Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 8


__ADS_3

Setelah sampai di halaman parkir. Gio menurunkan Inah dengan kasar. "Kau benar-benar merepotkan!" ketus Gio menganggap Inah tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


"Hah, bahkan kau tidak bisa menjaga penampilanmu!" tambah Gio berlalu masuk ke dalam mobil.


Inah hanya bisa diam. Perlahan menarik jas Gio yang masih menutup wajahnya. Rasanya baru saja dia tidak mendengar kata hinaan yang menyakiti hatinya semenjak dirinya berada di keluarga Gio. Namun lagi-lagi hari ini Gio kembali menghinanya setelah pertengkaran Gio yang terakhir kali saat mengetahui kebenarannya.


"Kau mau pulang tidak, cepat masuk!" Gio semakin kesal suaranya terus meninggi.


Inah pun masuk secara perlahan. Rasa kedinginan hilang begitu saja. Air matanya mengalir tanpa berkata apapun. Orang jelek sepertiku ini memang tidak memiliki tempat di dunia. Batin Inah. Bahkan di rumahnya Inah selalu menjadi bahan tertawaan. Pelayan semua orang. Membantu untuk menghasilkan uang. Namun tetap saja dia adalah yang terburuk bahkan tidak pernah menerima pujian dari semua yang ia kerjakan. Kakaknyalah yang terus diagungkan serta dimanjakan.


Gio dan Inah pun sampai di rumah. Gara yang tengah berbaring di sofa berbantal paha Divine seketika terusik. Divine membangunkannya karena ingin berdiri dan melihat siapa yang datang.


"Gio Inah kalian sudah kembali?" tanya Divine heran.


"Sayang apa yang terjadi?" tanya Divine lagi melihat baju dan rambut Inah yang basah sembari mendekat menangkup wajah Inah dengan tatapan sedih.


Gio diam saja dan berlalu meninggalkan istri dan ibunya disana. Dari kejauhan Gara memandang Gio dengan rasa kesal. Anaknya itu baru saja mengganggu kedamaiannya lagi.


Divine yang tadinya menangkup pipi Inah kini menempelkan tangannya di kening dan leher Inah bergantian dengan cepat. "Sayang badanmu panas sekali." tutur Divine.


"Papa Gio cepat panggil dokter, Inah demam!" titah Divine pada suaminya. Sembari membawa Inah masuk menuju kamar.


"Tidak usah Ma, demamnya akan hilang dengan sendirinya nanti." jelas Inah menolak untuk diperiksa oleh dokter.


"Gio bantu Inah mandi, Mama akan membuatkan sup yang bisa menghangatkan dirinya." ucap Inah yang baru masuk ke dalam kamar Gio. Dia kebingungan hingga berbicara sembarangan. Menempatkan pasangan muda ini seperti mereka.

__ADS_1


Sementara mata Gio dan mata Inah membesar, sama terbelalaknya. Terkejut dengan ucapan sang ibu. Divine sudah berlalu meninggalkan Inah dan Gio tanpa rasa bersalah.


"Aku bisa mandi sendiri." ucap Inah tanpa melihat kearah Gio. Dia masih saja menunduk saat berada di hadapan Gio walau sudah selama ini. Berjalan menjauh untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


Gio menampilkan wajah jijik. Mungkin berpikir walau Inah tidak bisa mandi sendiri. Dia juga tidak akan menolongnya.


Divine pun tiba dan membawa sup di tangannya. Begitupun Inah yang juga selesai dengan apa yang harus ia lakukan. Divine menarik Inah untuk istirahat di atas ranjang Gio. Menyandarkan tubuh Inah dengan bantal tinggi. Menyuapi sup hangat untuk Inah.


"Ma Inah bisa melakukannya." tutur Inah tersenyum dengan bibir yang tengah pucat.


"Kamu ini ya, demam begini wajah sudah pucat begitu masih saja tidak ingin dibantu." ujar Divine.


