Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
71 Seperti Ibu Kandung


__ADS_3

"Wajahnya memang mirip dirimu, tapi aku harap sifatnya tidak seperti dirimu! Menyebalkan!"


"Kalau aku menyebalkan, terus kamu apa? Menyenangkan?"


"Kamu ini, sudah tua bukannya mengubah sikap."


"Kalau aku tua, kamu lebih tua lagi. Apa sikap kamu selama ini sudah berubah?"


Kepala Nuna berdenyut sakit mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, apalagi dilaku di depan sahabat-sahabatnya. Ini sungguh memalukan. Apa mereka berdua tidak memikirkan dirinya?


"Cukup! Kalian sudah bercerai tapi kenapa masih sama saja? Kenapa masih saja bertengkar di hadapan aku? Apa kalian tidak punya rasa malu sedikit pun?"


Nuna langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya, yang disusul oleh Aruna, Nania, dan Rei. Bahkan Nuna masih bisa mendengar kedua orang tuanya yang masih saling menyalahkan.


Nuna memilih duduk di taman rumah sakit untuk menghilangkan rasa kesalnya. Tidak lama kemudian Ikmal datang dengan membawa minuman dingin. Ikmal sebenarnya tahu apa yang terjadi di kafe tadi, tapi dia tidak mau komentar apa-apa.


"Siapa yang menemani Freya?" tanya Nuna.


"Sudah pasti Arby. Dia tidak pernah sehari pun meninggalkan Freya dalam jangka waktu yang lama."

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


Sudah cukup lama Freya memejamkan matanya. Nuna masih setia menginap di rumah sakit, begitu juga yang lain.


"Dia sadar, dia sadar!" teriak Arby.


Nuna merasa udara sejuk memasuki paru-parunya. Akhir ya apa yang dia tunggu terjadi juga. Ingin sekali dia memekik Freya, tali berusaha dia tahan.


Dokter Sidah memeriksa kondisi Freya, namun mengatakan harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena penyakit serius yang Freya alami.


"Kalian siapa?"


Deg


Lagi ....


Terjadi lagi


Freya kembali tidak mengingatnya. Sakit memang, tapi setidaknya Freya sudah sadar. Bukan berarti Freya melupakan mereka sepenuhnya, tapi Freya memang kadang mengingatnya, kadang melupakan mereka.

__ADS_1


Beberapa hari sudah berlalu, Freya memang belum diijinkan pulang, karena kondisinya yang memang tidak memungkinkan dia untuk pulang. Saat ini mereka semua berkumpul di ruangan Freya.


Pintu ruangan terbuka, Dika datang bersama mamanya.


"Mama," panggil Nuna dengan cerah.


Ini untuk yang kedua kalinya mamanya Dika datang menjenguk Freya. Yang pertama kali, saat Freya masih belum sadarkan diri.


"Freya, ini mamanya Dika."


Freya diam saja, karena bingung siapa itu Dika?


"Cepat sembuh ,ya. Nuna sering sekali bercerita tentang kamu."


Ikmal melihat interaksi Nuna, Dika dan mamanya. Memang terlihat kalau Nuna merasa senang akan kehadiran mamanya Dika. Gadis itu bahkan tidak segan merangkul lengan mamanya Dika.


Dika melirik Ikmal, yang dia anggap sebagai saingannya. Meskipun Nuna berkali-kali mengatakan kalau dia dan Ikmal hanya bersahabat, entah kenapa hati Dika tetap tidak tenang. Egois memang, tapi dia ingin hanya dia pria yang boleh dekat dengan Nuna. Pria yang selalu dibutuhkan oleh Nuna, dan pria tempat Nuna berkeluh kesah dan bersandar. Tidak peduli kalau Nuna dan Ikmal sudah kenal lebih dulu sebelum kehadirannya.


Mama Dika juga berbincang-bincang dengan sahabat-sahabat Nuna, dan mengupaskan buah untuk Freya. Nuna tentu saja senang, karena mamanya Dika bisa menerima sahabat-sahabatnya dengan baik. Seolah dia memiliki ibu kandung yang sedang mengakrabkan diri dengan mereka.

__ADS_1


Berbeda dengan ibu kandungnya sendiri.


Nuna kembali menghela nafas, selalu saja ada hal yang akan membuat dia mengingat kedua orang tuanya itu.


__ADS_2