Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 2


__ADS_3

Divine mengantar Inah menuju kamar Gio. Untuk memastikan Gio memperlakukan istrinya dengan baik.


Divine mengetuk pintu kamar putranya beberapa kali sembari memanggil nama anak sulungnya itu, namun tidak ada tanggapan dari dalam kamar.


Apa anak itu pindah kamar? Divine mencurigai Gio meninggalakan kamarnya. Divine pun membuka pintu kamar Gio yang tidak dikunci. Masuk ke dalam kamar Gio dengan terus menarik Inah untuk mengikuti langkahnya.


"Gio rupanya kau sedang mandi." tutur Divine santai saat melihat Gio yang baru saja keluar dari walk in closet dengan terburu-buru.


Inah terkejut bibirnya sedikit terbuka. Namun seketika ia kembali menundukkan kepala dan pandangannya setelah melihat Gio dengan rambut basah yang hanya mengenakan jubah handuk. Dada Gio tampak dengan jelas. Dirinya semakin merasa tidak pantas untuk pria kaya, sehat dan sangat tampan seperti Gio.


"Mama sedang apa, kalau Papa lihat Mama ada di kamar Gio dengan kondisi Gio hanya memakai bathrobe, Gio bisa di hukum 1 tahun gak boleh ketemu Mama." Oceh Gio. Dia seperti tidak melihat adanya wanita lain di kamarnya yang baru saja mencuci matanya dengan sangat baik. Gio lebih terfokus pada keberadaan Divine di kamarnya.


"Gio, ini bukan saatnya kau mengatakan itu, saat ini hal yang tepat kau lakukan adalah malu karena penampilanmu saat ini di lihat oleh orang yang masih asing bagimu." tutur Divine. Divine tersenyum ketika ia selesai dengan kalimatnya. Gio dengan kecepatan kaki seribu sudah hilang dari hadapannya, kembali masuk ke dalam walk in closet.


"Sayang kau sedang apa, apa ada masalah?" Suara Gara terdengar dari arah belakang mereka.


Divine mengulum bibirnya. Kini ia tahu mengapa Gio secepat kilat hilang dari tempatnya berdiri. Berbalik. Memutar tubuhnya ke asal suara dan melemparkan senyumnya untuk Gara.


"Sayang, kau istirahatlah disini, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan." tutur Divine.


"Cukup diam saja, jawab jika suamimu bertanya!" bisik Divine pada Inah sebelum menggandeng Gara untuk pergi meninggalkan kamar pengantin baru itu.


Klak. Pintu tertutup. Inah tersentak. Bahkan suara itu mengejutkan Inah, saking ketakutannya Inah. Mengkhawatirkan riasan wajahnya akan terhapus dan segala borok diwajahnya akan terlihat oleh suaminya.


Aku mengutuk diriku sendiri yang bodoh ini hingga mengambil foto dengan filter penuh. Hah semua ini karena buruk rupaku. Inah merasa sangat kesal dengan apa yang telah ia lakukan di tambah nasibnya yang sangat tidak beruntung.


Lagian siapa juga yang mau memajang foto yang hanya satu-satunya dengan wajah yang jelek. Inah membela dirinya sendiri. Merasa tidak salah telah menggunakan filter untuk mengambil foto.


Tapi kenapa tiba-tiba ada bapak yang ingin menjodohkan anaknya tanpa bertemu terlebih dahulu. Hah ya itu salah mereka.


Inah tersentak. Seketika dia kembali diam. Dia yang sejak tadi celamitan di dalam hatinya membeku saat Gio keluar dari ruangan berdinding putih. Aura Gio seakan memenjarakannya di dalam kotak es batu.

__ADS_1


Di sisi lain. Di kamar Divine. "Apa kau ingin menceritakan sesuatu?" tanya Divine pada suaminya.


"Sebenarnya tadi aku pergi untuk memastikan wanita yang Gio nikahi adalah wanita pilihanku."


Divine diam menunggu kelanjutan keterangan dari Gara, di hatinya menyambet "terus salah orang."


"Tadinya aku pikir keluarga itu membohongiku, tapi sepertinya tidak," ungkap Gara.


Divine menaikkan alisnya seakan bertanya pada Gara darimana Gara mengira keluarga itu berbohong.


"Biasalah sayang, wajah wanita mudah berubah hanya karena riasan, pipinya tampak tembem saat aku melihatnya tempo hari, namun tadi dia seperti orang yang berbeda"


Divine bergumam dalam hatinya. Apakah suaminya itu tau rupa asli dari wanita pilihannya. Mengapa dia memilih wanita yang bahkan tidak lebih cantik dari karyawan biasa di kantor putranya.


"Aku harap kau tidak melakukan kesalahan." tutur Divine, merasa kecewa dengan keputusan Gara yang sangat tiba-tiba. Divine tidak ingin adanya kegagalan rumah tangga yang bisa membuat trauma Gio maupun Inah. Cukup sudah dirinya dulu yang merasakan kepahitan awal rumah tangga. Tidak semua orang mampu menanggapi semua masalah yang menimpanya dengan bijak.


