
Divine berdiri menghindar dari apa yang akan Gara lakukan. Gara menarik Divi kembali duduk.
"Kenapa selalu menghindari ku?" Wajahnya semakin ia dekatkan di wajah Divi.
"Tidak, hanya saja waktunya tidak tepat."
"Apa lagi alasannya, sekarang sudah tidak ada baby Gio yang mengganggu?" sanggah Gara seperti yang selalu saja terjadi beberapa tahun lalu.
"Iya, tapi ada Gio yang sudah besar." Divine melempar pandangannya pada Gio yang berdiri di ambang pintu di belakang Gara.
Kebetulan sekali Gio tiba-tiba muncul. Padahal Divine hanya tidak ingin Gara menciumnya.
Gara menarik napasnya. Dipikirannya lagi-lagi Gio. Dia masih saja jadi pengganggu.
"Gio, anak papa sudah bangun sini duduk sama papa?" ucap Gara manis.
Divine menggembungkan pipinya menahan tawa. Ia tahu benar Gara hanya berkata manis.
Gio menurut saja dan duduk di pangkuan Gara.
"Gio kesepian ya gak ada teman main, Gio mau punya adik?" tanya Gara lembut pada Gio yang sebenarnya ingin Divine mendengar Gara siap membuatnya hamil lagi. Divine mendorong pundak Gara.
Gio menggelengkan kepalanya. Pertanda ia menjawab tidak untuk pertanyaan ayahnya. Divine terkekeh lalu menutup mulutnya.
Flashback 7 tahun lalu.
Dimana baby Gio baru saja lahir.
Ibu Soraya mengadakan pesta ibu-ibu sosialita bersama teman-temannya di sebuah restoran hotel. Seorang pria menyapanya saat hendak meninggalkan restoran.
"Gary...?" Sebut Soraya setelah melihat wajah pria yang seumuran dengannya.
Pria berkulit sedikit coklat, berbadan kekar dan rambut hitam di depan Soraya tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya.
"Ternyata kau masih mengenaliku. bagaimana kabar mu raya?" tutur Gary akrab pada wanita yang baru saja memiliki cucu kala itu.
Jantung Soraya berdebar sejak pertama kali matanya melihat bola mata yang pernah begitu akrab sebelumnya.
"Tentu saja aku masih mengenali, kau tampak tidak berubah. Bahkan semakin memukau." puji Soraya. Masih berdiri di depan pintu keluar.
"Apa kau ada waktu? mari duduk sebentar." ajak Gary sudah menggandeng tangan Soraya untuk duduk membuka meja lagi.
Soraya hanya menatap tangannya yang terpaut pada tangan Gary mengikuti langkah pria di depannya.
Merekapun duduk. Gary memesan 2 minuman dan makanan ringan. Soraya menolak untuk memesan makanan berat karena ia baru saja usai makan bersama teman-temannya.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabar mu?" ucap Soraya. Ada rasa bersalah di dalam dirinya.
"Masih sama, hanya karyawan sebuah perusahaan." jawab Gary tenang.
__ADS_1
Percakapan ringan terus terlontar hingga Soraya merasa tidak enak badan.
"Gary, maaf Aku harus pulang, aku merasa tidak baik." Soraya berdiri dengan wajah yang sudah memerah. Gary membantunya. Namun untuk membawa soraya ke kamar hotel yang sudah ia pesan.
Belum sampai di kamar hotel Soraya mencium Gary saat di dalam lift. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Sesampainya di kamar hotel Soraya tak segan membuka seluruh pakaiannya.
"Apa kau yakin raya?" ucap Gary.
"Ini pun bukan kali pertama." Soraya menyambar bibir Gary. Hal yang memang Gary inginkan. Ia pun menikmatinya seluruh tubuh Soraya tak bersisa di siang hari itu.
Beberapa jam kemudian. Soraya sudah terbangun setelah tertidur. Lelah usai pergulatan mereka.
Gary masih berbaring di sebelahnya terlihat bulu yang cukup banyak di dada Gary.
"Apa kau memasukkan sesuatu ke dalam minuman ku Gary?" tanya Soraya setelah mengetuk dada Gary membangunkan pria yang baru saja menikmati tubuhnya.
