
Dokter menatap iba pada Nuna, gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu harus menjadi korban dari konflik rumah tangga kedua orang tuanya.
Dia sudah sering mengobati Nuna, dan tetap tidak pernah bertemu dengan satu pun orang tua gadis kecil itu.
🍃🍃🍃
Di mana ada Freya, di situ ada Nuna. Dia seperti magnet yang akan terus mengikuti ke mana saja Freya pergi.
Brugh
Tanpa sengaja Nuna menabrak seseorang, anak laki-laki berkaca mata.
"Maaf, kamu enggak apa?"
Nuna diam saja, tidak menerima ukuran tangan itu. Anak laki-laki itu bernama Dika. Wajahnya cukup tampan meski usianya masih kecil, sepantaran dengan Nuna, hanya berbeda kelas saja.
Sudah beberapa hari ini Dika memperhatikan mereka berempat. Tahu bagaimana perkataan orang-orang tentang Nuna.
"Aku Dika, kamu Nuna, kan?" Nuna tetap diam saja, lalu berlari ke toilet untuk menyusul magnetnya.
Dika hanya bisa menatap kepergian Nuna, lalu kembali ke kelasnya.
__ADS_1
🍃🍃🍃
Waktu berlalu, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Nuna selai bersama-sama dengan para sahabatnya itu. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kedua orang tuanya, apakah mereka mau pulang atau tidak. Bahkan, dia sudah menganggap kalah dia tidak punya orang tua.
Nuna sudah terlalu sering mendengar perselingkuhan mamanya dengan pria lain. Bukan sembarang pria, tapi pria beristri, dan ada juga yan duda. Dan tentunya pria-pria itu bukan pria miskin. Pejabat, pengusaha, artis, berbagai kalangan pernah menjadi selingkuhan mamanya.
Nuna, yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa, menjadi bahan cibiran, dihina, dikucilkan, dan dimaki.
Tidak ada yang mau menjadi temannya, semua jijik. Para ibu melarang anak-anak mereka berteman dengan Nuna, takut memberikan pengaruh buruk pada anaknya, atau menjadi jembatan perselingkuhan mama Nuna dengan suami mereka.
Nuna selalu diserang secara fisik maupun psikis, tidak ada yang peduli bagaimana mental anak itu yang selalu mendapat perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya.
Seperti saat ini, saat Nuna pulang dari sekolah, mendengar kedua orang tuanya yang jarang pulang itu sedang bertengkar hebat.
"Seharusnya sejak awal aku tidak menikah denganmu!"
"Ya, begitu juga denganku. Seharusnya sejak awal, aku tidak menikah denganmu."
"Aku akan menceraikan kamu."
"Baguslah, memang itu yang aku mau."
__ADS_1
Bukannya takut, mama Nuna malah menantang suaminya.
"Lalu bagaimana dengan Nuna?"
Akhirnya, setelah sekian lama, namanya disebut juga. Nuna menghentikan langkahnya, ingin mendengar apa yang akan mamanya katakan.
"Tentu saja dia akan ikut denganmu, dia kan anakmu!"
"Tapi kamu mamanya!"
"Dan kamu ayahnya."
Nuna menghela nafas dalam, dia tahu kalau baru saja dia ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya sendiri. Apa dia tidak cukup berharga? Dia seperti barang yang tidak diinginkan. Nuna mengepalkan tangannya, kembali melanjutkan langkahnya dan melengos begitu saja di hadapan mereka.
"Nuna ...."
"Tidak usah peduli padaku. Bawa saja aku ke rumah yatim piatu."
Tidak ada air mata yang keluar. Untuk apa juga dia menangisi kedua orang tua yang tidak peduli dengannya. Seharusnya sudah sejak dulu saja mereka berpisah, tidak tahu kenapa mereka baru kau bercerai sekarang.
Nuna menutup pintu kamarnya, membaringkan tubuh kecilnya di atas kasur.
__ADS_1