
Gara menunduk di depan Divi, menekuk lutut nya di lantai, meraih tangan Divi membuat Divi melihat ke arah Gara yang sudah bersimpuh di depan nya.
mereka saling bertatapan. "baru kali ini aku melihat ekspresi wajah nya seperti ini" gumam Gara dalam hati. Gara mengangkat tubuh nya hingga sejajar dengan Divi dan memeluk Divi erat meletakkan dagunya di pundak Divi.
"jika kau ingin menangis, menangislah Divi" ucap Gara tanpa melepas pelukannya.
Divine yang mendengar ucapan Gara langsung menumpahkan air mata nya,yang sudah sedaritadi terbendung di matanya.
Divine masih menangis tanpa suara, air matanya terus mengalir membasahi baju Gara, "jika kamu menangis karena kita akan bercerai, maka jangan lakukan itu" Gara masih memeluk Divine kini semakin erat saat ia berucap kata bercerai.
sata Divine mendengar ucapan Gara, Divine mendorong Gara agar melepas pelukannya.
"Diamlah, Biarkan aku memelukmu sebentar"
Divine pun diam, membiarkan Gara memeluknya.
__ADS_1
"aku merindukan, ayah dan ibu ku, mereka selalu memanjakan ku" suara Divine lirih.
"apa ! jadi dia menangis bukan untuk ku, sialan gadis manja ini, tidak akan ku maafkan" ucap Gara dalam hati.
Gara melepaskan pelukannya, kini memegang kedua lengan Divine.
"kalau begitu, aku tidak akan bercerai dengan mu, aku akan menjadi ayah mu juga sekarang"
"lihat apa yang akan aku lakukan nanti" ucap Gara dalam hati
"huh,kenapa wajahnya seperti ini sih" Gara mengusap air mata Divine yang mengalir di pipinya dan memeluk Divine lagi. "diamlah, wajah mu terlihat jelek saat menangis, sebaiknya kau mandi sekarang" Gara melepaskan pelukannya dan berdiri.
Divine pun mengikuti saran Gara, ia mengusap air mata nya dan beranjak masuk ke kamar mandi.
Gara menunggu Divine ada yang ia ingin katakan. tak lama Divine sudah keluar dari kamar mandi, handuk melilit di tubuh Divine dan ia juga membungkus rambut nya dengan handuk, Gara langsung menghampiri Divine.
__ADS_1
"oiaa, sekarang kamu boleh mengurus semua keperluanku lagi, memeluk ku seperti dulu, pokoknya semua hal yang kamu ingin lakukan lakukanlah"
akhirnya Gara mendapatkan momen ini, Gara sudah lama ingin menarik kata-kata nya yang dulu, ia sudah lama mencari momen ini tapi tidak pernah ada, sekarang adalah waktu yang tepat untuk Gara.
Divine berlalu pergi ke ruang pakaian.
"apa dia tidak menginginkannya, berani sekali mengabaikanku" Gara kesal karena di tinggal begitu saja, Gara langsung menyusul Divine masuk ke ruang pakaian.
"Hei kenapa kamu kesini?"
Gara sudah mendorong tubuh Divine ke dinding dan mengangkat kedua tangan divine keatas kepala Divine, Gara memegang dua pergelangan tangan Divine hanya dengan satu tangannya yang ia tekan ke dinding, posisi ini membuat dada Divine lebih menyembul dari biasanya.
Gara menyentuh pipi Divine dengan lembut ia memainkan jari jari nya di wajah Divine hingga ke telinga dan leher Divine.
"Gara.... " suara Divine terputus karena Gara sudah mendaratkan bibir nya di bibir Divine, Gara mencium Divine dengan lembut, sebentar sebentar Gara melepaskan ciumannya dari bibir Divine, Divine hanya bisa diam dan menerima ini, karena Gara begitu lembut sekarang, Gara terus melakukan ini berulang kali, mencium sebentar melepaskan lagi, mencium lagi terus berulang kali hingga terasa Divine masih ingin menerima ciuman Gara tapi sudah di lepaskan oleh Gara, barulah Gara benar-benar mencium Divine dengan penuh kelembutan dan gairah yang membara, Divine yang menikmati ini seperti merasakan darah hangat sedang mengalir ditubuhnya.
__ADS_1