
"Nuna, mau kah kamu menikah denganku? Aku tahu, meskipun kita sudah lama saling mengenal, namun kedekatan kita berdua baru akhir-akhir ini saja. Tapi jangan jadikan itu penghalang hubungan kita."
"Dika, aku ...."
"Nuna, sudah lama aku menyukai kamu. Bahkan sejak kita masih sekolah dasar dulu. Aku selalu memasang kamu diam-diam, mengamati kamu dan selalu mengagumi kamu. Aku akui, aku memang segan untuk dekat dengan kamu saat itu, karena selalu ada Arby dan Ikmal di dekat kamu. Lucu ya, anak SD sudah merasakan rasanya cemburu dan memiliki saingan cinta."
Nuna tertegun mendengarnya. Apa iya dia memiliki pengagum rahasia sejak kecil? Dia jadi teringat Arby dan Freya, yang membuat dia sadar akan cinta masa kecil.
Cinta monyet
Cinta pertama
Atau apa pun istilahnya.
Jantung Nuna berdebar kencang. Namun, semua itu berganti dengan rasa cemas yang mendalam. Berada di lingkungan orang-orang yang memiliki masalah rumah tangga, membuat dia semakin enggan untuk menjalin kasih, apalagi pernikahan.
Tidak perlu jauh-jauh, orang tuanya saja sudah memberikan contoh buruk itu. Hal yang membuat dia trauma yang mendalam, dan sulit untuk sembuh.
Si pemberi luka itu bukan orang lain, tapi kedua orang tua doa sendiri.
Mereka kini hidup masing-masing tanpa saling memikirkan.
__ADS_1
Nuna merasa tak dianggap. Merasa hanya sebagai penerus nama keluarga tapi sesungguhnya tidak pernah diharapkan.
Kakek dan nenek?
Ya, tentu saja dia punya. Masih punya!
Tapi sama saja dengan kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah ada di sisi Nuna.
"Nuna?"
"Maaf, aku tidak bisa."
"Kenapa? Apa kamu sedang memiliki hubungan dengan pria lain? Atau ada pria lain yang kamu cintai dan tunggu?"
"Lalu apa?"
"Kamu tahu sendiri kan, bagaimana keluarga aku?"
Dika kembali teringat akan keadaan keluarga Nuna. Menjadi teman sekolah Nuna saat di Singapura dulu, tentu saja Dika sangat tahu. Nuna yang selalu diejek karena mamanya tukang selingkuh, menjadi pelakor dan tukang kawin cerai.
Nuna yang dibenci bukan karena kesalahannya.
__ADS_1
Nuna yang digunjing dan dicemooh.
Semua masih Dika ingat dengan jelas. Mengingat semua itu, Dika juga tidak menyangka kalau Nuna sekarang bisa menjadi gadis yang sukses. Menjadi seorang dokter spesialis di usianya yang masih sangat muda.
"Aku tahu, tapi aku tidak masalah dengan semua itu, Nuna."
"Kamu mungkin tidak masalah. Tapi bagaimana. dengan kedua orang tua kamu? Dengan keluarga besar kamu? Mereka pasti tidak akan suka dengan aku."
"Nuna, keluarga aku bukan keluarga yang seperti itu. Lagi pula, ini bukan salah kamu. Siapa sih anak yang mau orang tuanya berpisah. Setiap anak pasti ingin memiliki orang tua yang baik, tapi kita tidak bisa memilih, kan?"
Benar, andai saja dia bisa memilih, Nuna pasti memilih orang tua yang lain.
"Nuna, kamu belum mengenal keluarga aku. Mereka tidak akan menilai orang lain sembarangan. Saat ini keluarga aku ada di Singapura, nanti kalau mereka ke sini, aku akan mengenalkan mereka padamu. Kamu pasti bisa akrab dengan mamaku."
Nuna tidak menjawab. Dia hanya ingat nasehat dari para sahabatnya untuk membuka hati. Orang lain gagal, bukan berarti dia juga akan gagal.
"Kalau aku, aku tidak akan ambil pusing jika ada seorang pria yang menyakiti aku. Kalau gagal cari yang lain," nasihat Nania saat itu.
"Heleh, tapi kamu sendiri masih sakit hati kan sama Marcell," celetuk Aruna.
Nania langsung manyun, Marcell memang pria yang menyebalkan bagi Nania, tapi sampai sekarang Nania juga tidak bersama pria manapun.
__ADS_1
"Nuna, kamu dengar aku, kan?" Nuna tersadar dari lamunannya tentang sahabat-sahabatnya.
"Kalau hanya untuk berkenalan dengan keluarga kamu saja, aku tidak masalah."