
Ben yang sangat bersemangat sudah berada di depan pintu rumah Divine dia memikirkan bagaimana reaksi Divine jika mengetahui akan ada pria lain yang tidak ia kenal tinggal di rumahnya.
"Kenapa seperti ada yang kurang?" Ben bergumam.
"Ah. " Ben berlari kearah mobil, dan membukakan pintu untuk Gara.
Dia melupakan Bosnya.
"Maaf Gara, aku. "
"Tidak ada bonus bulan ini, wanita ini bahkan bisa membuat mu melupakan ku." Gara memotong bicara Ben.
"Hah." Ben mau menangis, asisten pribadinya pun kena potong bonus bulanan, seperti yang terjadi pada karyawan lain saat melakukan kesalahan.
Kini mereka sudah memasuki rumah.
kepala pelayan mengucapkan selamat datang pada mereka. Gara memerintahkan kepala pelayan untuk menyiapkan satu kamar untuk Ben dan mengatakan Ben akan tinggal di rumah ini. Kepala pelayan pun mengiyakan dan pergi meninggalkan Ben dan Gara untuk memberitahukan perintah ini pada para pelayan rumah.
Gara dan Ben kini berada di ruang keluarga.
"Dimana istrimu, dia tidak menyambut mu?"
"Dia selalu menyambut ku kemaren, tapi semalam aku sudah bilang padanya, dia tidak perlu melakukan apa pun lagi untuk ku."
"Parah Gara."
"Kenapa ?"
"Kau pikir aja sendiri!"
__ADS_1
"Kalau aku tanya, jawab mau potong gaji la."
"Kau tidak menganggapnya ada." Ben langsung memotong bicara Gara saat mendengar kata Gaji, Ben tidak ingin sampai potong gaji lagi."
"Biar saja, ini aku Gara lelaki tertampan, kaya,hebat pujaan semua wanita, aku akan menikah lagi saat aku menemukan cinta ku."
"Aku akan mengambil Divine dari mu."
"Ambil saja."
Gara pergi ke atas dan masuk ke kamarnya, ia memandangi sekeliling ruangan, dan tidak menemukan Divine di sana.
"Kemana anak manja itu." Gumam Gara.
Gara tak sadar mencari sosok istrinya yang kini tidak ada dalam pandangannya.
"Apa dia memang jarang di rumah." gumam Gara lagi, mengingat dirinya baru kali ini pulang cepat jam 7 malam sudah di rumah.
Gara bergidik jijik "bagus, aku tidak pernah melakukan apa pun padanya, aku tidak bisa memakai bekas orang lain, bahkan bekas banyak pria." Gara semakin bergidik.
Ia mengambil handphone khusus game nya dan turun kebawah menghampiri Ben.
"Kita sudah menyelesaikan pekerjaan kita kan." ucap Gara pada Ben saat tiba di ruang keluarga.
"Hm, ya sepertinya sudah." Ben melihat-lihat jadwal nya.
"Kalau begitu, ayo main."
"Dimana istrimu, masih tidak turun, apa kau tidak mengatakan ada tamu yang datang."
__ADS_1
"Hah dia tidak ada."
"Oh, kemana?"
Gara memandang Ben dengan tajam, membuat Ben berhenti bicara dan mengeluarkan handphone Gamenya.
Mereka kini mulai bermain, sebentar-sebentar terdengar kata "help help" dari handphone Gara.
"Ah ada apa sih dengan mu, dari semalam permainan mu tidak bagus, dan sekarang knock berkali-kali bahkan ini baru di mulai."
Gara diam saja. Divine yang tidak ada di rumah, sepertinya mengganggu pikiran Gara.
"Aku pulang." terdengar suara Divine dari depan.
Tak sadar Gara langsung menghampiri Divine dan melepaskan handphonenya di sofa. Ben masih fokus menatap layar handphonenya.
"Darimana saja kau ?" Gara dengan Nada ketus.
"Oh aku habis berbelanja"
"Sama siapa?"
Divine mengerutkan Alisnya, bingung dengan sikap suaminya.
"Bersama pengawal rumah." Divine menjawab sesuai kebenarannya.
Dua orang pengawal masuk membawa belanjaan Divine .
"Tolong letakkan di depan pintu kamar saja pak, terimakasih." ucap divine pada pengawalnya.
__ADS_1
Pengawal kan ada di depan rumah, bisa saja pengawal itu baru membantu Divine di halaman tadi. pikir Gara.
Gara mencengkram lengan Divine dengan kasar, "sakit." terdengar dari mulut Divine, ia merintih kesakitan, tapi Gara tidak memperdulikannya Gara terus menarik Divine menuju kamar mereka.