Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2- Keputusan mengejutkan


__ADS_3

Di meja makan. Semua orang telah hadir kecuali Gara yang masih belum terlihat.


“Ben, coba kamu lihat Gara lagi.” pinta ibu Soraya pada Ben yang duduk di sebelah Divine sedang memainkan gelas di tangannnya.


“Baik bi.” Ben berdiri saat hendak mengangkat kaki. Gara muncul dan Ben kembali duduk. Sementara  Brav dan Soraya berdiri saat kedatangan Gara.


“Duduklah ibu, kami tidak seformal itu saat di rumah.” ucap Gara lalu duduk di kursinya.


“Ben pindah ke kursi sebelah!” ucap Gara lagi menunjuk kursi kosong di sebelah Ben dengan ekor matanya.


Biasanya Ben dan Divine berhadapan duduk di sisi sebelah kanan dan kiri Gara, Namun malam ini tempat duduk Ben di duduki oleh ayah Brav membuat Ben pindah di sebelah Divine.


Tanpa banyak bicara Ben langsung saja mengikuti intruksi Gara. Ia tidak perlu bertanya sudah jelas jawabannya hanya satu yaitu cemburu.


 Divine hanya menatap bingung kepada suaminya. Selama ini Gara tidak pernah mempermasalahkan tempat duduk di meja makan.


Divine berdiri dari tempat duduknya. Untuk melakukan hal yang selama ini ia lakukan.


“Divi, biar ibu saja.” Soraya menghentikan Divine untuk mengisi piring Gara dengan menu makan malam ini.


Divine kembali terperangah kebingungan. Sikap yang ia rasa sangat berbeda. Namun Divine tetap kembali duduk mengikuti permintaan ibu Soraya. Selain itu Ibu Soraya juga sudah berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.


 


Ibu Soraya pun mengisi piring Gara lengkap semua yang anaknya itu suka. Setelah selesai mengambilkan untuk Gara. Ibu Gara bergerak kearah Divine meraih piring menantunya.


“Oh tidak perlu ibu.” Divine menolak perlakuan baik ibu mertuanya.


“Tidak mengapa Div, bahkan ibu bisa melakukananya setiap waktu.” Soraya mendapatkan piring Divine dan langung mengambilkan lengkap menu makan malam ke dalam piring Divine.


Gara tersenyum melihat ibunya sudah kembali berlaku baik pada Divine.


 


Tapi hati-hati Tuan Gara. Orang yang sikapnya berubah-ubah patut di curigai. Takut akhirnya akan menyakiti jika terlalu cepat percaya.


 


Ibu Soraya lalu berjalan kearah suaminya. Ia melayani semua orang malam ini.


“Ben kamu bisa sambil sendiri atau bibi ambilkan saja?” tanya Ibu Soraya.


“Ahh tidak perlu bi, saya bisa sendiri.” Ben tersenyum ke semua orang di meja makan.


Mereka pun mulai makan.


“Bagaimana rasanya Div, makan malam ini ibu yang memasaknya.” ungkap ibu Soraya.


“Oh ya, ini sangat enak bu.” Divine menyatakan.


Divi ini bisa saja, padahal tidak sebanding dengan rasa masakan bibi Wen apalagi masakannya sendiri. Ben bergumam dalam hatinya. Sementara Gara sedang menatapnya. Mungkin Gara tahu bahwa Ben sedang komentar


di dalam hati.


“Tapi ibu tidak perlu repot untuk memasak bu, cukup jaga kesehatan ibu.” sahut Gara tenang.


“Kau memang anak ibu.” senang Soraya.


Ini lagi suaminya. Pintar sekali membuat kalimat agar ibunya tidak memasak lagi. Komentar Ben lagi.


“Ben.” sebut Soraya membuat Ben tersedak tiba-tiba namanya melambung di meja makan.


“Ada apa Ben? kau baik saja?” tutur Divine


“Oh tidak, aku hanya tersedak, ya bi kenapa?” Jawab Ben dan beralih kembali bertanya kepada ibu Soraya.


“Gara banyak berubah ya sekarang?” Soraya memastikan pada ibu Ben yang sudah lama mengenal Gara bahkan jauh sebelum menikah dengan Divine.


“Iya bi, dia jauh lebih baik sekarang.” Jelas Ben. Juga menjadi seorang pecemburu dan budak cinta. Tambah Ben yang tidak dapat di dengar oleh siapa pun.


