Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps.89


__ADS_3

Mengapa aku jadi lemah seperti ini, bahkan ini sudah pernah terjadi dan aku bisa melewatinya, tapi kali ini terasa sangat sakit.


Divine kembali menangis di balik selimutnya hingga ia tertidur.


Divine tertidur sangat lelap, saat ia terbangun di pagi hari pun tidak melihat sosok suaminya ada di dalam kamar mereka. Divine memandangi seluruh ruangan seperti ruang hampa, kosong tak berpenghuni, tiada suara dan tiada gerakan.


“Hah, kamar ini lebih sunyi di banding kamar di rumah sakit.” ucap Divine seraya bangun dari tempat tidurnya.


Divine berjalan menuju kamar mandi, ia berniat untuk berendam agar merasa lebih segar


Setelah beberapa saat Divine keluar dari kamar tidurnya menuruni anak tangga. Divine terlihat sangat cantik, memakai pakaian baru dan juga berdandan tipis membuat ia terlihat sangat segar.


Divine telah memikirkan sesuatu yang membuat ia merasa bersemangat untuk tampil cantik hari ini.


“Selamat pagi Nona,” ucap pak Ann, yang menghampiri Divine saat menuju meja makan.


“Pagi Pak Ann.” jawab Divine tanpa menanyakan keberadaan suaminya yang tidak terlihat sejak ia membuka mata pagi ini.


“Silahkan Nona, sarapan Nona sudah siap.” ucap pak Ann seraya menarik kursi untuk Divine.


“Terimakasih pak.” Divine melihat menu sarapannya, ia berpikir untuk meminta sarapan yang tidak ada di meja makan.


“Pak, bolehkah saya meminta sarapan bubur ayam pagi ini?”


“Tentu boleh Nona, akan kami siapkan.”


“Hmm, saya makan di luar saja pak, saya juga ingin berjalan-jalan hari ini.”


“Baiklah Nona, maafkan kami.”


Divine mengangguk dan tersenyum kepada pak Ann lalu meninggalkan meja makan.


“Nona tidak pernah seperti ini sebelumnya?”


“Ya benar, Nona selalu makan yang ada di meja makan, bahkan hanya diam saat hari-hari Nyonya dan Tuan tiada.”


“Ini terasa lebih menyeramkan.”


“Nona Div pasti sangat terpukul.”


“Ahh bagaimana kalau Nona melakukan hal yang tidak-tidak.” ucap seorang pelayan dengan sedikit menjerit.

__ADS_1


Para pelayan dapur berbisik satu sama lain. Baru kali ini mereka melihat Divine bersikap seperti ini.


“Pak Ann, pasti mengirim pengawal mengikuti Nona.” ucap Bibi Wen.


Gedung tertinggi di Kota.


Jerry baru saja masuk ke ruangan Ben.


“Apa tadi malam Gara minum, apa dia mabuk?” tanya Jerry pada Ben yang sedang sendiri di dalam ruangannya.


Jerry mendapat informasi dari Pak Ann, bahwa Gara selalu pulang dengan keadaan bau alkohol saat Divine di rumah sakit dan pulang di saat sudah hampir pagi.


“Ya dia minum, tapi dia tidak mabuk?” jawab Ben.


“Apa kau melihat Divine?”


“Ya, Divi membuka pintu untuk suaminya itu, walau sudah larut malam Divi tetap menunggunya, tapi Gara, bahkan tidak melihat ke arahnya.


“Apa! aku benar-benar ingin memukulnya.” Jerry menjadi sangat marah mendengar apa yang Ben ucapkan.


“Sudahlah, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.” ucap Ben yang masih memikirkan sesuatu di kepalanya. Saat Divine berada di rumah sakit, Gara tidak pernah pulang ke rumah di antar oleh Ben, Gara selalu menyetir sendiri saat jam kantor usai.


“Diam bagaimana maksud mu?, sampai hal buruk terulang lagi?” Jerry menarik kerah baju Ben.


“Darimana kau tau? kau bahkan tidak tau, bagaimana perlakuan Gara saat awal pernikahan mereka?” Jerry melepas kerah baju Ben dari genggamannya.


Ya aku tidak tau, aku hanya tau Gara mau memberikannya pada ku dulu, hingga akhirnya aku berakhir di usir karena kecemburuannya.


