Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
101 Benturan


__ADS_3

Tangan memang berhenti mencakar dan menjambak, tapi sekarang mulut yang aktif saling menghina.


"Apa, dasar anak muda tak tahu sopan-santun!"


"Situ yang tua enggak tahu diri. Pengkhianat kok dibela. Kalau enggak laku ya emang begitu, tuh!"


"Dasar perawan tua!"


"Aku emang masih perawan, tapi aku enggak tua, ya!"


"Tahu tuh, dia yang udah enggak perawan plus tua malah belagu!"


"Jadi begini kelakuan kalian, kalian ini para dokter malah gak punya sopan santun."


"Lah, kenapa malah bawa-bawa profesi dokter? Nah kalian sendiri apa? Katanya keluarga pendidik, yang bangga karena berpendidikan! Dosen dan rektor, ada juga yang guru dan kepala sekolah, kok kelakuan begini? Ngajak anak muda ribut. Malu, woy! Yang tua yang ngalah!"


"Ayo, kita demoin aja nih biar dilengserkan dari jabatan! Orang kaya gini nih, yang masih butuh didikan! Pendidik kok tukang tipu. Heleh, jangan-jangan kemampuan mereka itu menipu anak gadis orang!"


Wajah mereka merah padam, malunya minta ampun. Tidak menyangka kalau mulut para perempuan itu benar-benar pahit dan pedas!


"Kami panjatkan puji dan syukur karena Nuna terlepas dari orang-orang munafik seperti kalian. Awas, nanti kalau anak gadisnya ditipu pria baru tahu rasa. Nangis nangis deh, tuh!"


"Kita ucapkan?"


"Alhamdulillah!" kompak mereka.

__ADS_1


Sebagian ingin tertawa, merasa gemas dengan para perempuan itu yang benar-benar berani.


Anya, Vanya dan sepupu mereka menahan ngeri di wajah, mereka juga awut-awutan. Siap-siap saja setelah ini melakukan perawatan karena profesi mereka sebagai model, penyanyi dan pemain film.


Mamanya Evelyn ingin menampar Nuna lagi, rasanya belum puas kalau belum menyakiti gadis itu secara fisik atau mental lebih dalam lagi.


"Jangan terus-terusan main tangan!" Freya yang posisinya ada di depan Nuna tentu saja langsung menahan perempuan itu dan menghempasnya, hingga perempuan itu terhempas.


"Lah, jatuh? Padahal aku hanya menghempaskan dengan pelan, loh."


Benar, Freya hanya menghempasnya dengan pelan, karena tidak mungkin juga dia mendorong perempuan yang sudah tua. Gitu-gitu juga dia masih mikir.


Arby menahan tawanya, dia tahu Freya memang tidak mendorong dan hanya mengeluarkan sedikit tenaga.


"Ini yang namanya barang lapuk, ketiup angin dikit pun, oleng!" ucap Arby.


"Pergi kalian semua dari sini! Kehadiran kalian tidak diterima di sini!"


"Dih, kalian pikir kami masih betah di sini?"


Mereka membalik badan, tapi masih saja ada yang mau membuat ulah.


Ada yang mendorong Nuna dari belakang, hingga perempuan itu terjatuh dan keningnya membentur lantai.


"Bangsat!" teriak Ikmal tidak terima. Dia langsung menghajar pria itu, yang tidak tahu siapa. Perkelahian kembali terjadi.

__ADS_1


"Nuna." Freya membantu Nuna berdiri. Kening Nuna benjol dan sedikit mengeluarkan darah.


"Mereka ini benar-benar cari masalah terus ya, enggak bisa dikasih diam, memang!" pekik Freya.


Ada lagi yang menarik rambut Aruna, dan Nania membantu gadis itu, menggigit tangan orang yang yang menjambak Aruna. Setelah tangannya terlepas, Nanai langsung meludah, menghilangkan bekas gigitan itu dari mulutnya.


"Asin, anjir!"


Rei menjaga Nuna yang sedikit pusing. Mico lantas menjaga Rei dan Nuna.


Perempuan yang tadi menargetkan Freya langsung mengambil kesempatan, dan menyenggol perempuan itu dengan kencang, hingga perut Freya terbentur meja.


"Aw!"


"Freya!" pekik mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Masih penasaran?


Hehehe, gantung lagi, ya🤭


__ADS_2