“Ibu bangga kepada mu Divi.” Soraya menunjukkan kekagumannya. Namun terdengar sedikit di buat-buat.


Makan malam pun selesai. Semua orang telah menghabiskan makanan mereka.


“Besok ayah di rumah saja, Gio sudah semakin aktif, dia sangat lucu.” ucap Soraya pada Brav dengan menepuk pundak suaminya. Ayah Brav pun mengangguk yang berarti setuju dengan ibu Soraya. Gara tidak komentar apa pun. Menurutnya juga sudah cukup ayahnya kemarin berjalan-jalan di gedung Andava.


“Aku pergi dulu bu, ada sesuatu yang harus di selesaikan.” Gara undur diri meninggalkan meja makan. Ben pun menundukkan kepalanya ke paman dan bibinya untuk mengikuti Gara.

__ADS_1


“Div, apa ada yang akan kau lakukan?  jika tidak ada, mari mentonton drakor bersama ibu?” ibu Soraya mengajak Divine bersantai bersama.


“Baik bu.” ucap Divine. Mereka pun meninggalkan meja makan dan menuju ruang keluarga 1.


Tak lama kemudian baby Gio yang bersama Mama dan Omanya mulai rewel. Ia mengeluarkan suara-suara pendek hendak menangis. Divine sudah menenangkannya namun percuma saja. Gio tetap menangis pendek.


“Ibu maaf Divine harus pergi terlebih dulu, sepertinya Gio sudah mengantuk.” Divine sudah menggendong Gio dan berdiri di samping ibu Soraya.


“Oh iya Div, selamat malam.” dengan senyum termanis. Divine mengangguk dan mengucapkan selamat malam kembali pada ibu mertuanya yang masih duduk di sofa.


Di ruang kerja Gara. Ia baru saja menutup laptopnya. Sepertinya sesuatu yang harus ia selesaikan sudah beres.


“Apa yang kau sibukkan kemarin?” tanya Gara.


“Oh bukan apa-apa, hanya menjadi pacar pura-pura.” Jawab Ben tersipu.


“Apa pura-pura harus bermalam bersama?” selidik Gara mengingat kemaren malam Ben tidak pulang ke rumah.


 


Seketika wajah Ben pucat pasi, bibirnya bergetar teringat kejadian malam kemarin dimana Shasa berakhir mabuk dan dengan terpaksa tidur di apartemen Ben. Walau tidak ada yang terjadi tetap saja kemarin malam ia cukup dekat dengan wanita dan tidak bisa ia bayangkan jika terjadi sesuatu.


 


“Em.. Kemaren aku lupa kalau tinggal disini, jadi aku pulang ke apartemen ku.” jawab Ben sekenanya.


“Setelah selama ini, baru semalam kau lupa. Hah sudahlah Ben kau tidak pandai berbohong. Lagian kau sudah pantas menikah. Menikah saja tidak perlu jadi pacar pura-pura.” Gara keluar meninggalkan Ben setelah kalimatnya


selesai.


Ben ikut keluar dan masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya terlentang di tempat tidur dengan kedua tangan di belakang kepala dan kaki menyilang.


Menikah. Dengan siapa ?


Seketika Ben terbahak-terbahak. Rasanya pikiran ini pernah muncul namun selalu saja beriringan dengan pertanyaan “dengan siapa” membuatnya terpingkal-pingkal.


Wajah indana muncul di pikirannya. Apa pak Ann mau memiliki menantu seperti ku yang hanya asisten saja, tidak memiliki perusahaan?  Ben bertanya-tanya di dalam hatinya. Sebuah kencan buta dan perjodohan muncul di benaknya.


 Ting…  bunyi pesan masuk di ponsel Ben. Ben meraih ponselnya dari kantung celana terlihat nama Shasa disana.


Ben membaca pesan di ponselnya yang berisi “Ben terimakasih, Ayah ku percaya atas hubungan kita, dan membatalkan perjodohanku.”


Sementara Shasa berguling-guling di kamarnya membaca pesan dari Ben yang sebenarnya sejak kemarin ingin ia dengar. Harus kah aku menyatakan perasaan ku lewat pesan ini. Ben sungguh pria baik. Bahkan aku sedang mabuk ia tidak mengambil keuntungan apapun dari ku. Shasa terus bergumam sendiri di dalam hatinya.