Lalu apa yang aku lakukan sekarang, aku sudah menciptakan kebohongan? Divine tersadar dialah yang membuat keadaan semakin memburuk. Bukankah akan lebih baik jika Gio mengetahui seperti apa keadaan istrinya sebenarnya.


Arrghhhhh... Divine semakin bingung.


Hubungan Gara dan Gio tergolong sangat baik. Mereka memiiki banyak kesamaan hingga sangat jarang menimbulkan perdebatan di antara mereka. Kecuali tentang Divine, ibu Gio yang tak bukan adalah istri Gara. Bertengkar karena perbedaan pendapat soal pekerjaan, Tidak. Bertengkar perkara Divine hanya memasak makanan kesukaan Gio, Iya.


Di kamar Gio.


Inah sungguh tidak tahu harus melakukan apa di dalam rumah yang serba ada ini. Ia hanya berdiri dan menunduk. Dia sangat pemalu, di tambah wajahnya yang juga tidak bisa ia sombongkan, Secantik apapun wajahnya saat dipenuhi riasan. Inah tetap merasa semua orang melihat wajah yang ia sembunyikan. Di tambah keberadaan Gio di sekitarnya membuatnya seperti kehabisan napas setiap suara yang masuk ke telinganya langsung membuatnya terkejut.


"Ahhhh." Inah bernapas lega. Gio keluar kamar tanpa mengucap satu katapun untuknya. Inah merasa lebih baik jika suaminya itu tidak berbicara dengannya.


"Tidak percuma aku sering membantu Ibu di toko." ucap Inah sembari memegang kakinya yang lelah sejak tadi terus berdiri. Dia melihat-lihat kamar Gio. Mencari tempat yang akan ia jadikan tempat beristirahat.


Beberapa jam berlalu. Seorang pelayan datang memanggil Inah di kamar Gio.

__ADS_1


"Non kenapa tidur disini, apa tidak digigit nyamuk?" tanya seorang pelayan yang menemuinya di balkon di jam 7 sore ini.


"Ahh." jawab Inah dengan senyum kebingungan. Rasanya baru kali ini dia di perlakukan baik oleh pelayan.


Inah Berpikir menduga semua orang di rumah ini sangat baik, bahkan ibu mertua yang banyak di terkenal jarang memiliki hubungan yang baik dengan menantu pun tidak terlihat di rumah ini.


"Terimakasih ya." tutur Inah menjawab ajakan makan dari pelayan. Bahkan mengatakan bahwa ibu dan ayah mertuanya sudah menunggu.


Inah pun keluar setelah melihat dirinya di cermin. Dia ngeri sendiri melihat wajahnya yang sampai saat ini masih terjaga oleh riasan. Juga tidak nyaman dengan kebenaran yang ia sembunyikan.


Entah darimana datangnya Gio dan tidak sengaja bertemu Inah tepat di sekitar meja makan. Hingga Divine tersenyum lebar saat melihat Gio dan Inah datang bersama. Menduga Gio dan Inah sudah saling berkenalan dan menjalin hubungan.


Ternyata anakku bisa lebih cepat dari ayahnya. Kalau begitu biar saja ini semua terus berjalan. Gumam Divine saat berdiri menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Inah ayo ambilkan untuk suamimu," Gara mengajarkan. Ia ingin Inah jadi seperti Divine.


Belum selesai Gara berbicara tangan Inah dan Divine sudah meraih sendok nasi secara bersamaan. Terlihat sangat jelas perbedaan kulit menantu dan mertua itu. Di saat bersamaan pula semua mata tertuju pada apa yang terjadi. Divine dengan cepat menarik tangannya agar tidak berlama-lama berada bersampingan dengan tangan Inah.


"Iya sayang, cepat ambilkan untuk suamimu." tutur Divine lembut penuh senyum. Menghentikan fokus pandangan  beberapa pasang mata yang baru saja pasti membuat Inah semakin merasa buruk.


Inah yang semakin kehilangan kepercayaan dirinya rasanya ingin menangis kencang. Dia benar-benar tidak sanggup berada di tengah orang-orang cantik dan tampan ini. Bahkan pelayan pun terlihat lebih baik dari dirinya.


"Kau mau mengambilkan atau tidak." suara Gio. Inah yang memang lamban dalam bergerak di tambah pikirannya membuat Gio kesal.


"Kau duduklah sayang, hari ini hari pertamamu, biar Mama yang melakukannya untuk hari ini." tutur Divine.


"Papa nih juga, kenapa minta Inah segala, dia pasti belum tau apa yang suaminya sukai dan tidak sukai." omel Divine gemes.


"Gio dan Aku kan sama, jadi apapun yang diberikan oleh istrinya, pasti dia suka. Bukan begitu anakku?" tanya Gara. Tangannya melingkar di pinggang Divine. Seakan menyiratkan "Ini istriku" pada Gio.


Gio hanya berdehem. Ayahnya benar-benar tidak tahu malu. Di depan orang baru pun ia masih bisa merangkul pinggang istrinya.

__ADS_1


__ADS_2