Istri Pajangan

Istri Pajangan
Obat kangen


__ADS_3

“Istriku, Giovani terus menangis!” pekik Gara dengan Giovano dalam timangannya yang juga mengeluarkan jerit tangis. Mengayun-ayun pelan Giovano ditangannya. Hanya ****** ***** yang melekat di tubuh Gara. Ia baru saja menunaikan hal yang sudah menjadi sangat sulit ia lakukan.


Divine berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum menyentuh putra-putrinya yang terbangun karena kegaduhan yang mereka buat.


“Sebentar ya sayang,ini karena ulah ayah kalian.” Sahut Divine dari dalam kamar mandi, lalu suaranya mengecil. Menggerutu pada Gara.


Ayah yang kini memiliki tiga anak dengan dua anak kembar yang berusia 6 bulan selalu mencoba kesempatan yang hadir, tanpa menghiraukan waktunya cukup atau tidak. Bayi-bayi mereka yang bisa terbangun kapan saja karena suara atau haus dan lapar yang tidak dapat diduga bukan penghalang untuknya untuk terus mencoba.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar yang diiringi suara Giodava memanggil nama adik-adiknya begantian.


Gara terkesiap dan langsung berjalan ke arah pintu. Namun dia berhenti menyadari sesuatu di balik celananya masih dalam kondisi sangat baik.


“Tidak mengapa, kau belajar saja.” sahut Gara dari dalam kamar. Nyatanya suara tangis bayi kembar itu masih terdengar di telinga sensitif sang kakak.


“Ma… Apa Papa melakukan sesuatu?” suara Giodava nyaring.


“Hei apa maksudmu, kau belajar saja yang benar.”


Bagaimana Gio tidak memikirkan hal lain. Ayahnya itu sering kali memperebutkan Divine dari anak-anaknya. Terlebih sekarang ketika kembali dari bekerja. Posisi Giovani dan Giovano seketika tersisihkan. Ibunya harus mencium dan memeluk sang ayah terlebih dulu. Membelai wajah Gara dengan lembut mencium dengan tarikan napas seolah bayi saat Gara tiba di rumah.

__ADS_1


Divine membuka pintu kamarnya sembari


Menggendong Giovani dan Giovano yang berada di stroller. Setelah Gara masuk ke dalam kamar mandi.


“Gio masih disini sayang?”


“Ya Ma, suara adik-adik ku ini mengganggu.”


Divine menampilkan wajah tak suka tidak serius.


Maksud Gio adalah dia tidak tenang jika mendengar suara tangis adiknya. Khawatir terjadi sesuatu pada kesayangan-kesayangannya itu.


Divine menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia menjawab. Terbangun karena kegaduhan yang mereka ciptakan.


“TIdak seperti biasanya, adek selalu tidur setelah makan dan akan tidur lebih lelap dari siang hari.” tutur Gio yang sudah sangat memahami adik-adiknya.


“Adek nggak kenapa-napa kan Ma?” khawatir Gio lagi.


Divine tersenyum. Mengiyakan bahwa adik-adik Gio baik-baik saja.

__ADS_1


“Mama sama Papa sedang apa? mengapa Papa tidak segera membuka pintunya tadi?”


Divi menghela napasnya. Gio semakin banyak tanya sekarang. Dulu dia merasa Gio pendiam karena kurang bicara tapi semenjak bersama ayahnya, Gio rasanya menanyakan semua hal.


“Kan kau tahu Papamu seperti apa, dia sangat cemburu padamu.” jawab Divine sekenanya.


Seketika Gio berteriak agar Gara mendengarnya di kamar mandi.


“Papa, istrimu mengajakku jajan es krim.”


“Gio kamu sudah tahukan jawabannya apa!” jawab Gara yang gerakannya semakin cepat agar bisa segera menyelesaikan mandinya.


Divine mengkerutkan alis. Tak tau apa yang di maksudkan oleh suaminya.


“Kita harus pergi bersama Papa juga Ma.” ujar Gio tadinya ia hanya berniat bercanda pada ayahnya. Tapi Gio mengubahnya. Membiarkan sang ibu tahu bagaimana suaminya.


Di saat yang sama Gara muncul dari balik pintu. Membuat senyum merekah di bibirnya. Senang dengan jawaban sang anak sulungnya yang selalu ia didik dengan tegas menjelaskan ibunya adalah istrinya. Apapun yang dia lakukan bersama Divine. Gio harus menyertakan Gara ikut bersamanya.


Ini juga perintah ayahnya, sebenarnya ada berapa banyak yang Gara tekankan pada anak-anaknya. Apa akan terus seperti ini hingga kami menjadi kakek dan nenek. Gumam Divine dalam hatinya.

__ADS_1


Gara berjalan sambil sedikit menari masuk ke ruang pakaian sangat bahagia putra sulungnya menjadi anak penurut.


__ADS_2