Ben yang menjadi penasaran dengan alasan Shasa menolak perjodohannya menjadi tidak sabar menunggu balasan pesannya hingga memaju-mundurkan ponselnya ke depan wajahnya. Mematikan data berulang-ulang dan sambungan wifi, mengira mungkin signalnya tidak cukup bagus untuk merima pesan dari shasa.


Setelah beberapa saat ponsel Ben kembali berbunyi. pesan masuk dari Shasa. Tapi karena sudah cukup lama Ben  telah tertidur hingga tidak melihat pesan dari Shasa.


Di kamar Divine. Papa Gara sudah berkucur keringat. Entah apa yang telah ia lakukan sehingga keringat menghiasi tubuhnya. Sementara bahu glowing Divine juga terlihat begitu jelas.


“Ku pikir Gio yang semakin besar tidak akan pernah membiarkan kita melakukannya selamanya.” Gara melihat kearah baby Gio yang sedang tidur di sebelah Divine.


Mungkin ada yang sama dengan Gara dan Divine. Setelah memiliki anak posisi tidur mereka tetap bersampingan dan sang anak di tepi ranjang. Kebanyakan selama ini adalah bayi tidur di antara kedua orang tua.


“Sepertinya hanya kamu yang posisi tidurnya seperti ini setelah kehadiran seorang anak.”  Ujar Divine yang membelakangi Gara.


“Memanganya yang lain seperti apa?” tanya Gara dengan tangan yang melingkar di pinggang Divine dagu bertumpu di kepala ibu dari anaknya.


“Anak mereka tidur di tengah mereka, tidak seperti ini. Jika memang ada yang seperti mu biasanya alasan mereka karena sang suami saat tidur banyak gerak dan beresiko menindih bayi mereka entah dengan tangan, kaki atau


tubuh mereka tanpa mereka sadari.” Jabar Divine.


 


“Lalu aku?” penasaran Gara atau entah hanya pura-pura tidak tahu. Divine diam mengulum bibirnya.


“Apa perlu ku jawab?”


“Karena kamu selalu ingin di dekatku kan.” seru Gara.


Astaga tuan Gara apa itu tidak terbalik.


“Kalau begitu, malam ini aku ingin bebas.” Divine berpindah ke sisi sebelah Gio menjauh dari Gara.


Jelas sekali wajah Gara menunjukkan tak suka. Namun ia menahannya untuk tidak protes.


Divine pun tertidur. Gara mencoba memejamkan matanya.

__ADS_1


__


Pagi hari. Baby Gio sudah bangun dan berisik sendirian. Divine mengerjap membuka matanya dengan tangan kekar menindih perutnya.


Gara yang baru saja membuka mata dengan cepat bangun dan menarik tangannya yang berada di perut Divine.


“Tidak perlu merencanakan kebohongan lagi, aku merasa dan sudah melihatnya sendiri saat bangun mnyusui baby Gio.” Divine duduk bersila di atas tempat tidur.


Wajah Gara memerah mendengar ucapan Divine. Ia ingat malam tadi ia tidak bisa tidur karena dapat melihat Divine di depannya namun tidak dapat menyentuhnya. Rasanya tubuh Divine sedang memanggilnya untuk memeluk tubuh


Divine, nyatanya ialah yang ingin selalu kulitnya bersentuhan dengan kulit Divine.


 


“Gio mandi sama papa sini.” Gara beralih membuang rasa malunya dengan mengajak baby Gio mandi bersamanya.


Divine santai saja. Ia sudah tau karakter suaminya ini. Tidak perlu di bahas. Divine menggendong baby Gio hendak memberikannya pada Gara. Gio mengerutkan alis dan melipat tangannya di perut.


“Gio kamu ada masalah apa sih sama papa?” tanya Divine melihat ekspresi Gio yang menolak keras diambil oleh papanya.


 Baby Gio mengerucutkan bibirnya.


“Kalau mandi sama om Ben mau?” tanya Divine lagi. Seketika senyum terukir di wajah baby Gio dengan mata yang menunjukkan sebuah ketertarikan.


“Ya udah sana sama Ben!” Gara mengambil paksa Gio dari tangan Divine tanpa menyakiti Gio dan membawanya ke kemar Ben. Divine hanya bisa melihat dengan mulut terbuka ulah suaminya itu. Entah suaminya itu sedang merasa kesal atau sebenarnya ia juga cemburu karena kedekatan Ben dan Gio.