Gary tersenyum. "Maaf aku melakukannya, ku pikir kau pasti menolak jika aku berkata jujur sejak awal." ucap Gary jarinya meraba bibir Soraya yang memakai lipstik merah kesukaannya.
Sejak saat itu hubungan perselingkuhan ini terus terjalin. Dimana Gary adalah bekas pacar Soraya yang ia tinggal menikah dengan Bravijna.
Soraya larut dalam hubungan yang sebelumnya telah berakhir. Berpikir untuk mengubah jalan hidup yang sedang ia arungi bersama Bravijna. Kembali bersama dengan Gary cinta pertama dan juga lelaki pertama yang telah menyentuhnya. Bagaimana pun juga Soraya belum melupakan Gary seutuhnya karena dialah pria yang pertama kali menyentuh tubuhnya hingga akhirnya menikah dengan Bravijna karena memiliki masa depan lebih cerah di banding Gary yang hanya seorang karyawan sedangkan Bravijna adalah pewaris perusahaan walau bukan perusahaan skala besar.
Brav yang kala itu tidak memiliki asisten pribadi pun mendengar saran Soraya untuk menjadikan seorang teman yang sudah lama ia kenal sebagai asistennya. Karena Brav selama ini hanya mengandalkan seorang sekertaris wanita yang Soraya katakan membuatnya cemburu.
Gary pun berhasil menjadi asisten pribadi Brav. Perselingkuhan pun semakin menggila. Gary tak segan mendapatkan jatahnya walau sedang berada di rumah Brav.
Hingga akhirnya Soraya mengetahui bahwa Gary memiliki istri dan selama ini membohonginya. Namun semua sudah terlambat. Saham yang di miliki Brav sudah berpindah dengan bantuan Soraya sebelumnya. Hingga Brav tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri di kantornya sendiri.
Tak ingin di ketahui oleh Brav. Soraya pun menyimpan rapat-rapat semua yang telah ia lakukan dan dengan cepat mengajak Brav ke Indonesia untuk bertemu cucunya. Dengan dalih mereka sudah cukup tua sudah saatnya hanya bermain dengan cucu untuk menghilangkan ambisi Brav membongkar semua hal hingga akhirnya ia di tipu oleh asistennya sendiri
Brav pun menurut. Soraya langsung mengabari anaknya untuk kedatangan mereka. Tak ingin Gara bertanya banyak hal. Mereka pun menutupi bahwa mereka telah bankrut.
Melupakan apa yang sudah ia lakukan hingga membuat jalan hidupnya benar-benar berubah namun tak sejalan dengan yang ia inginkan.
Kalimat dari saudaranya yang kini menghantuinya. "Anak mu di sana, sukses dan kaya karena istrinya, kau hanya menumpang pada menantu mu".
Dengan rasa malu Soraya terbang ke Indonesia untuk menetap menumpang dengan menantunya.
Hingga saat ia sudah berada di Indonesia. Pikiran untuk meniadakan Divine pun merasuk ke dalam tubuhnya. Soraya ingin Divine mati hingga kekayaan menjadi milik Gio. Tidak akan ada lagi kata-kata yang merujuk hanya kekayaan Divine istri dari anaknya. Namun akan berganti menjadi milik Gio anak dari Gara.
Inilah yang di dengar oleh Divine saat ibu Soraya berbicara di telpon mengatakan "Dia sudah tidak berguna".
Soraya menginginkan Divine mati. Namun yang terjadi sekarang. Divine bukannya bunuh diri. Ia malah membawa Gio kabur bersamanya. Lagi-lagi rencananya tidak sejalan dengan yang ia harapkan.
Soraya setiap hari mengisi telinga Divine dengan perkataan tak enak.
Hari saat Gara pergi bekerja. Soraya memikirkan hal-hal untuk membuat seorang ibu baru mengalami depresi.
"Div, kamu ngapain aja sih jam segini belum bangun, suami mu bahkan sudah berangkat bekerja." ucap Soraya menghampiri Divine yang masih tertidur di kamarnya.
__ADS_1
"Ibu." jawab Divine yang baru saja membuka matanya karena mendengar celoteh ibunya dengan nada pelan namun menusuk ke dalam hati Divine.
