
Dika mengepalkan tangannya, dia dsn keluarganya lalu pergi dengan membawa rasa malu.
...🌸🌸🌸...
Steve memegang dadanya yang terasa sakit. Dia berusaha mengambil obat yang ada di dalam laci samping tempat tidurnya. Pria itu baru saja mendapatkan kabar buruk, kalau perusahaan papa angkatnya sedang mendapatkan masalah besar. Belum sempat dia meminum obat itu, pria itu sudah tidak sadarkan diri.
Di dalam ruang kerjanya, papa Steve sedang bicara dengan tangan kanannya. Dia mengusap keningnya, merasa pusing dengan keadaan ini. Masalah yang tiba-tiba saja terjadi. Penggelapan dana yang dilakukan oleh salah satu karyawannya, membuat perusahaan harus menanggung kerugian yang sangat besar. Dia merasa lelah, baru saja dia berniat menyerahkan urusan perus sepenuhnya kepada Steve, tapi masalah malah terjadi. Dia tidak mungkin membebankan semua masalah ini kepada pria itu, apalagi kondisi kesehatan Steve juga tidak baik. Meskipun Steve bukan anak kandungnya, tapi Steve sudah dia anggap anak. Dia juga sangat yakin dengan kemampuan pria itu.
Mama Steve sedang memasak. Meskipun perusahaan sedang tidak baik-baik saja, itu tidak akan membaut dia menangis seharian di dalam kamar, karena takut miskin. Dia percaya dengan kemampuan suaminya. Percaya dengan anak perempuannya dan menantunya, juga tentu saja percaya pada Steve. Yang penting keluarganya sehat-sehat saja, termasuk Steve. Harta masih bisa dicari, tapi kesehatan sangat penting.
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu memasak menu kesukaan keluarganya. Steve menyukai apa saja, tidak ada makan yang spesial yang dia suka. Semua masakan perempuan itu selaku gadis Steve makan. Dia menyayangi Steve, meski pria itu tidak lahir dari rahimnya.
Dia menuju lantai atas, untuk memanggil Steve.
"Sayang, makan malam sudah jadi. Ayo makan dulu." Beberapa kali perempuan itu mengetuk, tapi tidak ada jawaban. Dibukanya pintu kamar Steve.
__ADS_1
"Steve! Papaaa!"
Suara teriakan itu membuat orang-orang bergegas ke kamar Steve.
"Steve?" Mereka lalu memanggil ambulans.
...🌼🌼🌼...
Nuna berlarian di koridor rumah sakit menuju ruang UGD. Di belakangnya menyusul Nania dan Aruna. Mereka juga sudah menghubungi yang lain. Di saat seperti ini, Nuna tentu saja membutuhkan mereka. Air mata gadis itu terus saja menetes. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Steve.
Di depan pintu UGD, semua anggota keluarga Steve sudah ada.
Tidak lama kemudian Freya dan Arby datang, disusul oleh yang lain. Keluarga Steve yang melihat kehadiran mereka, merasa kagum dengan kekompakan itu.
"Apa apa, kenapa Steve bisa drop?" tanya Freya.
__ADS_1
"Mungkin karena masalah perusahaan."
"Memangnya ada apa?"
Papa Steve tidak langsung menjawab, aap harus dia cerita?
"Tidak apa, Om. Katakan saja, siapa tahu kami bisa membantu," ucap Ikmal.
Papa Steve lalu menceritakan apa yang terjadi.
"Om jangan khawatir, kami akan membantu."
"Apa? Benarkah?"
"Tentu saja. Steve adalah teman kami juga. Mama mungkin kami diam saja saat keluarganya tertimpa masalah."
__ADS_1
Para pria itu, lalu menghubungi beberapa orang untuk membantu semua hal tanpa ada yang terlewat. Mico sendiri langsung menghubungi anak buahnya, ada yang disuruh menyelidiki dalang kejadian ini, ada juga yang disuruh membantu tim kuasa hukum papa Steve dan mengurus di kepolisian.
Sungguh, keluarga Steve merasa beruntung.