Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps.76


__ADS_3

Baju Divine pun ikut basah karena Gara memeluknya.


Gara menarik Divine masuk tanpa melepaskan pelukannya dengan berjalan mundur ke dalam kamar mandi.


“Aku pikir kau tidak ada,” ucap Gara saat menutup pintu kamar mandi.


“Biar dirimu tidak lepas dari pandangan ku, kau tunggu saja di sini sayang, aku tidak masalah kau menonton ku yang sedang mandi,” tambah Gara, memegang pundak Divine, seluruh tubuhnya benar-benar ia pertontonkan pada istrinya itu.


Gara benar-benar tidak ada kata malu lagi pada Divine.


Sedangkan Divine merasa sangat malu melihat suaminya itu, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya, dada bidang Gara mulai memanggil-manggil Divine, seketika ada perasaan yang muncul ingin meraba dan menempel pada dada Gara.


“Tapi sayang, pakaianku basah aku harus menggantinya,” ucap Divine berharap bisa mengalihkan rasa ingin membelai tubuh Gara.


Namun Gara kembali menghampiri Divine yang berdiri di dekat pintu. Gara menciumi seluruh wajah Divine dan berhenti lama pada bibir Divine, hingga Divine tak mampu bicara, tangan Gara bergerilya membuka kancing baju Divine dengan perlahan dan turun kebawah melepaskan celana Divine.


Gara melepas ciumannya dan menarik Divine mendekat ke arah shower.


Trasssssshhhh..... suara air membasahi tubuh mereka. Gara dan Divine pun sangat menikmati moment ini.


______________


Setelah cukup lama Gara dan Divine bermain-main di kamar mandi, mereka pun keluar dan masuk ke ruang pakaian bersama. Divine memilih baju tidur couple yang pernah ia beli sesaat ia baru mau menikah dengan Gara yang hingga kini belum pernah terpakai.


Gara yang melihat baju yang akan ia pakai bermotif sama dengan baju yang Divine pakai merasa sangat senang. Untuk wanita yang umurnya seperti Divine mungkin masih sangat senang baju couple seperti itu namun untuk pria seumur Gara mungkin sudah tidak suka lagi, tapi berbeda dengan Gara, ia sangat senang akan hal itu.


“Ini bagus sekali sayang, apa ada pakaian seperti ini yang cocok untuk di pakai kerja?” tanya Gara, ia berpikir untuk memakai baju couple bersama Divine saat ia bekerja.


Divine yang sedang memasangkan pakaian itu pada Gara seketika menjawab di dalam hatinya. Ja**s yang berwarna sama, yang sering kau gunakan bersama Ben dan seluruh karyawan lain, apa kau tidak sadar, haha. Divine tertawa atas jawaban yang muncul dari dalam hatinya.


“Apa maksud suami ku ini, Jas yang berwarna sama?” jawab Divine sambil menahan tawa.


Melihat ekspresi Divine, Gara tersadar bahwa Divine sedang mengejeknya, seketika Gara menggelitik Divine hingga Divine tertawa karena tak sanggup menahan geli. Gara terus menggelitik Divine ia sangat senang melihat Divine tertawa. Divine berjalan mundur keluar dari ruang pakaian dengan tawa di wajahnya karena Gara masih saja menggelitik badannya hingga Divine menabrak tempat tidur dan terjatuh di tempat tidur dengan posisi terlentang di depan Gara.

__ADS_1


Seketika mereka terdiam dengan mata saling menatap satu sama lain. Gara yang mendekatkan tubuhnya ke atas tubuh Divine membuat wajah Divine memerah.


krukk... suara perut Divine terdengar oleh Gara dan juga Divine, seketika menghilangkan suasana penuh cinta yang mungkin saja membuat Divine akan merasa semakin lelah bahkan mungkin akan susah berdiri, setelah pulang dari Singapura mereka belum melakukannya.


“Haha, kau sudah sangat lapar, ayo kita makan?” ucap Gara dan menggendong Divine di depan dadanya.


“Aku bisa jalan sendiri sayang.” ucap Divine.


“Sudah lama aku tidak menggendong mu.”


“Semua orang akan melihat kita,”


“Diamlah, jika tetap berbicara, aku akan menggendong sambil mencium mu!”


