah dia.” jawab jujur Gio. Dia tidak punya satu pun kata pujian yang bisa dia tujukan dari Istrinya itu.


“Apa dia putri konglomerat sayang? Tapi kalau boleh menebak. Sepertinya bukan ya.” sebut Soraya sesuai dengan penglihatannya.


Gio mengangguk. Membenarkan ucapan neneknya.  Sementara soraya menahan ekspresi terkejut dari wajahnya. Tidak menyangka tebakannya benar, padahal ia hanya asal bicara mengira Inah sama dengan menantunya, kaya namun tidak sombong.


“Kalau begitu, siapa tadi nama istrimu itu, ya Inah, pasti menjebakmu ya?” tanya soraya  dan dibantu oleh  Gio untuk menyebutkan nama istrinya.


“Tidak nenek, Papa yang memilihnya untuk menjadikan istriku.” jelas Gio dan melangkah masuk ke kamarnya.


Soraya menutup mulutnya. Terkejut.


“Nenek kaget ya karena melihat Inah sangat jelek,” Gio menebak dari ekspresi wajah soraya sembari memegang gagang pintu kamarnya yang tersisa sedikit terbuka.

__ADS_1


“Dia bukan jelek Nenek, dia  cukup manis.” ucap Gio lalu menutup pintunya. Meninggalkan soraya di depan kamarnya yang tengah terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Inah sungguh tidak ada cantik-cantiknya ataupun manis, Jelek ya jelek begitu pikir Soraya yang membeku di depan pintu.


__ADS_2