Istri Pajangan

Istri Pajangan
Saranghae


__ADS_3

Baiklah karena banyak yang minta lanjut.


Kita ceritain kebahagian mereka aja ya.


Hemmm terakhir sampai dimana ya, masih ada yang ingat gak?


Sampai di Ani salah satu pelayan Divine yang terjebak di atas pohon kelapa ehh bukan pohon kecapi. Ada yang jawab begini di dalam hati?


Nggak Nggak, sampai Divine nonton film adegan syur suaminya yang lagi mandi tanpa sensor. Yang jawab gini dalam hati fix kalian suka bagian-bagian seperti ini. (Nyengir ngejek)


Oke oke skip.


Saat itu Ani berhasil turun dengan meluncur saja hingga mengalami lecet pada bagian pahanya.


Sengaja nih Author kasihtau. Biasanya ada aja tuh yang tanya. Gimana si Ani tuh selamat nggak? Wkwkwk canda Ani. Nggak ada pembaca novel ini yang kepoin nasib para pelayan Divine. Padahal keberadaan mereka itu nyata. Pfftt..


Ahh.. Giodava apa kabar? Si anak pintar yang Nggak mau pisah sama si ayah.


Suatu malam di kamar utama. (Bacanya jangan kayak baca dongeng.)


"Gio kamu tidak ingat tidur, ini sudah jam berapa?" suara Gara. Menyadarkan anaknya untuk segera tidur.


Gio melirik ke sudut kanan laptop di hadapannya.


"Ini masih jam setengah delapan." sahut Gio tidak menoleh sedikit pun pada sumber suara.


Hmm lagi-lagi Gara meminta Gio untuk tidur cepat. Nyatanya mereka baru saja selesai makan malam bersama.


Divine menyenggol pundak Gara yang duduk di sampingnya. Tersenyum malu. Seakan mereka sedang berbicara lewat pandangan mata saja. Saling tau apa isi dalam kepala mereka.


"Kau itu masih kecil, butuh tidur yang banyak agar kau tumbuh tinggi." wejang Gara. Divine yang mendengarnya mengulum bibir agar tidak tertawa.


"Tinggi itu karna cukup kalsium dan olahraga." sanggah Gio masih menatap lekat pada layar laptopnya yang menggambarkan grafik tidak beraturan.


"Ya sudahlah, kau tetap di situ, Papa sama Mama tidur di kamar lain saja." Gara beranjak menarik pelan tangan istrinya yang sejak tadi wajahnya sumringah.

__ADS_1


"Ehh Papa mau kemana? Gio ikut." seketika merengek dan meninggalkan laptopnya.


"Hah, kalau Papa pergi saja, langsung mau ikut, tapi Papa suruh tidur gak mau dengar." celoteh Gara di depan putranya. Kesal.


Gio memajukan bibirnya. Berharap belas kasih sang ayah. Namun Gara diam saja. Dia tidak sungguh-sungguh. Hanya kesal saja putranya ini masih terus mengekor padanya setelah hampir 1 tahun bersama.


"Ma, Papa kenapa marah-marah terus sih?" beralih, bertanya pada Ibunya.


"Papa tidak marah sayang, dia hanya sudah cukup tua, jadi sedikit begitulah." Divine mengedipkan sebelah matanya pada Gio.


"Apa! apa kau sedang mengejek ku? lihat perut mu, bagaimana bisa pria tua melakukan itu?"


Divine menutup telinga Gio, hingga tidak dapat mendengar ucapan Ayahnya.


"Kau tidurlah sayang." membuka tangannya dan berbisik pelan pada Gio sembari melirik ke tempat tidur mereka.


Gio pun menurut dan mengambil posisinya.


"Ya!" pekik Gara melihat Gio berbaring di tengah tempat tidur mereka.


"Papa, maunya apa sih? Tadi Gio terpaku di sana, di suruh tidur sekarang Gio mau tidur di tanya mau tidur sampai kapan, padahal belum tidur." frustasi Gio. Salah mengartikan ucapan sang ayah.


Gara menepuk jidatnya. Terkadang anaknya ini tidak bisa mengerti ucapan ayahnya.


Jalan mendekat ke arah Gio. Duduk di tepi ranjang.


