
Ben pun berhasil keluar dari ruangan Gara dengan mengendap-ngendap.
Eh untuk apa aku mengendap, walau aku menghempaskan kaki ku mungkin juga tidak akan terdengar oleh mereka.
Ben bergumam kesal, menyesali apa yang baru saja ia lakukan.
"Ben, ada apa?" tanya Jerry yang sedari tadi melihat tingkah Ben saat keluar dari ruang Presdir.
"Jerry, kamu mau kemana, sudah balik sana ini bukan saatnya." ucap Ben mengabaikan pertanyaan Jerry seraya menarik Jerry untuk ikut bersamanya.
"Apa Divine dan Gara sedang bertengkar, sehingga kamu harus mengendap untuk keluar?" tanya Jerry yang terpaksa mengikuti Ben.
"Bertengkar apa? bahkan mereka seolah hidup berdua saja di dunia ini." jawab Ben, ia sangat kesal, rasanya ia ingin mengomel saja hari ini.
Sasya yang melihat Ben memegang tangan Jerry mengerutkan alisnya.
Apa karena ini, Ben tidak pernah melihat perhatian yang ku berikan.
"Hey, kenapa kamu?" tanya Shena melihat ekspresi tidak biasa di wajah Sasya, Shena berdiri melihat apa yang membuat wajah Sasya itu terlihat buruk, namun Shena tidak melihat apa pun, Ben dan Jerry sudah masuk ke dalam ruangan Jerry.
"Ada apaan sih?" tanya Shena lagi.
"Oh nggak, Oia Shena apa kamu pernah melihat orang yang menyukai sesama jenis, ya lelaki suka lelaki juga gitu?" Sasya bertanya pada Shena dan kembali duduk.
"Ya ada, kalau kamu pernah nonton drama thailand, banyak banget tuh di sana." jawab Shena sesuai yang ia liat di tv.
"Itu hanya drama, maksud aku di sini di depan mata mu sendiri." jawab Sasya malas melanjutkan pembahasannya lagi.
"Emang ada apa sih? lelaki yang kamu suka, ternyata suka sama lelaki juga?" tanya Shena lagi, ia cukup penasaran, karena Sasya orang yang tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya.
Sasya tidak menjawab lagi pertanyaan Shena. Sedangkan Shena selama ini hidup di lingkungan yang penuh banyak adat, jangankan melihat hubungan sesama jenis, melihat orang yang berpacaran di lingkungannya pun tidak pernah, ia banyak belajar hanya melalui tv, karena itu Shena cukup pintar untuk memprovokasi Vely dan menggoda orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri.
__ADS_1
Mereka yang terlihat berpacaran langsung akan di nikahkan, karena itu Shena suka bergelayut di tangan Gara, ia berharap seseorang akan melihatnya dan melaporkan kepada kepala suku desa hingga akhirnya mereka harus di nikahkan. Namun Gara terlebih dahulu telah menikah dengan Divine hingga ia tidak bisa lagi mengharap pada jalan itu di tambah dengan meninggalnya Nenek Yan penghubung antara Shena dan Gara membuat ia sangat jauh, jalan satu-satunya adalah mengikuti Gara dan keluar dari tempat tinggalnya.
Shena tidak perduli kalau ia harus merusak hubungan orang lain, namun ia tak mau terlihat bahwa dialah racun sebenarnya, bertemu dengan Vely seolah Tuhan sedang mendukungnya, begitu pikir Shena.
Jam kerja telah usai, bilik-bilik pegawai di lantai bawah sudah terlihat lengang walau masih ada beberapa pegawai yang masih berada di sana untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Gara dan Divine pun telah keluar dari ruangan mereka. Entah apa yang terjadi hingga pakaian Divine bukan lagi yang ia kenakan tadi.
Ben menghampiri Gara. Rasanya Ben sudah sangat malas bertemu Gara, ia merasa terabaikan dan tidak pernah di lihat lagi oleh Gara.
