Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 51


__ADS_3

"Ya silahkan saja ambil foto dan video sebanyak-banyaknya!" ucap Ben dengan sangat nyaring.


Sementara Gara terus saja berjalan ia tidak memperdulikan Divine sedikit pun. Divine


terus saja mengikuti suaminya dari belakang walau tidak di perdulikan.


"Agar kalian tahu bagaimana wajah Divine pemilik Andava grup." tambah Ben dengan suara pelan namun semua reporter yang ada di sana mendengarnya dengan jelas.


Seketika para reporter itu menurunkan Kamera dan handphone mereka. Sebenarnya mereka terkejut dengan adanya Gara di sana. Tak menyangka bahwa Gara lah pebisnis muda yang meraih sukses dengan cara yang buruk di tambah sekarang ia sudah memiliki istri. Ini akan menjadi berita yang sangat besar, pikir para reporter itu. dengan image Gara selama ini yang tidak pernah terlibat skandal dengan wanita, pasti akan merusak nama baiknya. Karena itu mereka tetap mengambil foto dan video untuk memberitakan pebisnis muda meraih sukses dengan mendekati anak-anak orang kalangan atas agar bisnisnya berjalan lancar. Namun siapa sangka wanita yang mau di peralat adalah Divine seorang yang tidak bisa di lawan oleh siapapun di Negara ini, jika bermasalah dengan Divine tidak mungkin Jerry akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang.


Ben pun meninggalkan para reporter itu. Terdengar "Itu istri tuan Gara, aku terpesona Nona Divine sangat cantik, heh siapa yang bilang disini ada berita besar bodoh sekali dia, sama saja dengan mu buktinya kamu berani mengambil gambar mereka." suara-suara dari kumpulan para reporter itu.


"Halo Tuan, suasana kacau Tuan Gara ada disini." seorang pria yang berada jauh dari keramaian para reporter berbicara di telpon sambil memandangi Gara, Divine dan Ben yang sudah memasuki pintu lift.


"Ada apa, kenapa bodoh sekali?" Pria di balik telpon itu berpikir orang suruhannya sudah memberikan obat perangsang pada orang yang salah.


"Tidak tuan, obat itu benar sudah saya berikan pada orang yang sesuai dengan foto, sepertinya ia menolong wanita yang dibawa paksa kesini." orang ini tidak melihat kapan Gara dan Ben tiba di hotel dan masuk ke kamar Eza. Karena saat Gara dan Ben tiba ia masih berada di dalam toilet untuk buang air besar, begitu pun dengan roomboy yang datang membawa banyak es batu, ia juga tidak melihatnya saat itu ia baru saja masuk ke dalam toilet.


Pria di balik telpon itu langsung mematikan sambungan telponnya. Dia berpikir siapa wanita yang sudah di culik orang bodoh suruhannya.


"Tidak perduli Gara tidak akan mampu mencari ku." ucap seorang pria bernama Nois yang selama ini berada di balik telpon.


Nois adalah lawan bisnis Eza mereka menjalankan perusahaan di bidang yang sama, design perhiasan.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan Divine mencoba menjelaskan pada Gara namun Gara seolah tak mendengarnya. Gara hanya diam dan terus diam seolah tak ada yang sedang berbicara padanya.


"Viona tidak datang dan aku keluar dari restoran itu berniat untuk pulang, namun dua orang laki-laki membawa ku dengan paksa." ucap Divine memegang tangan Gara dan menatap mata Gara menunjukkan bahwa ia tidak berbohong. Pandangan Gara tak sedikit pun melihat ke arah Divine namun tidak menarik tangannya dari genggaman Divine.


Dibawa paksa, tapi berduaan di bathtub dalam keadaan sadar, huh!, begitu pikir Gara.


Gara pun menarik tangannya setelah pikiran itu terlintas.


Divine sangat terkejut saat Gara menarik tangannya, pikirnya Gara benar-benar tidak percaya padanya. Divine diam dan tidak berniat menjelaskan apa pun lagi.


Sampailah mereka di rumah. Ben membukakan pintu untuk Gara dan berlanjut ingin membukakan pintu untuk Divine namun Divine sudah membuka pintu mobil itu sendiri dan keluar dari mobil.


Divine masuk ke dalam rumah terlebih dahulu meninggalkan Gara dan Ben.


"Kau tidak melihat apa yang ku lihat!"


Ben memang tidak melihatnya, saat Ben masuk Divine sudah berdiri di depan bathtub. Ben memukul Eza karena ia pikir Eza lah yang menculik Divine, karena Ben tahu bahwa Eza menyukai Divine pada pandangan pertama.


Ben diam berpikir apa yang sudah Gara lihat, ia mengingat lengan baju Divine yang robek menandakan adanya sebuah paksaan. Ben pun berjalan menuju kamarnya, setelah Gara masuk ke dalam ruang kerja dan menutup pintu, seakan berkata biarkan aku sendiri.


Divine yang sudah berada di dalam kamar telah melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin menenangkan tubuh dan pikirannya karena hal yang terjadi malam ini dengan berendam di bathtub ternyaman miliknya, hanya ada 1 di indonesia dibuat berdasarkan design ibu Divine.


Divine sudah mengisi air hangat dan essensial oil beraroma lavender. Hanya tertinggal handuk yang membalut tubuhnya, kini ia pun menanggalkan handuk itu dan masuk ke dalam bathtub.

__ADS_1


Divine menutup matanya namun pikirannya berjalan kemana-mana. Kenapa Viona tidak datang, ini tidak pernah terjadi sebelumnya?, Kenapa aku di culik?, kenapa Eza? lalu Gara yang datang di saat yang tidak tepat, kenapa? beragam pertanyaan timbul di pikiran Divine yang ia tidak dapatkan jawabannya.


Sedangkan Gara hanya bersandar di kursi kerjanya. Ia berpikir banyak hal buruk hanya tentang Eza dan Divine. Ia merasa di khianati oleh dua orang terdekatnya.


"Jika bukan karena Vely, mungkin aku tidak akan mengetahui perbuatan mereka sampai saat ini." ucap Gara.


Gara semakin jauh dari kenyataan. Menurutnya karena Vely lah ia bisa mengetahui perbuatan busuk istri dan temannya itu.


"Jika Vely tidak mengatakan pada Ben, mungkin aku akan menemani Divi bertemu Viona, dan tidak mungkin ia punya kesempatan bertemu Eza dan aku akan di bohongi terus hingga saat ini." ucap Gara lagi.


Gara pun keluar dari ruang kerja berjalan menuju kamarnya, namun ia berhenti dan


masuk ke kamar Ben, ia tak melihat Ben di sana, hmm apa dia sudah pulang begitu pikir Gara.


Gara pun masuk ke kamar mandi dan melihat Ben yang telanjang dada sedang berendam di bathtub dengan menutup matanya, Gara pun langsung masuk ke dalam bathtub dan menindih tubuh Ben.


"Aarrghhh..... " seketika Ben berteriak dan berhenti saat melihat Gara lah yang berada di atas tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan Gara?" ucap Ben seraya keluar dari bathtub, ia merasa jijik berduaan dengan pria di dalam bathtub terlebih dengan posisi seperti itu.


Sedangkan Gara terduduk di dalam bathtub.


Tok..tok..tok.. Baru saja Gara ingin berbicara, terdengar suara ketukan pintu di depan kamar Ben.

__ADS_1


"Diam, kalau kau tidak mau orang berpikir macam-macam tentang kita!" ucap Ben dengan pelan penuh ancaman, saat ini Ben sudah seperti Bos Gara yang sedang memerintahkan sesuatu ke bawahannya.


__ADS_2