"Lihat Papa." Gara berbicara tanpa suara sembari menggerak-gerakkan tangannya.


"Kenapa Papa malah berbicara seperti tuna wicara?" bingung Gio.


Gara Tak sadar melakukanya.


"Aarghhh sudahlah, kau tidur saja." Gara mengacak-ngacak rambutnya. Meninggalkan Gio menghampiri Divine yang tengah melihat-lihat layar laptop Gio.


"Sayang, anakmu kebanyakan bergaul dengan benda itu, jadi tidak mengerti bahasa manusia." Gara menunjuk perangkat Gio sebelum meletakkan dagunya di pundak Divine dan melingkarkan tangan di perut istrinya yang sedikit buncit.

__ADS_1


"Kalau punya kekurangan anak Mama, kalau sedang berhasil jadi anak Papa." protes Divine.


"Kau juga sering melakukannya." Gara semakin menempelkan tubuhnya pada punggung Divine.


Divine tersenyum. Ucapan suaminya tidak salah. Berbalik ingin mendaratkan kecupan di bibir suaminya. Namun matanya terlebih dulu melirik ke arah tempat tidur.


"Ahh Gio masih belum tidur." Gio memperhatikan kedua orang tuanya.


Gara menarik pelan tangan Divine dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang membelakangi Gio dan menghadap Divine.


"Awas kau pindah di tengah malam ya!" ancam Gara pada putranya. Sering kali putranya itu masuk ke tengah-tengah mereka di saat larut malam. Hingga Gara bangun dan memindahkan Gio kembali, tak rela istrinya tidur di samping pria lain. Walaupun itu putranya sendiri.


Pernah suatu ketika. Gara mendapati Gio sedang berbaring di paha sang ibu. Gara seketika memanggil Gio agar menghampirinya. Setibanya Gio di depannya. Ia berlari dan mengambil tempat Gio. Berbaring dengan berbantal pangkuan Divine. Dan mengatakan ia hanya mengetes seberapa cepat lari putranya. Seperti biasa tidak ingin di ketahui bahwa ia cemburu.


"Tidurlah sayang, aku akan memelukmu hingga pagi." lembut suara Gara pada Divine mengedip-ngedipkan matanya pada Divine. Tangannya meraba pelan di perut Divine yang sedikit demi sedikit naik lebih ke atas. Niatnya tadi masih tergantung di kepalanya.


"Pa, Gio juga mau di peluk seperti Mama." celetuk bocah yang terabaikan di belakang Gara.


"Tapi langsung tidur ya." titah Gara. Setelah Gio mengangguk. Gara pun berbalik memeluk Gio agar putranya itu segera tidur dan ia bisa melakukan apa yang sudah sejak tadi ada di dalam kepalanya.


Pasangan suami istri ini terus diam-diam melakukan hubungan untuk menghadirkan seorang anak lagi di dalam rahim Divine. Bukan hanya karena itu. Namun rasanya itu sudah seperti hal yang harus dilakukan agar dirinya tidak stres.


Namun kini mereka sudah tidak dapat leluasa seperti dahulu. Bak bermain petak umpet karena keberadaan Gio. Takut anaknya itu memergoki mereka.


Tidak jarang, Sofa menjadi tempat mereka beradu. Agar tidak menggangu tidur Gio dan mereka bisa bebas berekspresi. Mungkin anak keduanya nanti bernama Sofi. Sebagai pengingat hadirnya anak itu tidak luput dari peran serta sofa di kamarnya.


Gio pun tidur dengan cepat Gara berbalik ke arah Divine. Namun ternyata Divine telah tertidur. Gagal lagi. Hal seperti ini sangat sering terjadi. Gara mengusap mukanya kasar hingga ke dadanya agar bersabar. Walau sudah terbiasa tetap saja rasanya tidak enak. Pffftt.


Bagi teman-teman yang mau masuk di grup Author. Caranya buka profil Author dan klik gabung pada grup Marimar. Ketikan 2 tokoh pendukung dari karya Author.


Author harap bisa bersilaturahmi di sana. Mungkin sekedar say hay atau menyampaikan saran-saran untuk Author.


Terimakasih masih cinta dengan karya ini.


Saranghae.

__ADS_1


__ADS_2