"Bangun. sudah siang." Soraya meninggalkan kamar Divine karena Gio juga masih tertidur.
Soraya sengaja melakukannya. Sebenarnya ia tahu ibu yang menyusui bayinya wajar sekali merasa sangat mengantuk di pagi hari.
Hal serupa berlangsung beberapa hari. Hingga akhirnya saat Gio menyusu saat Gara bersiap untuk berangkat. Divine tidak kembali tidur. Ia pun merasa kelelahan saat menjalani hari seperti itu.
Soraya ingin Divine merasa depresi pasca memiliki anak. Itu yang paling tepat untuk kondisi Divine saat itu. Memiliki bayi berusia 4 bulan. Sangat mungkin ia akan menyakiti anaknya atau dirinya sendiri. Jika Divine menyakiti Gio. Soraya akan dengan mudah meminta Gara menceraikannya dan hak asuh jatuh pada Gara. Karena sang ibu akan tertuduh mengalami gangguan jiwa.
Saat siang hari pun. Soraya tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk tidak menyindir menantunya.
"Div, kamu kenapa tidur terus, badan mu sudah semakin gendut." ucap Soraya saat menemukan Divine tengah tidur siang.
"Iya Bu." Divine terbangun lagi saat mendengar suara mertuanya.
Soraya meninggalkan Divine. Ia hanya ingin membuat Divine merasa tidak senang.
Begitu terus. Ada saja yang dikatakan oleh Soraya untuk membuat Divine tidak senang demi mewujudkan keinginannya.
membebaskan Gara dari ejekan sukses dan kaya karena istrinya.
Hingga Gio berusia 2 tahun. Sudah ada berapa banyak yang tidak bisa Divine lakukan hanya karena mendengar ucapan mertuanya.
"Kamu bertengkar dengan Gara?" Soraya bertanya saat menemani Gio bermain.
"Tidak Bu, biasalah Gara cemburu saja." jawab Divine.
"Tapi ibu lihat kalian seperti sedang bertengkar?" Soraya melihat tadi Gara berangkat kerja tidak seperti biasanya.
Saat itu harusnya Gio sudah tidak menyusu karena sudah berusia 2 tahun. Namun butuh proses untuk berhenti mimik Asi sang ibu. Gara menarik paksa Gio yang sedang mimik susu dengan ibunya sontak membuat Divine memukul Gara. Gara pun langsung keluar dari kamar, meninggalkan rumah tanpa sarapan.
Divine tahu Gara marah. Hingga meninggalkan kamar dan rumah tanpa pamit dengannya.
"Lagi-lagi dia tidak bisa mengerti menjadi ayah ya?" ucap Soraya mereka-reka yang ia yakin pasti benar.
Divine mengangguk.
"Hmm dasar anak itu, gak ada bagus-bagusnya. Di tambah kamu yang ga ngerti dia." ucap Soraya sambil melihat kearah Gio. Padahal kan harusnya Gara yang harus mengerti Divine.
"Maksudnya Bu?" tanya Divine.
"Harusnya kamu lebih pintar. Kalau tidak bisa, minta saja dia menikah lagi. Ibu rasa Vely memang yang sangat cocok untuknya." ucap Soraya tanpa melihat kearah Divine. Ia memberikan mainan pada Gio yang ada di depannya.
Entah kali berapa sudah Soraya mengucapkan ini pada Divine.
Divine berdiri dari tempatnya meninggalkan Soraya dan Gio disana berjalan lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Di dalam kamar Divine mengingat semua hal yang terjadi. Gara yang selalu tidak mengerti dirinya dan Gio. Timbullah ketidak cocokan di benak Divine. Membayangkan lagi Vely yang mendambakan Gara bertahun-tahun telah memberikan ginjalnya dan mengalami depresi saat Gara mengirimnya kembali dan menutup aksesnya kemanapun.
__ADS_1
Divine mengangkat tangannya. Sungguh ia tidak kuat lagi. Ingin mengakhiri semuanya walau harus bertentangan dengan perasaannya. Sering kali otak tidak sejalan dengan apa yang hati inginkan.