Inah pun makan sup yang dibawa oleh ibu mertuanya sambil merengek untuk tidak perlu bertemu dokter. Dia sangat malu akan wajahnya terlebih dengan statusnya sebagai istri Gio. Rasanya ia hanya akan membuat Gio malu akan dirinya.


Divine terus menolak keinginan menantunya itu tapi akhirnya ia kalah. Inah terus merengek padanya seperti anak kecil. "Tapi kalau kondisimu tidak membaik sampai besok pagi, Kamu harus mau bertemu dokter ya." Divine mengajak Inah untuk berjanji padanya. Inah pun mengangguk kesenangan hingga giginya terlihat jelas.


"Inah akan ambil air panas untuk mengompres Ma, Inah harus sembuh besok."


"Gio, tolong ambilkan air panas dan handuk kecil ya." Divine beralih pada Gio yang sejak tadi ada di ruangan yang sama dengan mereka. Namun Gio tidak bergeming ia seperti tidak mendengar apa yang ibunya katakan.


Divine terisak-isak. Bak menangis. "Beginilah nasib ibu yang sudah tua dengan anak-anak yang sudah tidak kecil lagi, tidak ada yang menurut dengan ibunya lagi." ucap Divine dengan nada seolah menangis di depan Inah namun diperdengarkan untuk Gio. Ia berpura-pura menangis dengan air mata buaya.


"Iya Gio ambilkan." Gio menjawab dan berlalu mengambil apa yang di katakan ibunya. Walau ia tahu ibunya hanya berakting tetap saja dia tidak bisa menolak ibunya yang sejak dulu sering Divine gunakan jika Gio sedang tidak menurut dengannya.


Divine terkekeh setelah Gio pergi.

__ADS_1


"Mama jahil sekali." ujar Inah.


"Nanti kau juga akan seperti itu jika memiliki anak, itu sangat manjur lho. Apa kau tahu bagaimana reaksi anak ketika melihat ibunya menangis, walau ibunya tidak menjelaskan anak seakan langsung mengerti, dia akan memelukmu tanpa alasan." Divine bercerita sembari merebahkan tubuh Inah.


"Sayang," panggil Gara yang baru saja masuk.


"Oia Papa Gio, tolong katakan maaf padanya ya, Inah sedang istirahat dan tidak ingin bertemu dokter." jelas Divine ia lupa mengabari Gara untuk membatalkan dokter yang akan datang.


"Hemm." Gara berdehem saja dan menarik istrinya untuk pergi. Inah pun mendorong ibu dari suaminya itu untuk ikut dengan papa mertuanya. Dengan tersenyum menunjukkan ia akan baik-baik saja.


"Ayo lanjutkan yang tadi." ucap Gara setelah keluar dari kamar Gio.


"Dr. Rey sudah pulang?"


"Iya, Gio sudah memberitahu tadi."


"Oh sudah diberitahu Gio." Divine mengangguk-angguk. "Hah Gio!" Divine terkejut. Ia baru sadar.


"Ada apa?" ucap Gio merasa terpanggil. Berpapasan dengan ayah dan ibunya.


"Tolong gantikan ibumu dengan baik, karena ibumu harus menjaga aku." sahut Gara. Ia menyampaikan apa yang dia inginkan dengan baik.


Gio menatap ayahnya. Sementara Gara tidak perduli ia berjalan melewati Gio begitu saja tanpa ingin mendengar apa yang akan Gio katakan padanya. Biasanya ada saja jawaban Gio. Namun dia masih sangat tidak ingin kembali akrab dengan ayahnya itu.


"Serius Gio yang beritahu Inah tidak ingin bertemu dokter, dia ngomong seperti apa?" Divine berbisik di telinga Gara.

__ADS_1


Bukannya mendengar dengan baik apa yang ditanyakan istrinya. Gara malah mengira Divine sedang menggodanya.


__ADS_2