Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
136 Ajakan Makan Bersama


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak cerita, Freya?"


"Kalau kalian menjadi aku, apa kalian akan mudah menceritakan semuanya?"


Mereka diam, karena tentu saja jawabannya tidak. Bagaimana bisa mereka menceritakan tentang Steve tanpa membuat Nuna menangis?


Berat juga bagi Freya menyimpan ini sendirian. Dia bahkan tidak bercerita pada Arby. Bukan karena tidak percaya, tapi kadang Arby suka ember.


Eh, gimana maksudnya?


Arby mungkin tidak akan cerita pada Nuna, tapi bisa saja cerita pada Ikmal. Mereka berdua pasti akan menatap iba pada Nuna, yang akhirnya membuat gadis itu curiga.


...🌼🌼🌼...


Hari ini, setelah selesai praktek siang harinya, Nuna kembali mengunjungi Steve. Untung saja dia tidak ada praktek di klinik.


"Sebaiknya kamu pindah rumah sakit saja." Bukan karena rumahbsakit ini tidak bagus, tapi agar Nuna bisa terus bertemu dengan Steve dsn memantau kesehatan pria itu.


"Jangan khawatir, keadaan aku sudah baik-baik saja. Dokter bilang, besok aku sudah bisa pulang."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, masa aku bohong."


"Kamu memang tidak bohong, tapi juga tidak jujur." Steve tertawa mendengar perkataan Nuna. Sejak kedatangan Nuna, kondisi Steve semakin membaik. Gadis itu sepertinya menjadi obat yang mujarab bagi pria itu.


Pintu kamar rawat Steve terbuka. Pria dsn wanita dewasa masuk ke kamar itu. Mereka melihat wajah Nuna.


"Wahh, kamu pasti yang namanya Nuna, kan? Ternyata lebih cantik dari yang di foto. Akhirnya mama bisa juga bertemu dengan kamu. Sayangnya kita bertemu di sini."


Mama Steve langsung memeluk Nuna dsn mencium pipi gadis itu. Nuna menjadi tegang. Pengalaman memberikan doa pelajaran yang sangat berharga, kalau kesan pertama bisa saja menipu. Dulu mamanya Dika juga seperti itu kepadanya. Bersikap baik dan sangat ramah. Minta dipanggil mama sama seperti Dika, nyatanya itu hanya langkah pertama untuk menyakiti hatinya.


"Steve besok sudah boleh pulang. Bagaimana kalau kalian semua datang ke rumah untuk makan bersama."


"Iya. Kamu undang sahabat-sahabat kamu ya, Steve. Nuna juga datang ya, sama Freya dsn yang lainnya juga. Mama pasti akan memasakkan makan kesukaan kalian. Steve bilang, kalau kamu suka dengan gado-gado. Freya masih suka makan kue tradisional?"


Nuna tertegun saat mama Steve mengatakan semua itu. Dulu, saat masih di London, mereka memang sibuk membuat makanan kesukaan mereka, dan Steve saat itu juga ikut membantu membuatnya. Bahkan mama Steve sangat tahu apa saja hobi perempuan-perempuan itu.


"Kalian datang ya, jangan sampai tidak datang," ucap papa Steve.


Nuna mengangguk, mau menolak juga tidak sopan.


Ingat Nuna, jangan baper. Siapa tahu saja dia sama seperti mama pria brengsek itu.

__ADS_1


Steve dan kedua orang tuanya bisa melihat Nuna yang sepertinya menjaga jarak.


"Kalau begitu saya pulang dulu, Om, Tante."


"Panggil mama dan papa saja, ya." Nuna tidak menjawab, tapi dalam hati menolak untuk memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa. Siapa yang mau tertipu untuk yang kedua kalinya, meski orang tua Dika dan Steve jelas-jelas orang yang berbeda.


"Nuna!" panggil Ikmal.


"Kamu ngapain di sini?"


"Haris jenguk teman."


"Memangnya kamu punya teman?"


"Kamu kira aku enggak punya teman?"


"Memang enggak, kan? Kamu kan pergaulannya enggak jauh-jauh dari Arby."


"Ck. Aku habis jenguk rekan bisnis aku, dia dirawat di sini."


Nuna hanya manggut-manggut saja.

__ADS_1


__ADS_2