Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Rencana Tuhan


__ADS_3

Divine terus berteriak sambil menangis. Hingga suaranya hilang karena tidak sadarkan diri.


Melihat Divine pingsan. Gara berteriak lebih keras membuat 3 orang dokter masuk ke ruangan langsung memeriksa Divine yang tengah pingsan.


Memasang oksigen adalah tindakan yang pertama di lakukan saat mengetahui denyut nadi Divine sangat lemah.


Gara tersentak melihat kehadiran Ben mendorong kotak inkubator masuk ke dalam ruangan.


Dengan langkah berat penuh keraguan Gara berjalan mendekati Ben. Matanya seketika berkaca-kaca melihat bayi sangat kecil di dalamnya. Namun kembali kering saat dokter anak mendekat padanya “Tuan sangat beruntung.” dokter anak itu berlalu keluar ruangan.


Sementara dr. Stella masih berdiri di sekitar mereka bersama 1 orang dokter lagi.


“Tuan Gara selamat atas gelar baru mu, seorang ayah.” ucap dr. Stella.


Gara sangat tepat waktu membawa Divine langsung ke rumah sakit, tidak menelpon dokter untuk datang ke rumah terlebih dahulu. Sesampainya di rumah sakit Divine langsung di observasi dan Gara meminta untuk menyelamatkan istrinya. Ia mencintai Divine tanpa alasan, tanpa kehadiran anak pun ia akan tetap mencintainya. Tidak peduli semarah apa istrinya nanti.


Akhirnya Operasi segera di lakukan dengan resiko 99% bayi akan meninggal karena belum cukup umur. Dengan berat hati Gara tetap menyetujui operasi itu.


Solusio Plasenta atau plasenta lepas dari rahim pun dokter temui saat proses menyelamatkan Divine. Sungguh Gara sangat tepat mengahadapi kondisi selama ini.


Bayangkan jika pagi itu, Gara sudah pergi bekerja. Seisi rumah akan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Semetara Divine sendiri berada di dalam kamarnya, demam hampir kejang tak ada yang mengetahui.


Untunglah Gara tidak pernah meninggalkan Divine selama ia mengetahui masalah kehamilan yang melanda istrinya itu.


Tangan Tuhan hadir menyertai mereka hingga semua yang menangani bayi kecil itu terkejut melihat bayi mereka sangat kuat dan bertahan sampai saat ini, seluruh organ tubuhnya matang sebelum waktunya, walau dengan tubuh yang masih sangat kecil hingga ia harus di letakkan di dalam inkubator.


“Sayang... bangunlah, lihat dia sedang menunggu mu.” mengalir sudah air mata Gara.


“Mama Divi, aku disini.” Ben mengimutkan suaranya bak Anak kecil.


Dr. Stella dan 1 orang dokter masih berada di ruangan itu mengamati kondisi Divine. Harusnya ia sadar sebentar lagi. Di perkirakan ia pingsan hanya karna shock.


“Sayang, jika kau tidak bangun, dia akan sedih merasa ibunya tak menginginkannya?”


Gara ada-ada saja. Apa kini akan berubah jadi anak pajangan.

__ADS_1


Benar saja, ucapan Gara mampu memekakkan telinga Divine hingga ia terbangun. Cukup dia saja yang menjadi istri pajangan. Anaknya tidak perlu menjadi anak pajangan juga.


Divine membuka matanya, melihat kini ada beberapa orang di dalam ruangan serta box inkubator yang menjadi fokusnya.


Dengan cepat ia segera bangun namun rasa sakit menghentikannya, luka cesar baru terasa.


Aauw... Rintih Divine.


Gara melihat ke arah dr. Stella seakan bertanya "bisakah dia mengeluarkan bayi itu sebentar".


Seakan mengerti dr. Stella langsung membuka box inkubator untuk mengeluarkan bayi itu sebentar.



“Hati-hati, dia masih sangat kecil.” ceplos Ben, yang seketika aura seorang ayah timbul dari dirinya. Maklum keponakan tersayang Om Ben.


“Tuan, tolong buka baju Nona sedikit, saya akan meletakkan di dada Nona.”