Divine akhirnya hanya bisa diam, jika ia terus berbicara mungkin Gara akan benar-benar menciuminya sambil berjalan menuju meja makan.


Sesampai nya di meja makan Gara menurunkan Divine di kursinya.


“Diam, hari ini aku akan melayani mu.” ucap Gara meminta Divine untuk duduk diam saja di kursinya.


“Seharusnya aku yang melayani mu,” ucap Divine.


“Bawel, sudah gunakan mulut manis mu itu untuk makan sekarang, jika tidak aku akan menggunakannya untuk hal lain,” ucap Gara sambil tersenyum pada Divine, hanya Gara yang tau apa hal lain yang ia maksud.


Gara juga mengambil makan untuk dirinya sendiri, dan duduk sangat dekat di samping Divine, ia telah menarik kursinya agar lebih dekat dengan Divine.


Mungkin ini salah satu alasan keinginan Gara untuk hidup sederhana sebelumnya, makan tidak perlu dengan jarak terlalu jauh dengan orang yang ia cintai hanya karena meja makan yang sangat besar.


Kini ia sadar, untuk sederhana tidak perlu dengan hidup sederhana, kita sendiri lah yang menciptakan suasana itu.


“Makan yang banyak, sayangku.” ucap Gara seraya mengelus kepala Divine.


Mereka pun menikmati makan malam mereka.

__ADS_1


“Apa kau ingin buah? aku akan mengupasnya untuk mu,” tanya Gara.


“Emm, aku sudah kenyang, biar aku yang mengupasnya untukmu jika kau ingin makan buah.”


Gara mengambil 2 buah apel dan juga pisau buah ke dalam wadah dan meminta pada pelayan untuk mengantar buah itu ke kamar mereka.


Dengan cepat pelayan langsung mengerjakan apa yang Tuannya itu minta.


“Apa kau sudah selesai sayang,” Gara hanya memastikan, ia sudah melihat Divine sudah selesai makan sedari tadi.


“Ya sudah sayang,” Divine ikut berdiri karena melihat Gara sudah berdiri.


Gara menarik Divine berjalan ke arah halaman belakang rumah. Entah mungkin baru kali ini Gara berjalan ke halaman belakang rumah ini.


Terlihat kolam renang bersih yang tak pernah mereka gunakan, pepohonan dan bunga yang membuat halaman belakang sangat sejuk, terdapat ayunan kayu yang sangat nyaman di gunakan untuk berduaan.


Divine pun menarik Gara untuk duduk di ayunan.


“Kamu sudah pernah kesini sayang?” tanya Divine saat Gara sudah menjatuhkan bokongnya di ayunan dan duduk bersama Divine.


“Tidak, ini pertama kalinya, ternyata sangat bagus untuk kita berduaan,” Gara memegang pipi Divine.


“Jangan aneh-aneh deh, siapapun bisa melihat kita,” ucap Divine dengan senyum manisnya. Serasa mau gigit kalau lagi liat senyum Divine, gemesin banget.


“Aku sangat bersyukur dengan semua ini, hidup ku terasa sangat sempurna, makanya kamu jangan tinggalin aku ya!” suara yang tadinya pelan mensyukuri semua yang Gara punya saat ini, seketika berubah penuh penekanan pada Divine, karena pikiran yang terlintas di kepala Gara.


“Semuanya akan berantakan, jika kau tidak ada di sisi ku,” tambah Gara lagi.


“Iya sayang, aku akan tetap bersamamu, tidak akan meninggalkanmu.” ucap Divine penuh keyakinan menatap ke dalam mata Gara.


“Aku sangat ingin mendengar ucapan ini, aku sangat senang, terimakasih istriku.” Gara memeluk erat, dan menciumi seluruh wajah Divine saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Divine.


Gara sangat bahagia dengan apa yang ia dengar malam ini. Rasanya ia semakin ingin cepat-cepat kembali ke kamar dan melakukan hal yang sudah lama tertahan.

__ADS_1


Namun tidak dengan Divine, rasanya ia ingin bertanya pada suaminya itu. Pernahkah Gara berpikir kenapa dirinya belum hamil seperti wanita lainnya yang sudah menikah.


__ADS_2