Ben hanya diam, dan menjawab di dalam hatinya saja.


“Dimana Vely?” tanya Jerry saat melihat tempat duduk Vely kosong, sudah sedari tadi kursi itu kosong, namun Jerry baru menyadarinya.


“Entah, akhir-akhir ini ia selalu bersama Shena, mereka tampak akrab.”


“Ku harap mereka tak melakukan hal yang akan menyakiti Divine.” ucap Jerry.


Divine di tinggal, Andava sudah milik Gara, Divine akan terpuruk.


Dan semua pertanyaan-pertanyaan buruk bermunculan di kepala Jerry dan Ben tanpa mengucapkannya.


Sementara itu, Divine sedang menikmati hidupnya sendirian, ia menikmati sarapan paginya di pukul 10 yang sebentar lagi akan menjadi makan siang.

__ADS_1


Dulu aku juga sendiri dan mungkin aku akan sendiri lagi, aku pasti akan kuat.


Nyatanya air mata Divine mengalir saat mengatakan di dalam hati bahwa dirinya kuat, rasanya kali ini jauh lebih sakit.


Divine menghapus air matanya, sambil terus berkata dirinya kuat dan meneguk air putih di depannya hingga habis.


Divine pun pergi ke bioskop untuk menonton film, dan ia memilih untuk menonton film Moana. Namun ia tetap menangis di bagian-bagian yang lucu dan Kegigihan Moana di film tersebut membuatnya sangat salut. Divine mengatakan pada dirinya sendiri, dirinya pasti bisa seperti Moana.


Setelah menangis beberapa kali, kini ia merasa lebih baik, ia mulai mengikhlaskan anak dan suaminya.


Nikmati hari-hari mu Div, mungkin candaan bersama suami mu di masa lalu kini akan menjadi kenyataan.


“Hmm, janda miskin.” ucap Divine dan tersenyum pahit, mengejek dirinya sendiri.


Hah ya kurang lengkap, janda miskin yang di ceraikan suami karena membunuh anaknya sendiri.


Hahaha... Divine tertawa di dalam hatinya dan hanya menampilkan senyum pahitnya di luar, betapa menyedihkannya dirinya sebentar lagi, ia hanya menunggu hari itu tiba.


Hari mulai sore saat Divine keluar dari bioskop.


Divine pun pergi ke hotel dengan menggunakan taxi lagi, ia berniat untuk minum hingga mabuk, demi keamanan dirinya sendiri ia memilih mabuk sendiri di dalam hotel.


Divine memilih hotel termahal dan kamar termahal selagi ia masih bisa menggunakannya.


Mungkin akan lama, hingga ia bisa kesini lagi setelah hari itu tiba. Akan butuh waktu membangun kehidupan barunya entah akan jadi seperti apa, mampukah dirinya kembali berdiri di atas kedua kakinya.


Divine pun memasuki hotel yang biasa ayahnya gunakan untuk mengadakan berbagai pesta, Ia mengambil kamar dan memesan bir ke kamarnya sebanyak 10 botol.


“Kamar ini, seluas kamar di rumah, tidak banyak yang berbeda.” ucap Divine sambil melempar tas kecilnya ke sofa.


Bir yang ia pesan pun datang, kini ia sedang memandangi seluruh bir yang berbaris di atas meja.


“Ini akan jadi malam yang luar biasa.” ucap Divine.


Divine duduk dan memulai botol pertamanya dengan minum langsung dari botolnya.


Waktu terus bergulir hingga Divine mulai mabuk di botol ketiganya, kata demi kata terus keluar dari mulutnya.


“Ya, aku yang salah, kamu benar, aku terlalu keras kepala.”


Kata demi kata tak henti keluar dari mulutnya tanpa ia sadari. Menangis dan tertawa menjadi satu di dalam kamar ini hingga ia jatuh dan tertidur di sofa.

__ADS_1


Hingga pagi hari Divine terbangun di atas tempat tidur karena merasakan sakit kepala, namun ia melihat Gara sedang tertidur di sebelahnya, dengan tangan melingkar di pinggang Divine di bawah selimut.


Divine mengucek matanya dan melihat sekeliling untuk memastikan itu bukanlah mimpi.


__ADS_2