Istri Pajangan

Istri Pajangan
Giodava 16


__ADS_3

“Pelan-pelan sayang.” Divine mengatakan pada Gio yang tengah batuk karena tersedak mendengar kalimatnya..


“Ya, terus saja, bahkan ini sudah ketiga kalinya dalam waktu kurang dari lima menit!” celetuk Gara tanpa melihat kearah siapapun, dia menggerutu sambil menikmati sarapannya.


Divine menutup mulutnya dengan tangan kanan, berhenti berbicara, ia tahu apa yang di maksud oleh suaminya. Baru saja dia memanggil Gio dengan kata “sayang” bahkan Divine tidak menyadari kalau sudah sampai tiga kali.


Soraya ingin menanggapi kalimat Gara dengan bilang “batuk tidak bisa di hentikan, akan berhenti dengan sendirinya.” tapi Soraya menahannya, takut akan di bentak oleh putranya sendiri.


Bagus saja dia tidak mengatakannya, karena akan lebih sakit rasanya jika tidak di tanggapi oleh Gara, karena Soraya tidak nyambung.


Gio meneguk air putihnya sedikit, lalu beranjak meninggalkan meja makan. Gara dan Divine saling berpandangan.


“Gio ada apa denganmu? Habiskan sarapanmu sayang.” panggil Soraya saat Gio sudah membelakangi mereka.


Namun Gio tidak bergeming, ia terus melangkah besar kembali menuju kamarnya dengan hati gusar. “Bian itu apa-apaan sih?” dumel Gio.


Gio mondar-mandir di dalam kamarnya. Memikirkan apa yang akan dia lakukan, apa yang sedang dilakukan Bian dan Inah hanya berdua di dalam mobil atau mereka akan berhimpitan di kursi  belakang menggunakan jasa sopir. Pikirannya semakin tidak karuan saat mulai membayangkan.


Tok tok tok


Divine membuka pintu kamar putranya, Gio, di belakangnya ada Gara yang sedang mendorongnya untuk segera masuk.


“Mama, ada apa Ma?” Gio berbalik melihat ibunya, bertanya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


“Ah tidak sayang, ah tidak maksud Mama, Gio,” Divine meralat ucapannya tidak ingin terkena denda yang  Gara buat untuknya. “Kamu baik-baik saja nak, tidak biasanya kau tidak menghabiskan sarapanmu?” lanjut Divine bertanya, menghampiri Gio yang  berdiri di dekat kaca yang merupakan dinding kamarnya.


Gio mengangguk dengan wajah datar. “Iya Ma, Gio baik, hanya tidak selera saja.” jawabnya.


“Ya sudah kalau begitu, Mama tinggal ya, Mama ada di halaman belakang kalau Gio membutuhkan Mama.” Divine berbalik membelakangi Gio, berjalan tanpa ada rasa beban sedikitpun.


Gio memandang punggung Divine yang semakin menjauh darinya. Pipinya berkedut.


“Ma..” panggil Gio saat ibunya sudah hendak menarik pintu kamarnya keluar.


Divine tersenyum licik, lalu memperbaiki ekspresinya sebelum berbalik. “Ya, kenapa Gio?” mengangkat kedua alisnya sembari melempar senyum pada putranya yang tengah ragu.

__ADS_1


“Emm, tidak apa Ma.” telinganya mulai memerah.


“Gio ada apa? mama sangat mengenalmu.” Divine kembali bertanya setelah melihat kuping Gio.


Gio pun langsung menyadarinya dan menyentuh telinganya. “Mama jangan berpikir macam-macam dulu ya.”


“Sayang….” Terdengar suara dari luar, Gara memanggil Divine setelah mundur sedikit menjauh dari kamar Gio.


Gio yang takut ayahnya akan menghampiri mereka berdua di kamarnya pun membulatkan tekad untuk bertanya tanpa menunggu Divine untuk menjawab pertanyaan sebelumnya dahulu.


“Inah tinggal dimana? Tapi Mama jangan berpikir Gio peduli padanya ya, Gio hanya ingin tahu dimana asisten Gio saat ini, Gio butuh dia sekarang.”


Divine mengulum bibirnya dulu sebelum menjawab pertanyaan Gio, menahan tawanya dulu lebih tepatnya.


“Tapi Bian bilang, dia libur hari ini sayang, jadi mereka akan kembali malam hari.”


“Malam!” mata Gio melotot. Dia terkejut, artinya Inah dan Bian akan seharian bersama.


“Ada apa sayang?  kamu bisa telpon saja jika ada yang mau di tanyakan dengan Bian, jangan khawatir Inah tidak akan merepotkan dia, jadi kamu tolong hari ini aja ya jangan ganggu Inah, kasihan dia kalau tidak jadi bertemu dengan keluarganya.” jelas Divine sejelas - jelasnya dengan bumbu - bumbu kalimat yang akan membuat putranya itu semakin tidak nyaman.


