
Divine masih terus mendekap Gara dalam pelukannya, air matanya mengalir deras.
“Apa yang terjadi sayang?” tanya Divine dengan suara lirih berbicara di samping kening Gara, mencium kening Gara sesaat setelah berbicara dan menempelkan pipinya di kening Gara.
Gara hanya diam dengan air mata mengalir di pipinya.
Divine mengambil bantal tanpa melepaskan Gara.
tak mungkin ia memanggil pelayan untuk membantunya, itu akan mempermalukan Gara jika orang lain melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Divine meletakkan bantal di belakang Gara hingga ia bisa menyandarkan Gara di bantal yang tertumpu pada ranjang mereka.
“Sayang bersandar disini, aku akan mengambil obat sebentar.” seraya menyandarkan tubuh Gara ke bantal yang sudah Divine sediakan.
“Jangan,” ucap Gara dengan suara pelan dan memegang lengan Divine.
“Jangan apa? lebam mu ini perlu di kompres.” jawab Divine.
“Jangan tinggalkan aku,” jawab Gara pelan dan penuh keseriusan.
Wajah Divine seketika berubah jengah mendengar perkataan suaminya itu.
“Aku hanya ingin mengambil beberapa es batu lalu mengompres luka lebam mu ini.” jawab Divine dengan raut wajah malas, karena mendengar ucapan Gara yang berpikirnya begitu jauh.
“Benarkah kau akan kembali?” ucap Gara lagi memastikan bahwa Divine benar-benar tidak ingin meninggalkannya.
“Iya sayang, tunggu sebentar disini, kau tidak ingin ada pelayan yang melihat mu seperti ini kan!” seraya menarik lengannya pelan dari genggaman Gara.
Gara pun melepaskannya dan terus mengikuti Divine dengan pandangannya, hingga ia harus percaya Divine akan kembali saat melihat Divine keluar dari pintu kamar mereka. Gara terus melihat ke arah pintu berharap Divine segera kembali dan masuk ke kamar. Namun beberapa menit pun berlalu, Gara merasa Divine sangat lama, Gara pun berdiri untuk mencari Divine keluar, ia tak peduli semua orang akan melihatnya.
Gara berjalan seperti tak ada yang terasa sakit di tubuhnya dan kini Gara pun sudah sampai di depan pintu dan akan membuka pintu kamar mereka. Selangkah lagi ia akan memperlihatkan dirinya yang sedang kacau itu.
“Kenapa berdiri?” ucap Divine yang berdiri di depan pintu kamar mereka.
__ADS_1
Divine kembali bertepatan dengan saat Gara membuka pintu, ia membawa sebuah nampan di tangannya yang berisi beberapa butir es batu di dalam wadah dan beberapa lembar handuk kecil.
Divine dengan cepat masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampan itu di atas meja di dekat sofa, tempat terdekat dari posisi ia berdiri.
Lalu Divine kembali menghampiri Gara setelah meletakkan nampan yang ia bawa, Ia membawa Gara ke tempat tidur dan meminta Gara untuk berbaring, sudah seperti sedang merawat pasien sakit.
“Kenapa kau bangun, itu akan membuat darah mu mengalir lebih cepat dan membuat lebam mu ini semakin melebar.” celoteh Divine seraya mengambil nampan yang ia letakkan di meja sofa.
Namun Gara diam saja, terus memandangi cintanya yang sedang berjalan dan menikmati celotehan Divine.
Gara merasa lebih baik jika melihat Divine dan mendengar suara Divine tak perduli apa yang istrinya itu katakan.
Divine membungkus beberapa butir es batu di dalam handuk kecil dan menempelkan pada lebam di dahi Gara dan juga tangan Gara, sangat lembut Divine memperlakukan suaminya itu.
Mungkin jika nanti ia memiliki anak, anaknya tak akan jera bila terluka karena memiliki ibu yang sangat lembut untuk merawat orang yang terluka.
“Apa ini sakit sayang?” tanya Divine setiap menempelkan es batu di bagian yang memar.
“Ya sedikit,” jawab Gara manja.
“Istirahatlah, kau pasti lelah sudah bekerja seharian ini.” Divine menarik selimut menutupi tubuh Gara.