“Apa yang Kalian tunggu, keluar!” Gara mengusir 2 pria yang berada di dalam ruangan.


Padahal nantinya jika Divine akan memilih menyusui. Divine akan sering membuka baju untuk menyusui anaknya itu. Dimana pun saat sang anak merasa haus.


Bisa dibayangkan seberapa cerah senyuman Divine saat bayi yang ia tunggu dan sempat ia risaukan beberapa saat lalu kini berada dalam dekapannya.


Seakan mereka sedang berbicara dari hati ke hati memandang lekat bayi yang sedang tertidur tanpa suara namun senyum tidak pernah hilang dari wajah sang ibu.


Masih ingin rasanya Divine mendekap anaknya itu, tapi dr. Stella sudah memintanya kembali dan meletakkan ke dalam inkubator.


“Saya ijin permisi Nona, selamat untuk mu.” ucap ramah dr. Stella sebelum meninggalkan ruang yang sedang di penuhi kebahagiaan.


Tak lama, datang seorang perawat hendak mengambil bayi kecil itu untuk membawanya kembali ke ruangan bayi.


“Ada apa?” tanya Gara dengan tatapan yang membuat orang takut berbicara.


“Saya akan membawa bayi ini kembali ke ruangan,” menjawab pelan.

__ADS_1


“Oh tidak bisa kah, kau yang kesini jika ada sesuatu?”


“Oh ya Tuan bisa. Maaf apa air susu Nona sudah keluar?”


“Sudah, bagaimana saya mengeluarkannya?” sela Divine. Gara yang sering bermain di area kesukaannya menjadi stimulasi yang baik untuk payud**a Divine. Hingga air susunya sudah keluar walau masih di usia kehamilan kurang lebih 7 bulan itu.


“Maaf Tuan, apa ada breast pump atau pompa asi?” tanya perawat itu lagi.


Divine melihat kekesalan di wajah Gara. Ia sangat tak suka dengan orang yang banyak tanya.


“Emm, mbak tolong sediakan saja semua yang kau butuhkan disini, pastikan itu baru dan steril, kami akan membayarnya.” sela Divine lagi dengan penuh senyum dengan memegang pundak suami yang berada di tengah bayi kecil dan dirinya.


Perawat itu pun keluar dan kembali terlebih dulu ke dalam area tempatnya bekerja.


Ia bertanya pada seniornya disana “Siapa sih yang berada di ruang VVIP anggrek”.


Dari pertanyaannya itu akhirnya ia tahu dan ia tidak kembali lagi. Sebagai gantinya seniornya yang akan merawat bayi Divine di ruangan bersama ibunya.


Mana mungkin Gara membiarkan anak kecil itu di pisahkan dari Divine lagi.


Setelah memompa ASI. Perawat memberikan ASI sedikit demi sedikit pada bayi kecil itu. Bayi kesayangan semua orang dengan menggunakan pipet.


“Sayang, anak kita lelaki atau perempuan?” tanya Divine ia belum mengetahuinya.


Gara bukannya menjawab ia malah terfokus pada sesuatu. Gara menyipitkan matanya melihat degup jantung Divine yang seakan ia lihat.


“Sayang, apa kau baik saja?” Gara sudah menempelkan telinganya di dada Divine.


Bel memanggil dokter kembali berbunyi. Mengagetkan para dokter jaga dan langsung berlari ke ruangan Divine


“Lihat itu?” dokter jaga langsung memeriksa debar jantung Divine dan benar detak jantungnya sangat cepat.


Diberikan obat lewat infus dan memasang alat deteksi sejenak untuk obseravsi.


Gara mengusap wajahnya kasar ia pikir masa kritis sudah berlalu. Ternyata tidak.

__ADS_1


Jantung Divine masih terus berdebar ia pun di larikan ke ruang ICU.


Belum sempat Gara menyapa anaknya itu, ia kembali di pusingkan oleh keadaan Divine. Gara meminta Ben menjaga keponakan Ben sejenak karena ia akan menemani Divine di ruang ICU.


__ADS_2