Gio tidak habis pikir dengan ucapan Ibunya, bisanya Divine mengatakan untuk jangan mengganggu istrinya yang sedang jalan bersama pria lain.


Gio berpikir untuk meminta alamat Inah lagi, tapi tadi saja ibunya tidak menjawab saat Gio hanya menanyakan nama kotanya. Sedangkan waktu terus berjalan. Matanya tidak henti-hentinya melihat pintu kamarnya, berjaga-jaga ayahnya akan tiba.


Divine menunggu Gio berbicara, tapi Gio belum juga bersuara. “Udah ya Gio, Papamu sudah manggil tadi tuh.” Divine hendak berbalik lagi namun Gio kembali mencegahnya.


“Tunggu Ma,”


“Ada apa nak, kamu sebenarnya mau bilang apa sih?” tanya Divine dengan ekspresi lelah yang sejak tadi berkali - kali di hentikan untuk meninggalkannya.


Gio kembali melihat ke arah pintu.


“Ma, mama kok bisa sih biarin Inah pergi sama Bian?”


Divine menggigit bibirnya. Sudah sejak tadi dia dan Gara yang menunggu di depan kamar ingin mendengar kalimat ini dari Giodava putra sulungnya.

__ADS_1


“Ya bisa dong nak, kan gak mungkin Mama biarin Inah pergi sendiri?” timpal Divine pura-pura tidak mengerti apa yang di maksud oleh Gio.


“Emm…” Gio terdiam lagi, lidahnya kelu, tidak mampu untuk mengatakan hal lain lagi. Terasa begitu berat.


Sementara Gara yang menunggu di depan sana mulai geram, ia tidak sabar untuk menemui istrinya lagi, rasanya sudah sangat lama membiarkan Divine bersama pria lain. Dia mundur lagi menjauh dari kamar Gio.


“Istriku Diviii….” panggilnya lagi. Agar putranya itu mengaku lebih cepat,  tepatnya agar dia bisa segera menemui ibu dari putranya itu.


Beralih pada ibu dan anak yang berada di dalam kamar, yang masing-masing berbicara di dalam hatinya.


“Ya udah, Papamu udah manggil lagi tuh.” Divine memuji Gara di dalam hatinya. “Ternyata suamiku itu bisa juga diajak kerjasama”


“Tapikan Ma,  Mama bisa minta Gio, bukannya si Bian jelek itu.” kesal Gio pada Bian yang baru saja dia sebut namanya hingga mengatai asisten dan juga temannya itu jelek.


“Lah emang Gio mau, bukannya Gio….”


“Ya terpaksa, mau gak mau, entah apa nanti kata keluarganya melihat putri mereka berduaan dengan pria lain, mungkin saja kan mereka akan menjelek-jelekkan keluarga kita.” sela Gio berbicara sembarangan, dia tidak tau lagi harus mengatakan apa lagi dan sejak kapan dia peduli apa kata orang lain.


“Tenang sayang, keluarga mereka akan sangat mengagumimu, mereka akan mengatakan, “wah suami Inah baik sekali bahkan mengirim asistennya sendiri untuk menemani istrinya disaat dia tengah sibuk”.” Divine memperagakan cara manis seorang ibu yang ramah.


“Sudah - sudah Gio kamu mengaku saja kalau kamu tengah cemburu, Mama sudah tidak tahan melanjutkan kepura-puraan ini, dan apa itu kau takut mereka menilai keluarga kita buruk, bahkan mereka tidak ingin mengenal suami putri mereka lebih jauh, cukup dengan mengetahui kamu hanya pria autis. Mereka tidak ingin tahu lagi” batin Divine.


“Ahh ayo kita videocall mereka.” Ide Divine tiba-tiba dan langsung melakukannya.


Tidak begitu lama panggilan pun langsung terhubung, di layar sudah terlihat wajah Bian.


“Iya Ma.” Suara Bian.


“Nih aku kasih kamu yang lebih banyak ya bian, kamu 8 aku 7” tiba-tiba suara Inah masuk ke dalam telpon.


Gio yang mendengarnya langsung menengok ponsel ibunya, rasa penasaran memuncak, apa yang sedang mereka lakukan.


“Kalian belum sampai?” tanya Divine.


Inah yang mendengar suara mertuanya,  senang dan segera ingin melaporkan apa yang terjadi.

__ADS_1


“Belum Ma, ini nih Bian ngeyel dibilangin.” cakap Inah dengan penuh keceriaan sembari mengejek Bian, dan mendekat dengan cepat pada Bian hingga tertangkap kemera, melihat Gio juga ada disana suaranya seketika hilang begitupun wajahnya yang juga langsung ia tarik menjauhi kamera.


Gio diam seribu bahasa, tidak tau harus bagaimana mengungkapkan arti tatapan matanya.


__ADS_2