
"Hei kamu ada masalah apa? sini cerita." tutur Bian. Dia tidak sanggup dengan tingkah Gio yang ini. Jika dia menurut itu hanya membuang tenaganya secara percuma.
"Ya, masalahku kalau kamu tidak ada di dekatku. terus disitu dan perhatikan aku saja."
Bian memutar otaknya. Ia ingin segera bebas dari Gio yang tidak dapat ia pahami ini. Diam sejenak memperhatikan Gio yang sedang membaca buku.
"Aku akan kembali, perut ku sakit." Bian pamit dan pergi meninggalkan Gio tanpa mendengar jawaban Gio terlebih dulu. Pandangan mata Gio terus mengekor pada Bian hingga Bian hilang di balik pilar.
Gio mendelik. Karena tidak melihat Bian lagi. Tiba-tiba Inah melintas dan berjalan searah dengan tempat hilangnya Bian di balik pilar.
"Hei.." panggil Gio.
Inah berhenti. Namun tidak langsung berbalik. Matanya saja yang bergerak kesana kemari. Mencari tahu siapa yang sedang di panggil oleh Gio. Walau tidak pernah berbincang-bincang dengan Gio. Inah cukup hapal suara Gio.
"Hei, kamu kesini." Gio kembali melontarkan suaranya karena Inah belum juga berbalik untuk melihatnya.
Dengan ragu, malas dan tidak senang Inah melangkah mendekat. Dia berdehem saja untuk mempersilahkan Gio mengatakan tujuannya memanggilnya.
__ADS_1
Gio menatap Inah tanpa malu, tidak tahu orang yang sedang ditatapnya merasa senang atau tidak. Hingga Inah kembali berdehem.
Gio mengedipkan matanya kembali melihat ke arah buku yang ia pegang "Kau mau kemana?" bertanya tanpa melihatnya.
Garis muncul di tengah kedua alis Inah. Sejak kapan suaminya ini memperdulikan dirinya mau kemana dan sedang apa.
"Mengembalikan piring." jawabnya sesuai pada apa yang memang sedang ia lakukan. Terlebih juga tidak ingin berlama-lama di depan Gio. Memilih untuk menjawabnya cepat. Karena tingkat percaya diri yang ia bangun sejak lama sektika gugur ke dasar saat berada di hadapan suaminya ini.
"Nah ini maksudku, sekalian bawa ke belakang, tapi jangan lewat situ." Gio menunjuk piring di depannya dan juga jalan yang Bian lalui dan menghilang.
Inah melihat piring rujak di depan Gio yang bahkan belum tersentuh. Lumuran sambel rujaknya masih menyambung rapi. Dia yakin bahwa Gio bahkan belum mencicipinya.
"Ah tunggu, letakkan kembali, Bian menyukainya, tapi kau tetap lewat jalan disana untuk pergi ke dapur. Sana cepat pergi!" Gio mengusirnya.
Inah merapatkan bibirnya. Kesal. Merasa seperti di permainkan namun dia tidak berani untuk protes. Diam dan patuh adalah yang terbaik saat seseorang sedang menyuruhnya. Terlebih itu Gio orang yang sangat ingin Inah bahagiakan karena terperangkap dalam perjodohan dengannya pasti sangat menyiksa batin Gio. Merasa dirinya sangat bersalah telah menjadi istri dari pria sesempurna Gio dan sangat ingin segera bisa membebaskan Gio dari musibah ini.
__ADS_1
Inah meninggalkan Gio dan berputar melewati jalur lain untuk menuju dapur sesuai intruksi Gio. Tapi sepertinya takdir memang menginginkan Inah dan Bian bertemu. Bian muncul di depan Inah dan itu di lihat jelas oleh Gio yang masih belum melepas pandangannya dari Inah yang terus berjalan menjauh darinya.
Baru saja Bian tersenyum dan hendak menyapa Inah. Suara Gio sudah menyelanya dari jauh. Memanggil Bian dengan teriakannya.
"Gio, ada apa? Mama dengar kamu sudah dua kali menaikkan suaramu memanggil Bian dalam waktu kurang dari setengah jam?" Divine yang tiba-tiba muncul dan berkomentar atas apa yang tidak biasa dilakukan oleh putranya itu.
Gio memainkan bibirnya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibunya. Tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya dia pun tidak tau apa yang sudah ia lakukan.
"Omeli saja Ma, dia aneh akhir-akhir ini, tadi aja Bian disuruh untuk melihatnya saja, emang Bian gak ada kerjaan lain apa!" Bian mengadu.
Inah memperhatikan dari jauh tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu. Dengan cepat Inah berpaling namun Gio masih tertinggal ia terus melihat ke arah Inah.
__ADS_1