
Sepuluh hari kemudian. Gara family baru saja meninggalkan kamar rawat yang sudah jadi rumah mereka sejak hari operasi transplantasi Ginjal Gara.
Di dalam mobil. Ben duduk di belakang kemudi dengan Gio duduk di sampingnya. Tentu saja setelah dengan sedikit pertengkaran sebelumnya. Namun bukan merebutkan Divine.
Gio ingin duduk di samping ayahnya. Menyandarkan kepala Gara padanya namun Divine menginginkan hal yang sama. Hingga akhirnya Gio duduk di samping Ben dengan bibir mengkerucut. Cemberut.
"Tunggu Ben, lihat putraku, dia sedang tidak senang karena ibunya." Gara tersenyum kearah Gio yang juga melihatnya. Tatapan mata Gio seolah berkata pada Gara untuk meraihnya dan ijinkan duduk di sebelahnya.
Gara mengangguk. Gio pun dengan cepat langsung melingkah ke belakang duduk di sebelah ayahnya. Melihat kearah Divine lalu menjulurkan sedikit lidahnya. Mengejek Divine.
Ben mulai melajukan mobilnya menuju rumah utama. Tadinya mereka ingin kembali ke rumah sederhana sesuai keinginan Divine namun Gara merasa lebih baik ke rumah utama karena ada banyak pelayan yang bisa membantu mereka terlebih keadaan Gara belum pulih total.
"Sini di sebelah Mama, kau akan membuat Papa kesempitan." ajak Divine pada Gio untuk segera pindah. Padahal ia tahu Gio tak akan mau, dia hanya ingin berada di sebelah ayahnya.
"Tidak apa sayang, aku suka yang sempit." Gara tesenyum penuh sejuta makna. Divine tersipu malu mendengar ucapan Gara. Sepertinya ia mengerti apa yang Gara maksud.
"Ingat kau masih sakit, ini bukan operasi kecil."
"Kan bisa dirimu yang ambil alih sayang. Di atas." ucap Gara membuat Ben melirik ke kaca spion depan melihat kondisi tiga orang penumpangnya.
__ADS_1
"Ehemm, Gio sudah besar." celetuk Ben. Memberi kode kemungkinan Gio akan mengerti arti dari ucapan-ucapan mereka.
"Karena itu Ben, Gio sudah waktunya memiliki adik." jawab Gara.
Oh astaga, apa saat operasi, Dokter tak sengaja mengambil sebagian otak mu. Batin Ben. Jawaban Gara entah melingsir kemana. Walau ada benernya. Namun bukan itu yang Ben maksudkan.
"Gio kamu belum mau punya adik kan?" tanya Ben, menginginkan jawaban yang akan membuat Gara berhenti dengan obrolannya pada Divine.
"Apapun kata Papa, itu kata ku." sahut Gio duduk tenang di samping Gara.
Apalagi ini, sebaiknya aku pensiun sebelum ayah dan anak ini menindas ku habis. Mengingat seperti apa ia selama ini memperlakukan Gara saat bersama kekasihnya. Sangat mungkin Gara akan membalasnya sekarang.
"Kau tahu sayang, saat kau tidak ada, si pengangguran itu asyik berpacaran. Dia sering seolah tak melihat keberadaan ku." tutur Gara.
Divine tertawa dengan menutup mulutnya. Teringat seperti apa orang yang sedang protes ini dulu bersamanya.
"Kenapa kau tertawa, apa kau tidak kasihan pada suami mu ini?"
Hmm, mungkin benar dokter mengambil sebagian otaknya, Ia berbicara seakan tak ingat seperti apa dia dulu. Bahkan lebih parah. Hingga memasang tirai di mobil. Seperti aku tidak bisa mendengar saja.
__ADS_1
"Tidak mengapa sayang, hanya sedikit lucu." Menyandarkan kepala Gara di pundaknya.
Tak lama mereka pun masuk ke halaman rumah bercat putih. Divine melihat seluruh bagian yang terjangkau oleh pandangannya. Tampak tidak ada yang berubah. Mereka pun masuk di sambut oleh seluruh pelayan. Membawa Gara ke kamar utama yang sudah di renovasi. Divine mengangguk-angguk merasa cocok dengan suasana baru di kamar lamanya.
"Sayang, ayo Mama tunjukan kamar mu?" Divine mengajak Gio untuk ke kamar lain.
"Aku akan tidur dimana Papa tidur." Gio mematung tidak mengikuti langkah kaki Divine yang sudah menarik tangannya.
Mata Gara terbuka lebar mendengar ucapan Gio. Lagi-lagi putranya menghiasi hubungan mereka. Menjadi penghalang yang bisa di anggap tantangan jika Gara menginginkan sesuatu yang enak untuk di kerjakan bersama istrinya.
Saat Gio bayi suka dengan ibunya, sang ibu tidak mau di pisahkan. Saat Gio besar ingin terus bersama ayahnya, sang ayah kini tidak bisa tega pada putranya. Selamat menikmati kehidupan rumah tangga setelah memiliki anak.
__ADS_1