“Kau mau kemana lagi?” tanya Gara saat melihat Divine berdiri dari tempat tidur.
Divine menghela nafasnya melihat tingkah Gara hari ini.
“Baiklah, aku akan meletakkan ini di meja sofa, jika kau tak ingin aku keluar dari ruangan ini.” ucap Divine.
pikirnya menuruti semua keinginan Gara sekarang akan lebih baik.
“Ya, peluk aku!” nada perintah dari seorang Gara memang paling pas keluar dari mulutnya, daripada ucapan-ucapan bucin.
Setelah meletakkan nampan, Divine kembali ke tempat tidur dan mematikan lampu, hanya lampu meja yang menyala.
__ADS_1
“Kenapa mematikan lampu, bahkan ini masih sore, apa kau ingin sesuatu dari ku?” ucap Gara.
Wajah Divine memerah saat mendengar ucapan terakhir Gara, ekspresi Gara membuatnya malu.
“Ehh, aku pikir kau ingin tidur dengan memintaku memelukmu?” jawab Divine sesuai yang ia pikirkan.
“Jika kau mau, aku masih sangat kuat sayang.” ucap Gara dengan wajah tak tau malu.
“Ehh gak, istirahat saja.” jawab Divine dengan cepat ia memeluk Gara, menempelkan kepala Gara di dadanya dan tangan kanan Divine melingkar di atas dada Gara.
Berharap Gara berhenti berpikir yang tidak-tidak dan segera tertidur.
Gara malah menggesek-gesekkan pipinya pada buah dada Divine, dan seketika berhenti namun tetap menempel pada dada Divine karena dagu Divine tertumpu di kepala Gara membuat Gara tidak bisa menengok menghadap Divine saat mengingat suatu hal.
“Kau darimana sore tadi, ga lagi cari rumah murah kan, ingat kau akan jadi janda miskin jika meninggalkan ku!” ucap Gara.
“Mungkin aku akan bertemu om-om kaya yang ga bucin?” Divine tak mau kalah, ia menimpali ucapan Gara.
“Siapa yang bucin, yang bucin tuh Eza, hah apa kamu mau sama Eza?” Gara tidak sadar menyebut nama temannya itu, dan seketika tersadar, terkejut dengan ucapannya sendiri dan berpikir istrinya benar mau dengan Eza.
“Haha Eza, ya benar dia bucin, dan memperlakukan wanita dengan sangat baik, ya boleh juga tuh.” Divine tertawa dan terus menggoda Gara.
“Tidak akan,” jawab Gara tegas, seolah ia sangat kuat mendengar ucapan Divine.
“Jangan sayang, jangan tinggalin aku.” tambah Gara namun dengan suara yang seketika lemah seperti merengek dan ternyata air mata Gara mengalir lagi menetes di baju Divine hingga membuat Divine melihat ke arah Gara.
Hati Gara saat ini benar-benar rapuh, terlanjur mencintai terlalu dalam, selain istri, Divine adalah cinta pertama Gara, ia tak mengerti mengolah perasaanya, ia tak pandai menjadi seorang pria yang kuat jika menyangkut perasaannya, ia sangat tidak berpengalaman.
“Kenapa menangis?” tanya Divine dengan memegang kedua pipi Gara.
Namun Gara diam saja, ia menarik wajahnya dan membenamkan wajahnya pada dada Divine.
Ia tak tahu harus menjawab apa, yang Gara rasakan hanya ada ketakutan besar akan kehilangan Divine.
__ADS_1
“Ada yang lebih baik untuk mu,” ucap Divine. Entah mengapa Divine berkata seperti itu. Membuat tangis Gara semakin menjadi.
“Aku hanya ingin kamu, bisa kah kau mengerti itu?” jawab Gara tegas, mengangkat kepalanya di depan Divine. Tak peduli air mata yang mengalir di wajahnya, Gara benar-benar sudah kehilangan harga dirinya sebagai lelaki di depan Divine, namun itu tak penting bagi Gara, yang ia pikirkan hanyalah Divine dapat mengerti bahwa dirinya tak ingin Divine pergi dari hidupnya.