"Ben, apa kita bisa pulang sekarang." tanya Gara.
"Oh tentu." jawab Ben, seraya membalikkan badannya dan jalan di depan Gara dan Divine.
"Bukan kah kau seharusnya berjalan di belakang kami?" ucap Gara.
Sekarang yang terbaik aku berada di depan, aku tidak harus melihat kalian.
"Hah Ben, kenapa jadi kaku begitu." ucap Divine sembari melanjutkan langkahnya, ia tidak merasa bahwa Ben sedang kesal dengannya dan juga Gara.
Ben pun berjalan mundur, agar tidak melihat dua orang yang ada di depannya itu.
Mereka pun segera pulang dengan di antar oleh Ben.
Ben sudah menyiapkan headphone agar tidak mendengar suara apa pun dari kursi belakang, telinga Ben bisa terinfeksi bukan karena adanya luka yang tak kunjung sembuh namun karena adanya gesekan suara yang membuat telinganya menjadi sangat sensitif hingga memicu radang pada telinga dan berujung kematian.
Ben pun mulai menggerakkan mobil keluar dari gedung Andava, ia ingin memberitahu pada Gara dan juga Divine bahwa mereka bisa berbicara sesuka hati mereka tanpa harus memikirkan keberadaan dirinya, namun Ben mengurungkan niatnya dan langsung mengemudikan mobil saja, pikirnya tanpa ia ucapkan seperti itupun ia selalu seperti tak ada.
Di pertengahan jalan.
"Ben.. Ben.." Divine memanggil Ben dengan memegang pundak Ben, karena sedari tadi Gara memanggilnya, ia tidak merespon.
__ADS_1
"Hah ya, ada apa Divi?" tanya Ben seraya melepas headphone turun ke lehernya.
Divine melihat ke arah Gara, mengisyaratkan bahwa Gara lah yang memanggilnya.
"Ah, ada apa?" tanya Ben dengan memelankan laju mobilnya lalu berhenti di tepi jalan.
"Sayang coba raut wajah seperti tadi, Ben lihat wajah Divine?" Gara meminta istrinya itu mengulang ekspresi wajah yang baru saja Gara lihat yaitu menaikkan sedikit bibir atasnya dan dengan sedikit melirik ke atas, ekspresi jutek pada kebanyakan orang, dan meminta Ben untuk melihatnya.
Ah apalagi ini, aku harus berhenti hanya karena ia ingin aku melihat hal tidak penting begini.
"Div ekspresi wajah apa itu, bahkan tidak terlihat jutek sedikit pun." ucap Ben seolah tertarik dengan ketidakpentingan itu.
"Ya kan Ben, aku jadi ingin menciumnya." ucap Gara.
Dengan cepat Ben menaikkan kembali headphonennya ke telinga dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Besok aku harus menambah persiapan ku, mungkin baju anti raba harus ku persiapkan juga atau bius lokal pada pundak ku. Gumam Ben dalam hatinya.
Mereka pun sampai di rumah, seseorang sedang berdiri di teras.
"Pak Amo..." teriak Divine dan berlari ke arah lelaki tua yang berdiri di teras rumah sedang menanti kedatangan Divine.
Divine memeluk lelaki tua yang seumur dengan ayahnya itu. Belum lama Divine memeluk Tuan Amo, Gara sudah menarik tangan Divine.
"Gara, dengan lelaki tua seperti ku pun kau cemburu." ucap Tuan Amo dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ben yang melihat dari halaman rumah, memasang wajah datarnya, ia sudah sangat terbiasa dengan tingkah Gara yang seperti itu.
"Bukan seperti itu Tuan, maksud saya mari kita masuk terlebih dahulu." Gara tidak mengakui bahwa ia memang cemburu karena Divine berpelukan dengan pria lain.
Tuan Amo menaikkan alisnya, mengiyakan perkataan Gara namun ia tau Gara hanya berdalih saja.
__ADS_1