Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
13 Acara Yang Kacau (Edwan Dan Elvira)


__ADS_3

Di rumah Nuna, sedang diadakan acara keluarga, tapi Nuna sendiri juga belum pulang.


Nuna akhirnya tiba juga di rumahnya, melihat banyak mobil mewah berjejer di sana.


"Nuna, akhirnya kamu pulang juga. Papa kan sudah bilang untuk tidak ke mana-mana hari ini."


"Arby, Ikmal? Kalian ngapain di sini?" tanya Nuna.


"Oya, kalian kan satu sekolah. Kamu juga pasti sudah kenal dengan Marcell dan Vian juga, kan?" tanya papa Nuna.


"Mereka ini keluarga tante Elvira. Tante Elvira ini adik kandung ayahnya Ikmal. Jadi, kalau nanti papa sudah menikah dengan tante Elvira, kamu dan Ikmal akan menjadi saudara juga, begitu juga dengan yang lain. Dan mulai sekarang, panggil tante Elvira dengan panggilan mama, ya!"


Nuna mendengkus mendengar perkataan papanya.


"Memangnya aku peduli. Jangan harap aku mau memanggil dia mama. Enggak sudi!"


"Nuna, jaga sikap kamu. Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun?"


"Benar! Aku memang tidak pernah diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuaku. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mamaku tukang selingkuh, dan papaku selalu terbayang cinta masa lalunya!"


Mereka terdiam, mendengar teriakan penuh kekecewaan dari Nuna.

__ADS_1


"Kalau papa mau menikah dengan perempuan itu, aku akan pergi dari rumah ini dan jangan harap bisa bertemu denganku lagi!"


"Nuna ...."


"Diam kamu Ikmal, jangan ikut campur!" teriak Nuna.


"Tapi aku tahu, papa tetap akan memilih perempuan itu kan? Sejak dulu papa dan mama memang seperti itu. Aku tidak pernah menjadi pilihan kalian."


Nuna membanting guci yang ada di dekatnya, tidak peduli pada keluarga papanya dan keluarga Elvira. Dia benar-benar melupakan kekesalan, kebencian, kekecewaan yang selama bertahun-tahun ini dia pendam. Setelah puas, dia langsung masuk ke kamarnya.


Elvira memandang papa Nuna, lalu menghela nafas berat.


Prang


Guci dilempar dari atas, berantakan di lantai bawah itu, untung saja tidak ada yang kena. Ikmal dan Arby saling pandang.


"Kalau Nuna tidak setuju, sebaiknya Om dan Tante jangan menikah," ucap Ikmal.


"Jangan ikut campur Ikmal, kamu masih kecil. "


Tidak lama kemudian Nuna turun kembali dengan membawa kopernya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Nuna?" tanya Edwan, ayah Nuna.


"Papa lebih memilih perempuan itu kan, daripada aku? Dan aku enggak mau punya mama tiri. Aku sudah kenyang memiliki banyak mantan ayah tiri, dan tidak mau memiliki mama tiri juga."


"Non Nuna," ucap bi Sinta.


"Ayo Bi, kita pergi dari sini."


"Non yang tenang ya, kita bicarakan ini baik-baik, jangan pakai emosi, Non."


Bi Sinta dengan lembut menuntun Nuna kembali ke kamarnya.


"Nuna lebih menurut pada asisten rumah tangga, ternyata," celetuk Arby.


Semua memandang Arby, dalam hati mengatakan persetujuan dengan kenyataan itu. Nuna lebih menurut dengan asisten rumah tangga yang sudah mengasuhnya sejak bayi sampai sekarang.


Acara keluarga itu sekarang menjadi kacau. Mereka duduk di sofa dengan pikiran masing-masing.


"Kalau aku bagi Nuna juga enggak mau tuh punya mama tiri," bisik Arby pada Ikmal, namun sangat jelas sampai orang lain masih bisa mendengar.


"Dia pasti berpikir mama tiri itu jahat. Mama tirinya cuma mau sama papanya saja, nanti diam-diam diracun atau diusir dari rumah saat papanya tidak ada di rumah!"

__ADS_1


__ADS_2