Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Jujur


__ADS_3

Divine yang terpojok di sofa bergerak ke samping dengan cepat hingga Gara tersungkur mencium sofa.


"Kau sudah 5 tahun tidak terlihat, siapa yang tahu kau sudah melakukan apa selama ini." cerca Divine berdiri di depan Gara yang baru saja kembali duduk.


"Aku masih perjaka sayang." melihat Divine dengan pandangan beringas.


Divine menyipitkan matanya mencari sebuah kebohongan pada Gara dimana ia tahu ada seorang wanita yang selama ini berada di sampingnya walau tidak jelas apa hubungan mereka.


Gara mendekat pada Divine menyudutkan istrinya di tembok bercat abu-abu.


"La-lalu siapa Dora?" tanya Divine terbata karena Gara sudah sangat menyudutkannya siap menerkam mangsa di depannya ini.


Gara mundur dan kembali duduk di sofa.


Saham yang berpindah tidak ada orang luar yang mengetahui agar terhindar dari perpecahan di segala arah termaksud pegawai Andava. Hingga Andava tetap berjalan dengan baik terlebih Gara tetap bekerja bak Presdir namun lebih tepatnya ia hanya berlaku sebagai Presdir pengganti. Semua dokumen yang ia setujui pada akhirnya Doralah yang membubuhi tandatangan.


Gara melipat tangannya. Bersedekap.


"Dora sebenarnya adalah Vely." tutur Gara menatap Divine menunjukkan bahwa ia mengatakannya dengan benar.


Deg.... Orang yang sangat berjasa atas hidup Gara sampai saat ini. Seakan tulisan itu sedang tertulis kapital di dalam benaknya. Hal yang pertama Divine ingat ketika mendengar nama Vely.


"Untuk apa kau di sini? Kembali lah sekarang!" Divine melangkah dan membuka pintu mempersilakan Gara untuk pulang.


Gara berdiri berjalan mendekat tangannya meraih pintu mendorong hingga tertutup. Memeluk Divine. Ia tahu apa yang Divine pikirkan.


"Semuanya sudah berlalu, itu hanya masalalu . Kau dan Gio lah masa depan ku." lembut memeluk Divine membelai rambutnya.


"Ternyata kau masih memperhatikan hidup ku ya." Gara memegang lengan Divine melihat wajah Divine dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Divine merasa sangat tidak sebanding dengan Vely dan telah merebut kebahagiaan yang harusnya wajar Vely dapatkan.


"Kau berdosa sekali sayang." tambah Gara. Diam-diam tahu bagaimana kehidupan Gara namun tetap diam saja dalam persembunyiannya.


"Mungkin kita harus mengakhiri hubungan kita dengan baik." lafal Divine melihat dengan pandangan lemah tak berdaya pada lelaki yang masih ia cintai walau telah bertahun-tahun tidak bersama.


Ssssssttttt... Gara seketika menempelkan jarinya pada bibir Divine.


"Tidak ada hal seperti itu dalam hubungan kita, stop berbicara hal yang tidak mungkin ku lakukan." Menangkup wajah Divine dengan dua tangannya. Memasang wajahnya di depan wajah Divine yang melihat ke bawah.


"Lalu aku harus apa? Aku tersiksa dengan kenyataan ini." menetes sudah air mata Divine yang sejak tadi sudah menggenang di bola matanya.


Gara mendekap Divine masuk kedalam pelukannya. Mencoba mengerti apa yang Divine rasakan.


"Harus kah aku melakukan operasi dan mengangkat ginjal yang ada di dalam diri ku sayang."


"Bodoh, itu sama saja kau mengakhiri hidup mu."


"Tidak mengapa, jika itu bisa membuatmu berdiri di samping ku hingga akhir."


Gio datang dan memeluk kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.

__ADS_1


"Apa pelukannya sudah? Gio lapar Ma?" ucap Gio dengan kepala menempel di pinggang ayah dan ibunya.


Gara duduk beralih pada Gio. "Kamu ingin makan apa sayang? Apa ibu mu memberi mu makanan sehat dan enak selama ini?"


"Tentu saja, masakan ibu sangat enak. Tapi ibu tidak pernah mengijinkan Gio untuk makan pizza, burger dan lain lain." lapor Gio pada sang ayah.


"Karena itu tidak baik Gio, tapi kalau untuk sesekali itu tidak akan masalah, jadi ayo kita pergi makan." ajak Gara pada Gio.


"Yeeee....." Gio bersorak senang karena akhirnya bisa hidup seperti orang lain pada umumnya.


"Ayo Ma." Gio sudah menarik tangan ibunya.


"Tunggu sayang, Mama ganti baju dulu." ucap Divine berbalik hendak menuju kamarnya Namun Gara menghentikannya.


"Tidak perlu, kau terlihat sangat manis dan lucu mengenakan pakaian seperti itu."


Daster. Divine hanya sedang memakai daster sedikit longgar. Tapi tidak robek-robek seperti daster paling nyaman milik emak-emak.


Divine memandangi dirinya dari atas hingga ke bawah.


"Tidak-tidak, paling tidak tunggu sebentar aku akan mengambil sweater saja, kalian bisa menunggu di depan." Divine sudah berlari masuk ke kamarnya mengambil belt dan sweater panjang hingga betisnya.


Memakai belt di pinggang untuk kesan pengalihan yang ia pakai bukanlah daster dan sweater yang lebih panjang sedikit dari dasternya dengan sedikit rambut di sekitar pelipis kanan dan kiri ia tarik kebelakang dan mengikatnya.


"Mama terlihat beda walau dengan baju yang sama." ucap Gio.


"Kau benar sayang, ibu mu adalah yang tersudahlah, papa tidak bisa berkata-kata lagi." Gara membuka pintu mobil untuk Divine dan Gio.