“Ben ini Gio mau mandi sama kamu.” ucap Gara yang langsung menyelonong masuk ke kamar Ben. Terlihat Ben baru saja hendak menyentuh ponselnya yang telah rapi dan lengkap dengan seluruh pakaiannya dan tiba-tiba harus


menerima Gio di tangannya. Gara kembali keluar begitu saja.


Gara masuk ke kamarnya dan langsung terus ke kamar mandi.


“Sayang.” Panggil Divine yang ternyata lebih dulu berada di dalam kamar mandi sedang berendam dengan aroma essential oil lavender kesukaanya.


“Hmm.” Gara hanya berdehem. Tampaknya ia sangat kesal.


Divine menarik Gara dan ikut masuk ke dalam bathtube bersama Divine yang sudah di penuhi busa.


Divine berpindah dari yang tadinya berhadapan dengan Gara beralih bersandar di badan kekar Gara. Menurutnya itu mampu memperbaiki mood Gara.


“Sayang, Gio itu anak siapa?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Gara. Sepertinya ia benar-benar sedang meragukan Baby Gio.


Pipi Divine menggembung menahan tawanya. “ Menurut mu?”


“Ia sangat mirip dengan ku, walau mata dan telinganya adalah mata dan telinga mu.” tutur Gara. Rupanya ia cukup memperhatikan Gio. Bahkan ia tahu telinga Gio sama dengan telinga Divine.


 


“Ya karena Gio adalah anak kita.” Divine menegaskan dengan tangan yang bermain busa di paha Gara.


“Tapi kenapa dia tidak mau dengan ku?” suara Gara terdengar berbeda. Divine menoleh melihat ke arah Gara. Matanya merah, air yang belum di konfirmasi berasal darimana membasahi pipi Gara.


 


“Sudah lama tidak melihat mu menangis, apa kau menjadi cengeng lagi kali ini?” Divine tahu Gara hanya bisa menangis saat hatinya merasa sakit dan orang yang  bisa membuatnya merasa sakit hanyalah orang- orang yang berharga baginya.


“Gio seperti itu sepertinya mencontoh sikap mu dan dia jadi beranggapan kau adalah lawannya.” tambah Divine menjawab pertanyaan Gara.


“Aku? Aku seperti apa?” bingung Gara. Divine pun hanya bisa menghela napas.


__


Ben sudah membawa Gio ke meja makan. “Gio mau ini?” Ben menyodorkan buah apel di depan Gio.


Beberapa saat kemudian Gara dan Divine tiba di meja makan.


“Ben apa kau memberi Gio apel?” melihat apel di tangan Gio yang sudah tergigit.


“Iya seperti ini?” Ben menggigit apel yang di pegang oleh Gio tanpa menyentuhnya. Ia hanya memegang tubuh baby Gio. Membuat Gio tertawa geli. Divine menoleh kearah Gara. Ia tahu itu semakin membuat Gara cemburu.


Ayah brav dan ibu Soraya pun tiba untuk sarapan bersama.


“Yah pergi lah ke kantor bersama Ben.” semua orang di meja makan terkejut. Ben dan Divine saling melempar pandangannya berpikir bahwa diantara mereka sudah tahu keputusan Gara ini. Namun mereka berdua tidak tahu sekalipun, di bicarakan pun tidak pernah.


 


Berbeda dengan ibu Soraya terkejut karena bahagia mendengar ucapan Gara. Padahal semua sudah tahu bahwa hari ini ayah Brav akan di rumah saja, namun begitu tiba-tiba Gara meminta ayahnya untuk datang ke kantor. Kemarin ayah Brav ikutpun karena permintaan ibu Soraya.

__ADS_1


Divine dan Ben hanya diam saja. Mereka tidak mungkin membahasnya disini. Divine dan Ben tahu posisi yang kosong saat ini adalah posisi Jerry yang sangat penting bagi Andava.


Divine tidak akan mudah setuju jika begitu tiba-tiba langsung di gantikan oleh orang baru , sekalipun ayah mertuanya sendiri. Namun entah apa yang sedang Gara pikirkan saat ini. Hingga membuatnya mengambil keputusan begitu cepat.


__ADS_2