
"Freya, kamu tahu ... yang paling menyakitkan buatku bukan karena pengkhianatan Dika. Bukan juga karena gagal menikah. Tapi karena mamanya. Saat pertama mengenal mamanya, dia sudah langsung baik padaku. Dia seperti menerima aku apa adanya. Aku langsung merasa memiliki seorang ibu. Aku jadi tahu bagaimana itu rasanya disayang oleh seorang ibu. Makan bersama dengan kedua orang tua yang lengkap tanpa ada pertengkaran. Merasakan bagaimana kalau aku memiliki seorang adik. Tapi ternyata semau yang perempuan itu berikan palsu belaka. Aap aku tidak layak mendapatkan kasih sayang orang tua? Aap aku tidak boleh menganggap orang tua orang lain sebagai orang tua aku sendiri? Dulu dia sendiri yang meminta untuk dipanggil dengan sebutan mama, tapi sekarang dia juga yang melarangnya, merasa jijik dengan panggilan yang keluar dari mulutku. Bersikap seolah aku ini sampah yang merindukan berlian."
Tidak ada lagi jerit histeris meski air mata itu masih mengalir. Mengalir begitu saja seperti rembesan air hujan di tembok putih pucat.
"Apa salah kalau aku ingin memiliki seorang ibu ya g baik seperti dia? Apa aku hanya kebanyakan berkhayal memiliki mertua yang lebih baik daripada ibu kandung sendiri? Aku ... aku tidak sanggup lagi hidup seperti ini, rasanya ingin mati saja."
Freya masih memeluk Nuna, membiarkan gadis itu mengeluarkan semua isi hatinya yang terpendam. Air mata Freya juga mengalir tanpa suara.
Arby yang melihat itu merasa tidak rela. Kenapa Freya harus mengeluarkan air mata karena orang-orang sialan itu? Bagi Arby, air mata Freya sangat berharga.
__ADS_1
Dia jadi teringat saat tadi Chiro melihat Freya.
"Daddy, kenapa wajah mommy terluka seperti ini?" Chiro yang sangat sensitif dengan apa pun yang berhubungan dengan Freya, langsung ikut menangis. Melihat dia orang kesayangannya itu menangis karena perbuatan orang-orang itu, Arby benar-benar menaruh dendam.
...🌼🌼🌼...
Hari ini seharusnya hari pernikahan Nuna dan Dika. Dokter-dokter dan para perawat yang diundang ke pernikahan itu, mengetahui Nuna dan yang lainnya ada di rumah sakit tanpa melakukan apa-apa hanya diam saja, tidak ada yang berani berkomentar. Sejak kemarin juga tidak terlihat kehadiran Dika di sana. Tentu saja mereka bergosip diam-diam, membicarakan pernikahan yang gagal. Pihak Arby juga sudah melarang siapa pun untuk membicarakannya. Freya, Nuna, Nania, Aruna, Rei, Marcell dan Dika melakukan cuti bersama. Bagaimana bisa mereka mengobati pasien di saat keadaan mereka sendiri tidak baik saja. Bahkan mereka baru merasakan efek dari perkelahian kemarin.
Mereka berkumpul di ruangan Freya. Sebenarnya Freya sudah minta pulang dari kemarin, Taki Arby yang protektif tidak mengijinkannya. Dia ingin memastikan kembali kondisi Freya dan calon anaknya.
__ADS_1
Nuna sendiri sepertinya mengalami trauma yang cukup serius. Dia takut untuk keluar kamar itu, setiap kali ada yang datang, dia langsung menutupi wajahnya di belakang siapa pun yang duduk di sebelahnya.
Melihat Nuna yang seperti itu, Ikmal merasa sedih. Freya yang juga seorang psikiater tahu apa yang Nuna alami sekarang, dan ini sangat tidak bagus untuk mental gadis itu.
Saat Nuna tertidur, Freya kembali marah-marah.
"Dasar, yang namanya cowok ya begitu, tuh!"
Para pria melirik Freya dengan kesal.
__ADS_1
Siap-siap saja mereka akan ikut kena amuk perempuan galak itu.