Setelah menghabiskan lebih dari setengah makanan yang tersaji.


"Gio bagaimana kalau kembali ke rumah mu yang sebenarnya?" ucap Gara sembari menikmati saladnya.


"Tapi kamar Gio di rumah sangat bagus dan belum sampai 1 bulan Gio tempati." Gio menyayangkan jika harus meninggalkan kamarnya sangat cepat. Sembari menikmati es cream.


Sementara Gara sedang mengartikan ucapan Gio. Bahwa selama ini Gio terus tidur bersama Divine.


Divine mengamati Gara. Ia tahu Gara memikirkan hal yang berbeda.


"Oh begitu, kalau begitu papa saja yang ikut tinggal di rumah Gio yang sekarang ya." tutur Gara.


Divine menaikkan alisnya terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Gara. Ia pikir Gara akan membahas kenyataan Gio masih tidur dengannya selama ini.


"Ya pa, tapi papa tidak bisa tidur di kamar Gio, ranjang Gio hanya cukup untuk 1 orang. Papa bisa tidur di kamar mama, ranjang mama lebih luas." celoteh Gio.


Wah Gio. Kau salah berkata seperti itu. Tanpa kau pinta pun. Papa mu itu akan dengan sendirinya tidur di kamar Mama. Batin Divine.


"Bagaimana kalau tidur bersama di kamar Mama?" Gara menyarankan untuk tidur bertiga.


Divine semakin terkejut. Apa waktu telah merubahnya. Divine tak mengira suaminya itu bisa berubah.

__ADS_1


Gara tersenyum kearah Divine yang tampak bingung.


"Hmm liat nanti deh Pa, karena Gio sudah sangat betah dengan kamar Gio. Oia Pa beberapa hari yang lalu Gio lihat berita lama. Pengusaha yang bangkrut ada nama Oma Soraya dan kakek Brav disana, apa cuma kebetulan?" tanya Gio. Walau tidak tinggal bersama. Divine tidak menyembunyikan identitas Gio siapa ayah dan kakek neneknya serta apa pekerjaan mereka.


Gara melihat kearah Divine. Wajahnya seakan berbicara. Ceritakan saja sesuai yang terjadi.


"Iya sayang benar itu kakek dan Oma mu. Oma ada di rumah tapi kakek sudah pergi bersama wanitanya." jawab Gara sesuai kebenaran apa yang terjadi.


Divine langsung menyela karena ucapan Gara terlalu jauh.


"Gio apa sudah selesai, Mama rasanya lelah dan ingin pulang." berbicara pada Gio. Sengaja ia menghentikan kalimat Gara karena ada yang harusnya tidak di dengar oleh Gio cukup pada intinya saja begitu maksud Divine tadi jika ingin memberitahu putra mereka.


Divine terkejut mendengar ayah Brav memiliki wanita lain. Seakan tidak trauma pada apa yang terjadi di perusahaannya.


Mereka pun sudah sampai di rumah. Karena kekenyangan Gio tertidur. Gara menggendongnya masuk ke dalam kamar, merebahkan Gio dan memakaikan selimutnya.


Jadi ini kamar yang kau bilang bagus. Gara tersenyum melihat-lihat kamar Gio lalu keluar mencari keberadaan Divine.


"Diviku..." suara Gara pelan sembari melihat-melihat seluruh sisi rumah sederhana Divi.


Gara pun menemukan Divi di dapur sedang mencuci gelas. Seketika memeluknya dari belakang.


"Aku sangat merindukan mu sayang, kau sangat jahat padaku." ucap Gara.


Gara melepas pelukannya dan duduk di kursi dengan meja bundar. Ia pikir ia harus mengatakannya sekarang sebelum salah paham terjadi.


"Dora ada di rumah dan ia menganggap aku adalah suaminya, karena aku memberikan buku nikah padanya."


Divine yang sedang mencuci garpu berbalik berjalan kearah Gara seakan hendak membunuh Gara dengan garpu di tangannya. Bisa-bisanya ia berlaku mesra sejak tadi sementara ia telah menikahi wanita lain.


Gara menaikkan tangannya ke depan wajahnya "Dengarkan aku dulu, buku nikah itu palsu, istri ku cuma kamu dan selamanya kamu." lafal Gara cepat sebelum garpu itu menempel pada ginjalnya.


"Aku merasa sedang kau bawa ke tempat tertinggi lalu kau hempaskan dengan ucapan mu sebelumnya." duduk berhadapan dengan Gara di meja.


"Ahh harusnya aku menyimpannya saja, dan melihat mu bagaimana jika bertemu wanita lain yang mengaku sebagai istriku."


"Jika wanita itu Vely, aku akan mundur. Jika orang lain aku juga akan mundur haha." Divine menutup mulutnya.


"Kau benar-benar sudah tidak mencintaiku Div." Lemas Gara di tengah candaan Divine.


"Bercanda papa Gio, jika aku sudah tidak mencintaimu? Aku sudah melanjutkan hidup ku dari bertahun-tahun lalu tidak perlu berharap kau mencari ku."


"Bodoh, kau menyiksa dirimu sendiri."


"Setidaknya, kini kau sudah tidak cemburu pada Gio." tutur Divine menyampaikan apa yang ia lihat saat makan siang tadi.


"Siapa bilang aku tidak cemburu, aku hanya menahan diri, dan aku berhasil." Gara sudah berpindah menarik kursinya lebih dekat dengan Divine.


Menatap bibir Divine yang tanpa pewarna terlihat sangat manis dan lembut senada dengan ronanya berwarna pink muda.

__ADS_1


Tangan Gara lembut menyentuh leher Divine yang terus naik hingga meraba bibir Divine dengan jari-jarinya.


__ADS_2