Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
89 Gagal


__ADS_3

"Iya, tapi sejak awal aku sudah menolaknya, Dika. Kamu juga pasti tahu kan bagaimana aku?"


Dika mengangguk, tentu saja dia sangat tahu. Dia saja berjuang sangat lama untuk mendapatkan Nuna.


"Maaf Om, Tante, ijinkan aku menikahi anak Om dan Tante. Aku akan berusaha membahagiakan Nuna."


"Tetap tidak bisa," ucap Ara.


Perempuan itu bersikeras untuk menjodohkan Nuna dengan laki-laki pilihannya.


Nuna menatap papanya, berharap kalau pria yang berstatus sebagai sebagai papanya itu akan memihak kepadanya. Tapi Edwan diam saja, dia juga tidak setuju kalau Nuna menikah dengan Dika, tapi dia juga tidak akan setuju kalau Nuna menikah dengan pria pilihan mantan istrinya itu.


Nuna yang tidak mendapatkan pembelaan dari papanya, hanya tersenyum getir. Saat mamanya menikah lagi dengan pria lain, dia diam saja, meski hati memberontak dan terluka. Saat papanya menikah lagi dengan Elvira, dia yang menentang pernikahan itu juga tak pernah dianggap. Dan sekarang, kenapa saat dia akan menikah, mereka berdua begitu kompak untuk menentangnya? Kenapa dia tidak dibolehkan memilih pasangannya sendiri.


"Ayo Dika, kita pergi saja. Percuma bicara dengan orang-orang yang tidak berhati seperti mereka."


"Tapi Nuna ...."


"Ayo!" Nuna menarik tangan Dika. Pria itu mau tidak mau mengikuti langkah Nuna.


"Aku akan tetap menikah dengan Dika. Dan kalian tidak bisa menghalangi aku." Ara hanya mendengkus, dia memandang ketus pada Dika tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Sampai bertemu lagi Om, Tante."


Mereka berdua keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Baru beberapa langkah, Nuna berhenti, dia terlihat berpikir.


"Ada apa?" tanya Dika.

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


Ponsel Dika berbunyi, pria itu melihat siapa yang menghubunginya.


"Selamat siang, Pak?"


"Dika, bisa tidak kamu ke kampus sekarang?"


"Baik Pak, saya akan segera ke sana."


Dika mematikan ponselnya dan memikat Nuna.


"Ayo Nuna, aku langsung antar kamu ke apartemen saja ya, karena aku dihubungi oleh Dekan untuk ke kampus. Atau kamu mau ikut ke kampus dan menunggu aku di sana? Setelah itu kita jalan-jalan."


"Tidak usah, kamu langsung saja ke sana. Biar aku pulang sendiri."


"Sudah, kamu langsung saja ke sana. Aku tidak apa-apa. Lagi pula aku juga ada urusan lain."


"Apa tidak masalah?"


"Tidak apa, sudah sana cepat. Tidak enak kalau ditunggu terlalu lama."


"Biar aku menemani kamu menunggu taksi."


"Tidak perlu. Aku akan di sini sebentar untuk makan."


"Ya Sidah, nanti kalau urusan aku Sidah selesai, aku akan menghubungi kamu."


"Baiklah, hati-hati."

__ADS_1


Setelah Dika pergi, Nuna segera membuka salah satu pintu ruangan VIP.


"Ya ampun, kaget aku," ucap Arby.


"Nuna, kok kamu tahu kita ada di sini?" tanya Ikmal.


Gadis itu mendengkus. Bertahun-tahun kenal dengan mereka, tentu saja Nuna tahu sifat mereka. Bukan masalahnya mereka kepo, tapi mereka itu memang setia kawan dan pasti akan mengkhawatirkan yang lain.


"Gagal lagi!" ucap Nuna sebelum ada yang bertanya. Nuna lalu mencomoti makan mereka, dan memesan makanan yang lain.


"Dah jangan sedih. Bagaimana kalau habis ini kita jalan-jalan saja. Kamu mau ke mana? Kamu yang bebas memilih tempatnya," hibur Freya.


"Ke pantai yuk!"


"Ayoo!" Nania menjawabnya dengan antusias.


Memang sudah sangat lama sekali mereka tidak ke pantai.


"Besok kan hari libur, biar kita menginap saja sekalian," ucap Aruna.


"Sayang, kalau ke pantai kamu tidak boleh memakai baju yang pendek-pendek!" ucap Arby.


"Tapi kita tidak bawa baju."


"Beli saja. Buang-buang waktu kalau Haris pulang lagi."


Para pria itu tentu saja senang sekarang bisa jalan-jalan ke pantai bersama gadis pujaan mereka. Freya lalu menghubungi kakak dan adiknya. Tanpa disangka, yang lainnya malah ikut ke pantai juga.


Nuna segera mengirimkan pesan pada Dika kalau dia dan yang lain akan ke pantai.

__ADS_1


__ADS_2