
Nuna sejak tadi terus saja memasuki satu apartemen ke apartemen lainnya. Apartemen miliknya, milik Freya, Nanao, Aruna dan Rei. Apartemen tempat dia tinggal sejak kembali ke Jakarta. Apartemen yang mempunyai kenang-kenangan antara dia dah para sahabatnya. Nuna tersenyum, tapi juga dalam hati sedih. Tidak bisa dia pungkiri kalau dalam hatinya ada rasa berat meninggalkan statusnya selama ini, menjadi seorang istri, meninggalkan Nania dan Aruna saja berdua. Bukan karena dia belum siap, hanya saja dia sudah terbiasa dengan kehidupannya sebelumnya. Dia yang dulu bersikeras untuk melajang seumur hidup, kini malah akan menikah, mendahului sahabatnya yang lain.
Nuna membuka ponselnya, di sana ada banyak foto terbaru.
Foto saat dia dan Dika fitting baju pengantin. Di sebelah kanannya berdiri Dika, dan di sebuah kirinya berdiri Ikmal. Tapi ada juga foto mereka tanpa Dika, ini permintaan Freya sebagai kenangan yang mungkin tidak bisa terulang lagi.
Kemarin pun mereka masih foto bersama, dengan wajah sembab karena kebanyakan menangis.
Pintu apartemen terbuka dengan keras, mengagetkan dirinya.
"Ayo Nuna!" Freya menarik tangan Nuna, begitu juga dengan Nania.
"Ada apa sih, buru-buru banget."
"Kamu dari tadi kami cari ternyata ada di sini."
Freya mengemudikan mobilnya dengan cepat.
"Freyaaa, pelan-pelan. Ingat kamu lagi hamil. Kalau sampai Arby tahu bisa mampus kita semua dibacok sama dia."
__ADS_1
Arby dan yang lain, yang baru saja tiba melihat mobil Freya melaju dengan kencang.
"Anjir! Kita keduluan mereka. Itu si My Bebeb ngebut begitu. Buruan kejar!"
Ikmal menancap gas. Mereka yang ada di mobil itu mulutnya komat-kamit berdoa, sambil dalam hati mengagumi cara Freya membawa mobil.
Freya melirik kaca spionnya, mendengus saat tahu di belakangnya ada Arby cs.
"Freya, kamu kenapa? Apa ada masalah dengan Arby? Ingat Freya, bicarakan baik-baik, besok aku juga akan menikah." Mendengar itu bukannya membuat Freya memelankan laju mobilnya, malah membuat perempuan itu seperti orang kesetanan.
Sekarang Nuna baru paham, kenapa calon pengantin diharapkan untuk tidak ke mana-mana menjelang pernikahannya, karena kejadian buruk bisa saja menimpa.
Rei, Nania, dan Aruna yang duduk di belakang saling pandang. Mereka memejamkan mata dengan banyak doa dan jantung berdetak tak karuan. Benar-benar khawatir dengan kejadian buruk yang akan terjadi hari ini.
Jantung Arby berdetak tak karuan. Untung saja Chiro sudah dia titipkan ke kedua orang tuanya.
"Buruan napa, Mal!"
"Buruan, buruan. Ini juga sudah cepat, kamu mau aku ngebut gimana lagi? Muka kamu saja sudah pucat, tuh!"
__ADS_1
Ikmal mencengkram kemudinya hingga urat-urat di tangannya menonjol. Dalam hati dia terus saja memaki.
Para pria yang duduk di belakang masih tidak mengerti kenapa semua ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi, mereka sekarang tidak mungkin diam saja.
Freya memukul setirnya karena jalanan cukup padat. Sejak tadi mulutnya terus saja memaki.
"Ingat Freya, kamu lagi hamil."
Freya hanya melirik Nuna, tanka mengatakan apa-apa. Ponsel mereka juga tak hentinya berbunyi. Nuna yang tadi tidak sempat membawa ponselnya karena pergi secara dadakan, berharap kalau mereka akan tiba di tempat tujuan dengan selamat, meski dia tidak tahu ke mana mereka akan pergi.
.
.
.
.
Kenapa sih, kenapa sih, ada apa sih?
__ADS_1
Tunggu bab selanjutnya 🤭
Like dan komen yang banyak biar aku semangat update. Jangan biarkan cerita ini sepi, sesepi hati mereka yang masih menunggu jodoh masing-masing, kecuali yang udah laku🤣🤣🤣